Remaja adalah masa transisi dari seorang anak menuju dewasa. (Foto Ilustrasi: Kevin Grieve/Unsplash.com)
Remaja adalah masa transisi dari seorang anak menuju dewasa. (Foto Ilustrasi: Kevin Grieve/Unsplash.com)

Pemberontakan Remaja dan Cara Menanganinya

Rona tips keluarga
Anda Nurlaila • 11 Februari 2019 15:15
Jakarta: Remaja adalah masa transisi dari seorang anak menuju dewasa. Remaja yang sedang mencari identitas dirinya kerap memperlihatkan sikap menantang dan memberontak. Sikap ini yang banyak menimbulkan konflik dengan orang tua.
 
Remaja adalah masa yang sedang mencari eksistensi diri dan merasa sebagai individu mandiri. Mereka kerap mencari-cari alasan dan mempertanyakan aturan yang diterapkan dalam keluarga dan sosial.
 
Seringkali untuk memperlihatkan keakuannya, remaja terlibat perilaku yang merusak dan membahayakan diri sendiri. Berikut jenis pemberontakan yang kerap ditunjukkan remaja, berikut penanganannya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


-Pemberontakan remaja awal (9-13 tahun)
Banyak orang tua menggangap sikap anak yang memberontak pada masa ini untuk melawan orang tua. Pada masa ini remaja menolak untuk dianggap anak-anak atau mengikuti identitas saudara yang lebih tua. Dia sedang mencari jati dirinya, namun belum menemukan sosok seperti yang dia inginkan.
 
Pada masa ini orang tua sebaiknya berperan menjadi seorang teman untuk memulai komunikasi. Cari tahu keinginan remaja tanpa membuat anak merasa terancam. Anak akan cenderung menaruh kepercayaan dan lebih penurut.
 
-Pemberontakan remaja di usia pertengahan (13-15)
Pada pertengahan masa remaja, sekitar akhir tahun sekolah menengah awal dan awal sekolah menengah atas, pemberontakan biasanya untuk menunjukkan bahwa remaja memiliki identitas berbeda dari saudara atau orang lain. Sikap menentang aturan sosial adalah caranya memperlihatkan kekuatan untuk menentukan nasib sendiri.
 
Bagi orang tua, jangan melarang sikap pemberontakan mereka. Tetapi iringi dengan memberi pengertian dan bimbingan pada anak untuk memperbaiki perilaku positif remaja. Walaupun remaja takkan langsung mengikutinya mereka mengetahui bahwa orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya.
 
-Pemberontakan di usia remaja akhir (15-18)
Pemberontakan di sekolah menengah atas biasanya akibat keterlambatan masa remaja. Anak akan secara dramatis selalu menentang untuk membebaskan dirinya dari ketergantungan pada orang tua dan masa kanak-kanak yang selalu berbuat baik.
 
Anak yang sangat dekat dengan orang tua umumnya memberontak untuk memperoleh identitas baru dan kemandirian sebelum melakukan langkah penting berikutnya. Bagi orang tua, tetap empatik selama perselisihan dan memberikan motivasi mengenai risiko yang mungkin diterima anak terhadap pilihannya.
 
-Pemberontakan awal kemandirian (18-23)
Pemberontakan di masa ini umumnya dilakukan untuk mengambil otoritas dari orang tua menjadi kekuatan mengendalikan hidupnya. Pada masa ini, remaja menolak untuk diperintah siapapun, bahkan oleh dirinya sendiri.
 
Orang tua dengan anak yang berada pada seusia ini harus membiarkan anak menerima konsekuensi pilihan mereka. Berakhirnya pemberontakan terhadap diri sendiri dan menerima otoritas kepemimpinan mereka adalah tantangan terakhir masa remaja. Ini harus dipenuhi sebelum memulai kehidupan dewasa.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi