Bagi pasangan yang baru menikah, masa kehamilan boleh jadi yang paling dinanti-nanti. (Foto Ilustrasi: Mon Petit/Unsplash.com)
Bagi pasangan yang baru menikah, masa kehamilan boleh jadi yang paling dinanti-nanti. (Foto Ilustrasi: Mon Petit/Unsplash.com)

Mengenal Tokophobia, Ketakukan Perempuan saat Kehamilan dan Melahirkan

Rona kehamilan
Dhaifurrakhman Abas • 03 Januari 2019 07:00
Jakarta: Bagi pasangan yang baru menikah, masa kehamilan boleh jadi yang paling dinanti-nanti. Terang saja, Anda sebentar lagi punya tanggung jawab baru; menjadi orang tua.

Tak ayal, masa kehamilan seringkali membuat calon ibu dan ayah ini mengalami fase perubahan emosional dalam hidupnya. Umumnya menjadi semakin dewasa, adapula yang sedikit was-was.

Namun rupanya ada sebagian orang yang benar-benar ketakutan dengan masa kehamilan. Alih-alih menjadi pengalaman yang menyenangkan, masa kehamilan justru dianggap menghawatirkan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Ya. Ini adalah fobia nyata, yang dikenal sebagai Tokophobia. Sebuah ketakutan patologis yang muncul dalam dua kategori, primer dan sekunder. Tokophobia primer merujuk pada perempuan yang tidak pernah melahirkan, tetapi mengembangkan rasa takut melihat  proses kehamilan dan melahirkan. Efek Tokophobia primer bahkan disandingkan setara dengan gejala Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Di sisi lain, Tokophbia sekunder adalah pengalaman melahirkan yang traumatis. Bisa terjadi ketika perempuan mengalami kematian janin atau keguguran.

Lebih parahnya, rasa trauma membuat sebagian perempuan menghindari kehamilan dengan cara tak lagi ingin melakukan hubungan seksual dengan pasangannya.

Meskipun kondisinya jarang ditemukan, menurut Times of India, ada sekitar 7% perempuan yang menderita Tokophobia. Apalagi zaman sekarang ini melihat pengalaman melahirkan dapat ditemukan mudah di media sosial. Dikhawatirkan persentase sindrom traumatis ini justru akan meningkat.

Lantas, bagaimana cara mengobatinya? Sebagian besar perempuan dapat mengatasi dengan caranya sendiri.

Terkadang, dukungan dari dokter dan keluarga mampu menghilangkan efek tersebut. Anda juga bisa mendatangi konseling untuk mendapatkan efek penyembuhan yang lebih cepat.

Di lembaga konseling nantinya para ahli akan mencari tahu tingkat rasa takut yang diderita oleh pasien. Untuk itu diperlukan kerjasama dari pasien agar tim konseling mengetahui tanda-tanda depresi, serta terapi apa yang cocok diberikan kepada pasien.

Pentingnya Nutrisi dalam Masa Pra Kehamilan



(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi