Dalam membesarkan putra-putri mereka orang tua tak sekadar mengajarkan untuk tumbuh menjadi pribadi tangguh dalam budaya yang kian kompetitif. (Foto: Pexels.com)
Dalam membesarkan putra-putri mereka orang tua tak sekadar mengajarkan untuk tumbuh menjadi pribadi tangguh dalam budaya yang kian kompetitif. (Foto: Pexels.com)

Cara Membesarkan Anak Kuat tapi Bukan Perundung

Rona keluarga perundungan
Anda Nurlaila • 01 Maret 2019 17:58
Dalam membesarkan putra-putri mereka orang tua tak sekadar mengajarkan untuk tumbuh menjadi pribadi tangguh dalam budaya yang kian kompetitif. Tetapi juga bagaimana membentuk karakter kuat tanpa mendorong bentuk agresi dan keegoisan kepada anak agar anak tidak menjadi perundung.
 

Jakarta:
Semua orang tua tentu ingin anak-anak mereka tumbuh menjadi anak tangguh dan kuat. Kendati begitu, tantangannya adalah membentuk karakter anak tangguh tanpa berkembang menjadi perundung. Perundung seringkali menggunakan kekuatan mereka mengganggu teman sebaya atau anak yang lebih muda.
 
Psikolog anak Gene Beresin dari Rumah Sakit Umum Massachusetts mengatakan semua orang harus dapat mentolerir adanya kemunduran.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Anak harus dapat mentoleransi perubahan emosional, dari sesuatu yang buruk hingga kesuksesan membutuhkan kontrol emosi dan keseimbangan emosional," katanya seperti dikutip Fatherly.
 
Dalam membesarkan putra-putri mereka orang tua tak sekadar mengajarkan untuk tumbuh menjadi pribadi tangguh dalam budaya yang kian kompetitif. Tetapi juga bagaimana membentuk karakter kuat tanpa mendorong bentuk agresi dan keegoisan kepada anak.
 
"Kekuatan fisik adalah bagian yang mudah (dibentuk) dengan olahraga. Tetapi mempelajari keterampilan mental sangat diperlukan untuk memperoleh hal-hal yang diinginkan," kata Beresin.
 
Menariknya, kekuatan fisik dan mental saling berhubungan. Kedisiplinan berlatih dan/atau terlibat dalam kerja tim membantu anak berfungsi dalam lingkungan kelompok.
 
Kuncinya adalah bahwa anak-anak memahami peran mereka dalam situasi sosial dan memiliki keterampilan khusus yang dapat mereka gunakan.
 
(Baca juga: Tips Sederhana Bantu Anak Hadapi Perundungan dan Intimidasi)
 

Cara Membesarkan Anak Kuat tapi Bukan Perundung
(Dalam membesarkan putra-putri mereka orang tua tak sekadar mengajarkan untuk tumbuh menjadi pribadi tangguh dalam budaya yang kian kompetitif. Tetapi juga bagaimana membentuk karakter kuat tanpa mendorong bentuk agresi dan keegoisan kepada anak. Foto: Pexels.com)


Kapan ajari anak jadi tangguh?


Sama seperti jika mengajarkan sifat-sifat baik lainnya, karakter tangguh harus mulai diajarkan sejak usia dini. Balita selalu meniru apa yang dilakukan orang tua mereka. Anak akan belajar bagaimana cara berjuang untuk mencapai sesuatu dengan cara sehat. Hal ini membantu meningkatkan kekuatan mental.
 
Namun, anak benar-benar belajar kualitas karakter kuat dan tangguh saat memasuki usia sekolah. Anak usia 10-12 tahun akan mulai merasakan sifat kuat dalam kehidupan mereka.
 
“Seiring bertambahnya usia, karakter tangguh semakin berkembang. Seorang anak berusia 10 tahun mungkin tidak akan tahu perbedaan antara satu pilihan atau yang lain,” katanya.
 
Di usia  remaja, anak mulai memiliki penalaran lebih baik dan berkompromi dengan diri mereka sendiri untuk merencanakan masa depan. Namun, jika tanpa dasar kuat hal ini tak mungkin terjadi.

Orang tua menjadi teladan kekuatan


Membangun karakter tangguh butuh suri teladan. Selain itu, diperlukan sikap jujur saat melalui kesulitan. Ada beberapa cara dewasa yang perlu diajarkan untuk membentuk pribadi yang kuat sejak kanak-kanak.
 

Saat hewan peliharaan mati


Bagi banyak anak, saat hewan peliharaan pertama mereka mati adalah pertama kali mereka mengalami kehilangan. Kendati anak mungkin belum mengerti apa artinya berduka, pengalaman ini sangat penting.
 
Orang tua harus memberitahu bahwa mereka sedih karena hewan peliharaan mati dan berartinya hewan peliharaan tersebut.  Mengajak anak mengungkapkan perasaan mereka dalam menghadapi tragedi membantu anak melepaskan emosi dan membentuk anak menjadi lebih kuat.

Menjalani tugas fisik


Orang tua harus melibatkan anak pada pekerjaan fisik di keluarga seperti membersihkan rumah, menyapu halaman dan membuang sampah. Dengan begitu anak belajar menyelesaikan tugas semaksimal tanpa mengeluh. Beresin mengatakan, melakukan pekerjaan fisik melatih anak bahwa kekuatan adalah tentang persiapan, keseimbangan, dan komitmen.
 
Saat orang tua mengalami masalah pekerjaan atau PHK
 
Semua orang pasti pernah merasa stres pada pekerjaan. Pada titik tertentu, orang tua dapat bercerita kepada pasangan mengenai kesulitan di kantor yang didengar anak-anak.
 
Hal ini cara yang baik untuk mengajarkan kepada anak bahwa kesulitan dapat diperbaiki dengan kepala dingin dan rencana yang baik.
 
Hal yang sama dapat dilakukan saat orang tua atau keluarga memiliki masalah yang lebih besar seperti PHK. Dengan begini anak lambat laun bisa menjadi pribadi yang kuat tapi bukan perundung.
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif