Tugas orang tua membesarkannya tidak hanya menjadi orang dewasa yang berempati dan bermoral. (Foto: Pexels.com)
Tugas orang tua membesarkannya tidak hanya menjadi orang dewasa yang berempati dan bermoral. (Foto: Pexels.com)

Tips agar Anak Jadi Pribadi Toleran

Rona keluarga
Anda Nurlaila • 11 Maret 2019 09:51
Anak-anak adalah makhluk yang baik dan penuh kasih sayang. Tugas orang tua membesarkannya tidak hanya menjadi orang dewasa yang berempati dan bermoral. Selain itu, kita perlu mendidik mereka tentang memisahkan moralitas dari penilaian.
 

Jakarta:
Anak yang tumbuh berperilaku baik dan memiliki pikiran terbuka merupakan harapan semua orang tua. Namun seringkali tanpa sadar orang tua menanamkan sikap suka menyalahkan dan menghakimi orang lain. 
 
Secara naluriah, semua orang memiliki norma dan prinsip pribadi. Karenanya, kita seringkali menuduh orang lain yang tampak berbeda atau tidak sesuai dengan norma atau moralitas yang dimiliki dengan label 'salah'.  

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hal ini juga yang ikut terbawa pada saat mendidik anak. Kurangnya empati dan kasih sayang, ditambah dengan sedikit atau tidak ada pemahaman tentang banyak hal membuat menghakimi orang lain dan menurunkannya pada anak-anak terhadap rasa toleransi. 
 
Anak-anak adalah makhluk yang baik dan penuh kasih sayang. Tugas orang tua membesarkannya tidak hanya menjadi orang dewasa yang berempati dan bermoral. Selain itu, kita perlu mendidik mereka tentang memisahkan moralitas dari penilaian.
 
(Baca juga: Cara Membesarkan Anak Kuat tapi Bukan Perundung)
 
Tips agar Anak Jadi Pribadi Toleran
(Tugas orang tua membesarkannya tidak hanya menjadi orang dewasa yang berempati dan bermoral. Foto: Pexels.com)
 
Ada beberapa cara agar anak tumbuh tanpa jadi pribadi yang suka menghakimi orang lain, antara lain:

1. Pikirkan sebelum mengatakan "Itu benar!"

Paling sering, frasa "itu benar" berarti hal tersebut dapat diterima secara sosial. Saat anak bertanya Apakah pria hanya dapat menikahi wanita? Jika orang tua langsung menjawab "Itu benar" secara tidak langsung Anda mengajari anak menghakimi para pelaku homoseksual.
 
Daripada langsung membenarkan karena sesuai dengan moralitas yang dimiliki, lebih bijak mengatakan "Secara aturan agama yang ibu/ayah percaya dan moral di masyarakat hal itu benar dan saya setuju. Namun ada yang tidak mengikuti aturan di masyarakat tersebut dan itu pilihan mereka." 

2. Pikirkan sebelum mengatakan "Itu salah!"

Saat mengatakan itu salah, artinya tidak setuju terhadap sesuatu. Jika anak yang berada di TK mengatakan temannya masih minum susu di botol, dan bertanya apakah itu salah. 
 
Lebih baik menjelaskan pemikiran dan keyakinan Anda daripada memberi penilaian atas tindakan ataupun orang yang tidak dikenal. Lebih baik menjawab, "Minum susu dari botol tidak salah. Tapi menurut ayah/ibu, kalau sudah besar seharusnya minum dari gelas."

3. Perkenalkan anak kepada orang-orang dan lingkungan berbeda

Salah satu cara untuk membuka pikiran anak adalah dengan memperkenalkannya ke berbagai jenis orang dari berbagai lapisan masyarakat. Orang-orang miskin, tunawisma, anak-anak yang belajar di sekolah negeri, anak-anak yang autisme dan sebagainya. 
 
Semakin mereka melihat orang tuanya berinteraksi dengan baik dengan berbagai jenis orang, semakin baik mereka dalam menerima perbedaan dan bertoleransi.

4. Kenalkan anak pada budaya lain 

Hidup dalam masyarakat global membuat masa depan anak bisa berbeda dengan apa yang dialami orang tuanya. Jadi, penting untuk memperkenalkannya ke budaya yang berbeda. Apa yang dapat diterima dalam satu budaya bisa menjadi tabu dalam budaya lain. Dan sebaliknya. Melalui perjalanan dan cerita, pastikan anak Anda memahami perbedaan-perbedaan ini.

4. Rayakan perbedaan

Anak mengerti tiap orang dan budaya berbeda. Jadi, mereka masih dapat bersikap dan menjalani hidup sesuai keyakinan yang ditanamkan orang tua dan namun memahami adanya perbedaan-perbedaan. 
 
Yang lebih penting daripada memahami adalah merayakan perbedaan-perbedaan ini. Jika bertemu atau melihat budaya atau orang yang berbeda, coba tanyakan kepada anak mengapa ia merasa orang tersebut berbeda? Katakan padanya tidak apa-apa untuk berbeda, perbedaan itulah yang membuat dunia menarik. 
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif