Demi Sekolahkan Anak, Penyandang Difabel jadi Pengemudi Ojek Online

Agustinus Shindu Alpito 12 Desember 2017 20:37 WIB
kisah inspiratif
Demi Sekolahkan Anak, Penyandang Difabel jadi Pengemudi Ojek Online
Demi sekolahkan anak, Dede Atmo Pernoto jadi Pengemudi Ojek Online (Foto: IDEA Group)
Jakarta: Berbagai cara ditempuh para orangtua demi anak. Dede Atmo Pernoto, penyandang disabilitas memutuskan menjadi ojek online demi menyekolahkan anak.

"Saya waktu itu mendaftar Go-Jek karena ketika saya ada kebutuhan ekonomi yang mendesak, pekerjaan saya yang lama tidak bisa memenuhinya. Kemudian saya melihat peluang dari Go-Jek dan saya mendaftar lewat SMS. Akhirnya saya datang ke kantor Go-Jek, alhamdullilah diterima tetapi saya harus melengkapi SKCK saya," kata Dede, seperti dilansir dari IDEA Group.

Dede menggunakan motor yang dimodifikasi menjadi roda 3, menyesuaikan kebutuhan khusus fisiknya. Motor itu sudah disiapkan Dede sebelum memutuskan menjadi ojek online. Perlakuan diskriminatif bukan hal baru yang dialami Dede. Dia mengisahkan beberapa kali order yang diterimanya dibatalkan oleh penumpang karena penumpang merasa tidak aman menumpang motor yang dikemudikan difabel.



(Foto: IDEA Group)

Dede sendiri beroperasi di wilayah Tegal, Jawa Tengah. Selain bekerja, Dede punya kesibukan lain di organisasi Kelompok Difabel Slawi Mandiri (DSM), sebuah organisasi yang fokus pada isu disabilitas dan kusta. Dede mengaku tantangan besar menyandang status disabilitas pada saat ini adalah soal mendapatkan pekerjaan yang layak.

"Di sini banyak kantor yang belum ramah difabel, masih belum ada perhatian terhadap kaum seperti kami. Itu sering kami suarakan. Kalau untuk pendidikan, kami menyuarakan agar sekolah-sekolah umum itu bisa menerima murid-murid yang difabel. Sedangkan untuk KTP, kami suarakan betul, karena kalau mereka tidak punya KTP, mereka tidak bisa punya kartu sehat dan tidak terdaftar juga sebagai penduduk Indonesia," keluh Dede.


(Foto: IDEA Group)

Menjadi pengemudi ojek online bukan hal yang membuat Dede rendah diri. Sebaliknya, dia justru membuktikan di tengah keterbatasan yang ada, terdapat peluang dan kesempatan selama mau berusaha.

"Prinsip saya satu, meskipun saya seperti ini, tapi saya ingin sekali bermanfaat, berguna buat orang lain. Ketika saya terbatas, saya tidak mau merugikan mereka yang normal," tutup Dede.





(DEV)