tema khusus rona

Balada Melepas Karier demi Mengurus Si Kecil

Sri Yanti Nainggolan 14 Agustus 2018 16:59 WIB
keluarga
Balada Melepas Karier demi Mengurus Si Kecil
Tak sedikit wanita yang memutuskan berhenti bekerja untuk fokus mengurus si kecil. Berbagai hal menjadi penyebabnya. (Foto: Priscilla Du Preez/Unsplash.com)
Jakarta: Tak sedikit wanita yang memutuskan berhenti bekerja untuk fokus mengurus si kecil. Berbagai hal menjadi penyebabnya. 

Menurut psikolog anak dan keluarga Ayoe Sutomo, situasi yang tak memungkinkan menjadi pemicu mayor dalam mengambil keputusan tersebut. 

"Biasanya, kembali bekerja setelah melahirkan berarti masuk ke situasi kerja dan tanggung jawab baru, tak hanya sebagai istri bekerja lagi tetapi juga ibu bekerja," tukasnya saat dihubungi Medcom.id baru-baru ini. 


Adanya tanggung jawab baru, yaitu mengurus anak, tak jarang membuat ibu merasa kesulitan membagi peran sebagai pekerja dan orang tua. Ketidaksiapan dan proses adaptasi yang tak mudah dalam menjalani tiga peran (istri, ibu, dan pekerja) adalah faktor paling umum untuk melepaskan karier. 

"Adanya tanggung jawab yang terbengkalai membuat ibu harus memilih salah satu."

Jika demikian, kapankah ibu mulai terpikir untuk berhenti bekerja, saat masih hamil atau setelah melahirkan?


(Tak sedikit wanita yang memutuskan berhenti bekerja untuk fokus mengurus si kecil. Berbagai hal menjadi penyebabnya. Foto: Sai De Silva/Unsplash.com)

Ayoe tak bisa memastikan mana yang lebih dominan. Menurutnya, keputusan tersebut diambil ketika melihat bagaimana dukungan lingkungan sekitar.

"Kedua kemungkinan tersebut sangat mungkin terjadi. Sebagian ibu yang memutuskan berhenti bekerja saat hamil biasanya sudah melihat tak ada dukungan sosial seperti dari suami, keluarga, atau adanya pengasuh."

Sementara, ibu yang berhenti bekerja setelah melahirkan umumnya merasa kesulitan dalam beradaptasi, sebagai ibu dan pekerja, selain kurangnya dukungan sosial.

Dalam beberapa kasus, ibu tak langsung memutuskan berhenti bekerja setelah melahirkan. Mereka menunggu momen tertentu sebelum benar-benar menjadi ibu rumah tangga (IRT). 

"Beberapa ibu memang memutuskan berhenti bekerja sepenuhnya karena beberapa alasan, misalnya ketika produksi ASI tidak lancar atau ingin mengawasi fase pertumbuhan anak," terangnya.

Ia menjelaskan, setiap fase pertumbuhan anak memiliki tantangan yang berbeda. Misalnya, untuk usia dini yang membutuhkan ASI, stimulasi adalah hal krusial.

Di satu sisi, pendampingan di masa sekolah juga tak kalah penting di mana anak membutuhkan perhatian lebih banyak dari orang tua. Akibatnya, waktu untuk hal-hal lain pun semakin sedikit, termasuk untuk pekerjaan. 

"Jadi tak ada patokan pasti kapan ibu memutuskan ingin fokus mengurus anak, tergantung kemampuan untuk menyesuaikan peran di tiap tahap perkembangan anak," simpulnya. 

(Baca juga: Keluarga yang Habiskan Waktu Bersama di Rumah Terbukti Lebih Bahagia)


(Menurut psikolog anak dan keluarga Ayoe Sutomo, situasi yang tak memungkinkan menjadi pemicu mayor dalam mengambil keputusan untuk berhenti bekerja dan menjadi IRT. Foto: Allen Taylor/Unsplash.com)

Syok setelah berhenti bekerja

Ini adalah hal yang wajar terjadi, ketika seseorang yang terbiasa kerja di pagi hingga sore hari menjadi fokus mengurus anak. 

"Syok biasanya dimulai dua minggu hingga satu bulan pertama. Benar-benar tahap penyesuaian."

Terkait psikologis, Ayoe mengungkapkan bahwa sebagian ibu merasa senang atau lega karena tak perlu lagi mengalami 'keteteran' seperti saat masih bekerja. 

Sementara, ibu yang meninggalkan pekerjaan karena terpaksa (dalam hal ini tak mendapatkan dukungan sosial) cenderung merasa berat. Tak jarang, mereka akan rindu dengan suasana kantor lebih cepat daripada ibu yang dengan kerelaan hati melepaskan rutinitas pekerja. 

Ibu dengan kategori tersebut cenderung memandang keputusan dalam mengurus anak sepenuhnya tidak secara positif, seperti membuat finansial berkurang atau jenuh berada di rumah terus. 

"Rasa kangen bekerja tergantung pada penghayatan saat berperan sebagai IRT. Biasanya mereka yang menikmatinya lebih jarang."


(Adanya tanggung jawab baru, yaitu mengurus anak, tak jarang membuat ibu merasa kesulitan membagi peran sebagai pekerja dan orang tua. Foto: Natalya Zaritskaya/Unsplash.com)

Lalu, bagaimana cara mengatasinya?

"Tanyakan pada diri sendiri lagi, apa alasan yang membuat mantap berhenti bekerja saat itu. Jika memang ingin mengurus anak, motivasi akan kembali dan rasa rindu bekerja mulai berkurang."

Selain itu, Ayoe juga menekankan pentingnya waktu untuk diri sendiri di sela-sela mengurus keluarga.

"Me time atau melakukan hal-hal yang membuat ibu senang seperti bertemu teman-teman, itu penting. Terutama jika penghayatan ibu tidak positif (berhenti bekerja karena terpaksa).

Ia melanjutkan, menjadi IRT berarti memiliki tanggung jawab yang terus ada dari pagi hari ketika bangun tidur hingga malam hari saat akan istirahat malam. Oleh karena itu, penyegaran semacam itu tak boleh disepelekan. 






(TIN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id