Mengenal Arief Rahman, bapak dari Tamma Arzuna Rahman  dan Hazeera Hijralia Rahman yang memulai bisnis durian dari nol. (Foto: Dok. Medcom.id/Dhaifurrakhman Abas)
Mengenal Arief Rahman, bapak dari Tamma Arzuna Rahman dan Hazeera Hijralia Rahman yang memulai bisnis durian dari nol. (Foto: Dok. Medcom.id/Dhaifurrakhman Abas)

Cerita Sukses Sang Juragan Durian

Rona kisah durian wak roban
Dhaifurrakhman Abas • 14 Juli 2019 12:13
Bertempat di sebuah bangunan tepat hook Jalan Meruya Ilir terdapat tumpukan kulit durian. Bertulis Kedai Duren Wak Roban kuning di dasar tembok warna hitam. Puluhan buah durian utuh di kiri dan kanan pintu masuknya bisa bikin "gila" penyuka durian. "Cobalah untuk tidak menjadi orang yang sukses, tapi jadilah seorang yang bernilai," Albert Einstein jadi salah satu kutipan manis penghias dinding. Mengenal Arief Rahman, bapak dari Tamma Arzuna Rahman dan Hazeera Hijralia Rahman yang memulai bisnis dari nol.
 

Jakarta: Kedai Durian Wak Roban, di Jakarta Barat mulai sepi ketika jarum jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. Hanya tiga pengunjung yang masih setia nongkrong pada Jumat malam itu.
 
Tak berapa lama, satu truk besar tiba di depan kedai. Dua orang pria tampak bergegas keluar dari truk dan menghampiri kasir. Mereka berbincang soal kardus-kardus besar lengkap dengan alamat pengiriman yang bertumpuk di sisi ruangan.
 
“Jakarta, Sulawesi, Soekarno Hatta,” begitu tulisan yang tertera di beberapa kardus itu.
 
Tak lama berbincang, dua pria itu mulai mengangkat kardus ke dalam truk. Sebelum berangkat, kepala mereka terlihat mengangguk ketika seorang pria lainnya turun dari tangga yang berjarak dekat dari pintu keluar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Mari, mas Arief,” ujar salah satu pengemudi truk.
 
Anggukan pengemudi truk dibalas. Dia adalah Arief Rahman. Bersama sang istri, Zulia Laraswati, pasangan ini merupakan pendiri Kedai Durian Wak Roban yang kian populer. Tak hanya di ibu kota, durian Wak Roban sudah merambah pula-pulau sebrang hingga negara tetangga, Malaysia.
 
Arief inilah yang menjadi alasan kami berada di kedai sejak tadi. Kami pun mulai berbincang panjang lebar soal bisnis yang dia dirikan dari nol. 

Awal bisnis Wak Roban

Ketika berbincang dengan kami, Arief mengaku tidak pernah bercita-cita jadi pengusaha duren. Terpikir saja tidak. Malahan waktu kecil dulu, Arief kepingin bekerja di balik layar industri hiburan.
 
"Kayaknya keren banget kerja di bagian entertainment," kata Arief mulai membuka perbincangan dengan Medcom.id.
 
Tapi durian tampaknya sudah jadi jodohnya. Sejak kecil, Arief gemar mampir ke ladang durian milik kakeknya di Kabupaten Asahan, Sumatra Utara. Ladangnya luas, begitupun pohon-pohon durian yang berbuah lebat.
 
Saat masih bocah, ladang kakeknya ini sering dia jadikan tempat berlari dan main petak umpet. Bersama teman-teman sebaya di kabupaten Asahan, ladang ini jadi tempat favorit untuk bersinggah sejenak.
 
“Dari situ jadi terbiasa dengan durian. Jadi tahu mana yang kualitasnya bagus mana yang enggak," kenang Arief.
 
Meski demikian, minat bekerja di bagian entertainment tak bisa dibohongi. Dia bekerja keras setiap hari agar cita-citanya tercapai.
 
"Tapi pas kuliah malah ambil jurusan arsitek,” ujar Arief terbahak-bahak.
 
Cerita Sukses Sang Juragan Durian
(Durian bagi Arif bukan hal baru lagi. Sejak kecil, Arief gemar mampir ke ladang durian milik kakeknya di Kabupaten Asahan, Sumatra Utara. Walau awalnya ingin bekerja di bidang entertainment, tapi nasib baik mempertemukan Arief lagi dengan durian, dan sukses jadi juragan durian di Jakarta. Foto: Dok. Medcom.id/Dhaifurrakhman Abas)

Luntang-lantung

Usai menyelesaikan masa kuliah, minat bekerja di bidang entertainment tetap prioritas. Dia coba-coba melamar kerja ke Jakarta.
 
Kerja kerasnya berhasil, lamarannya tembus. Sekitar Januari 2011, dia dipanggil ke ibu kota buat mengikuti wawancara kerja di Multi Dimensia (MD) Entertainment.
 
“Ini excited banget kan. Enggak ada duit waktu itu, tapi memberanikan diri aja ke Jakarta,” ujarnya.
 
Bermodal nekat dan beberapa ratus ribu rupiah di dompet, Arief tiba di Jakarta. Wajah ibu kota sudah mulai gelap ketika dia sampai. Sementara besok, pagi-pagi sekali, dia sudah harus mulai wawancara kerja.
 
“Sampai Jakarta malem. Besok paginya harus udah interview. Di Bagian Asisten produksi film,” katanya.
 
Proses penerimaan kerja tidak berlangsung dalam satu hari. Dia diminta menunggu maksimal tiga hari untuk wawancara lanjutan. Sialnya, sudah sepekan menunggu, kabar dari pemberi lowongan tidak jua datang. Arief mulai pesimitis.  
 
“Sampai dua minggu merasa enggak jelas nih. Akhirnya tak telepon buat nanya status lamaran saya,” ujarnya pening.
 
Malang tak boleh ditolak, mujur tak bisa diraih. Arief gagal meraih impiannya bekerja di bidang entertainment. Lamarannya ditolak. Hatinya hancur.
 
“Bayangkan saya di Jakarta enggak ada saudara. Uang menipis,” ungkap dia.
 
Meski begitu, Arief urung balik kampung. Dipikirnya lowongan kerja di ibu kota lebih melimpah ruah ketimbang di kampung halaman. Jadi ia urungkan pulang kampung dan memilih bertahan di Jakarta sambil luntang-lantung.
 
“Akhirnya, kesimpulannya, ya sudah, bertahan dulu di Jakarta. Sambil berusaha minta kerja sama kenalan di sini. Buat bertahan hidup aja. Akhirnya ya dapat kerja jadi crew event organizer,” kenangnya.

Meroket

Empat bulan hidup luntang lantung di kota orang bikin semangatnya goyah. Duit semakin menipis. Kerjaan mulai tidak jelas. Di tengah kegalauan itu, dia coba bertahan sebentar lagi, sambil menanti kabar dari pemberi lowongan pekerjaan.
 
Pucuk dicinta, ulam tiba. Penantiannya selama ini terbayar sudah. Sekitar bulan April 2011, Arief mendapat kabar dari temannya perihal lowongan pekerjaan. Katanya, salah satu bank BUMN membuka lowongan untuk posisi teller di Jakarta Barat.
 
“Ketika itu udah hopeless. Pas mau pulang kampung, ada teman yang nawarin coba aja melamar, ada lowongan kerja di bank,” ujarnya.
 
Benar saja. Lamaran Arief tembus. Setelah melewati beragam tes, Arief diterima bekerja di bank sebagai pegawai kontrak. Gajinya tak seberapa, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di kota orang. Singkat cerita, Arief yang saat itu menjabat sebagai teller bank berhasil diterima menjadi karyawan tetap.
 
“Senangnya luar biasa. Apalagi keluarga di kampung, kan. Bagi perantau ya itu luar biasa,” ujar Arief.

Melepas rindu

Sudah dua tahun Arief bekerja di Jakarta. Pada 2013, ia memutuskan berlibur sejenak ke kampung halaman. Liburan kali ini cukup spesial. Tidak hanya untuk melepas rindu, tapi juga bertujuan mengenalkan kekasihnya, Zulia Laraswati, ke orang tua Arief.
 
Ya, silaturahmi lah,” kata Arief malu-malu.
 
Di kampung, Arief sempatkan mengajak sang kekasih keliling kota Medan sambil berwisata kuliner. Semua makanan khas Sumatra Utara mereka cicipi. Dia juga mengajak kekasihnya bertemu Dimas, sahabat karib Arief sejak kecil.
 
Nah, Dimas ini dulu yang minjemin duit pas lagi kering di Jakarta,” ujar Arief tertawa lebar.
 
Kata Arief, Dimas bak juragan durian. Dia tahu ke mana harus mencari durian Medan yang enak, dan berkualitas, tapi tidak bikin kantong bolong.
 
Jadi mereka bertiga memutuskan berkeliling kota sambil mencicipi durian Medan yang terkenal karena rasanya yang nikmat itu. Tak lupa mereka menikmari pancake durian yang kala itu tengah booming.
 
“Si Dimas bilang, ada salah satu tempat pancake durian di Medan yang enak. Di sana saya coba pancake durian pertama kali,” ujar dia.
 
Rasa dan tekstur durian yang lezat itu bikin Arief ketagihan. Bahkan sekembalinya ke Jakarta, rasa pancake yang molek itu tak mau hilang dari pikiran.
 
“Akhirnya kami (Arief dan Zulia) putuskan, kenapa enggak jualan durian di Jakarta saja ya?” pikir dia.  
 
Cerita Sukses Sang Juragan Durian
(Ada satu wajah yang terbayang ketika Arief dan Zulia memikirkan brand yang cocok. Tetiba dia terkenang ayahnya yang karib dipanggil Wak Roban di kampung halaman. Foto: Dok. Medcom.id/Dhaifurrakhman Abas)

Menjajal bisnis baru

Tak butuh waktu lama, Arief beserta kekasihnya sepakat menjajal bisnis baru. Behubung keduanya masih bekerja, jadi mereka putuskan jualan durian sebagai bisnis sampingan. Mereka mulai dengan menjual kembali produk durian yang mereka beli.
 
"Akhirnya kita reseller. Kita coba jualin lagi produk pancake durian orang, dan ternyata dibolehkan oleh si penjualnya," katanya.
 
Mulanya Arief beli beberapa boks pancake durian. Dia buka penjualan dengan menawarkan satu boks gratis durian ke rekan-rekan kerja. Tak tahunya, banyak yang suka durian. Jadi pada boks kedua dan seterusnya, Arief beserta kekasihnya mulai menjajal bisnis ini.
 
"Sayangnya untung kami tipis. Reseller juga bertahan beberapa minggu. Pada akhirnya kami putuskan bikin pancake sendiri," sambung dia.
 
Dimas, si juragan durian Medan lantas dihubungi. Kebetulan Dimas punya banyak stok durian. Mereka sepakat mengambil sekitar 10 kilogram buah durian dari Medan untuk dikirim ke Jakarta. Modalnya waktu itu hanya Rp700 ribu.
 
"Setelah kami cari bagaimana sistem kargo dan sebagainya, durian sampai tujuan," sambung dia.
 
Sayangnya, Arief dan kekasihnya, Zulia, tidak punya pengalaman meracik durian. Mereka sempat bingung ketika 10 kilogram durian Medan itu tiba di Jakarta. Selang beberapa saat, Zulia dapat ide. Mereka mulai meracik formula pancake durian.
 
"Kita ingat waktu itu pancake durian lagi booming. Raditya Dika (penulis) juga seinget saya jadi brand ambasador celebrity pancake. Jadi kita mulai dari sini," kenang dia.
 
Lantas keduanya buru-buru membeli adonan, alat dekorasi makanan dan menyalakan komputer. Mereka ketik di laman internet dan YouTube tentang 'bagaimana cara membuat pancake durian?'
 
Pada racikan pertama, kedua dan ketiga, mereka gagal. Tekstur pancake durian yang mereka bikin amburadul. Mafhum, mereka amatir dalam bidang tata boga.
 
Tapi tak masalah, tanpa putus asa, dua sejoli tetap mencoba meracik sampai sempurna. Meskipun saat itu keduanya masih punya tanggung jawab bekerja di perusahaan masing-masing.
 
"Awalnya bentuknya hancur. Lama-lama bisa, lumayan. Dengan tekstur yang apa adanya saat itu kita jual aja. Bentuknya masih kotak-kotak," kenang dia.
 
Bisnis rupanya berjalan mulus. Ramai-ramai rekan kerja membeli pancake durian hasil karya Arief dan Zulia. Berawal dari pendapat yang pas-pasan, bisnis ini kian berkembang dengan penghasilan yang cukup memukau.
 
"Kita jual ke teman-teman. Sambil learning by doing. Dulu saya cuma margin seribu. Lama-lama naik 20 ribu dan seterusnya," ujar dia.
 
Lambat laun bisnis durian Arief semakin tenar. Mereka memanfaatkan perkembangan teknologi BlackBerry Messenger untuk membuka jaringan penjualan. Hasil karya dua sejoli mulai digemari hingga luar pulau Jawa.
 
"Kita mulai kemas dengan bagus dan profesional. Dan saat itu mikir, kayaknya kita perlu mikirin brandnya," ujar dia.

Wak Roban

Ada satu wajah yang terbayang ketika Arief dan Zulia memikirkan brand yang cocok. Tetiba dia terkenang wajah ayahnya yang karib dipanggil Wak Roban di kampung halaman. 
 
"Kita pikir Wak Roban saja. Nama ayah, karena unik," katanya.
 
Wak Roban juga sering membantu Arief dan Zulia mengerjakan pancake durian. Jadi, sebagai bentuk rasa sayang dan hormat, Arief dan Zulia semakin mantap bikin brand dengan nama Wak Roban. 
 
Lagipula 'wak' diambil dari bahasa Medan yang berarti 'om' atau saudara bapak maupun ibu yang lebih tua. Di medan, 'wak' juga sering digunakan masyarakat ketika saling tegur sapa. Ini juga sesuai dengan bahan baku pancake durian yang berasal dari Medan. Jadi katanya, agar ada unsur Medan, Wak Roban jadi nama paling sesuai.
 
"Tapi sebelumnya izin dulu ke orang tua. Akhirnya dapat izin alhamdulillah. Kita buat logonya dari karikatur. Lalu ambil wajah ayah saya," ungkapnya.
 
Logo Wak Roban mulai digaungkan dan lambat laun dikenal publik. Begitupun menu yang dijual Wak Roban. Seiring berjalannya waktu, Arief bersama kekasihnya mulai mengembangkan menu makanan Wak Roban.
 
Tidak hanya pancake durian, kini kedai yang berlokasi di Jalan Meruya Ilir No. 54, Jakarta Barat ini punya ragam menu menarik. Ada nasi goreng, bakso, camilan, hingga ragam menu minuman khas.
 
"Dengan harga makanan dan durian kisaran Rp15 ribu sampai Rp100 ribu. Dan minuman Rp4 ribu sampai Rp15 ribu," ungkapnya.
 
Sayangnya, Arief enggan menurutkan berapa keuntungan yang dia dapatkan dari bisnis yang bermula dari coba-coba ini. Dia hanya mengungkap, "Modalnya cukuplah buat membuka toko, merekrut karyawan, sama modal menikah dengan istri saya (Zulia Laraswati) tahun 2014 lalu," tandasnya.
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif