Berikan anak lebih banyak pujian daripada cemoohan. (Foto: Pexels.com)
Berikan anak lebih banyak pujian daripada cemoohan. (Foto: Pexels.com)

Empat Kebiasaan Buruk Orang Tua yang Harus Dibasmi

Rona keluarga
Anda Nurlaila • 27 Mei 2019 17:23
Ada empat kebiasaan buruk orang tua yang perlu dihindari, seperti respons dan reaksi yang berlebihan, meyembunyikan emosi, selalu mengajukan permintaan sebagai pertanyaan, dan orang tua lebih sering jadi kritikus, bukan pelatih. Sebaiknya benahi diri agar menjadi contoh yang baik bagi anak Anda.
 

 
Jakarta: Orang tua adalah contoh paling dekat yang dapat ditiru anak. Tanpa sadar, banyak kebiasaan buruk orang tua yang merugikan perkembangan buah hati.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Perilaku dan reaksi berlebihan sering kali berefek bumerang. "Apa yang kita perlihatkan kepada anak-anak akan segera kembali pada kita," kata penasihat orang tua dan psikolog pendidikan Michele Borba kepada Parents.
 
Kuncinya adalah membenahi diri sendiri agar menjadi contoh yang baik bagi anak-anak Anda. Empat kebiasaan buruk orang tua yang perlu dihindari adalah:

1. Hidup adalah krisis 24/7 sehingga ketakutan jadi respons logis

Anda langsung mengomel saat anak tujuh tahun lupa menyimpan sepatu di rak. Atau langsung menangis saat hewan peliharaan mengalami kecelakaan kecil. Banyak orang tua memusingkan semua hal-hal kecil yang tidak dapat dikendalikan dan yang tidak penting dalam kehidupan anak.
 
Pengaruhnya pada anak: Psikiater Scott Haltzman mengatakan, sulit bagi anak untuk mencari mana yang prioritas atau yang perlu dilakukan jika orang tua selalu membesar-besarkan segala sesuatu.
 
Frasa umum yang dipakai orang tua seperti "tidak pernah" atau "selalu." Anak dapat merasa diperlakukan tidak adil. Bahaya lainnya, jika ada sesuatu yang salah, anak mungkin tidak akan mengatakannya karena menduga akan ada komunikasi seperti yang Anda lakukan sehari-hari.
 
Cara menghalau: Jika terjadi sesuatu, tentukan hal tersebut dalam skala 1-10. Satu berarti hal yang tidak penting dalam kualitas hidup anak seperti lupa membuka kaos kaki dan 10 adalah keadaan darurat seperti saat jari terjepit pintu mobil.
 
"Awalnya, Anda akan merasa semua hal adalah darurat, tapi seiring waktu Anda akan melihat ada perbedaan di antara peristiwa-peristiwa ini," kata Haltzman.
 
Empat Kebiasaan Buruk Orang Tua yang Harus Dibasmi
("Apa yang kita perlihatkan kepada anak-anak akan segera kembali pada kita," kata penasihat orang tua dan psikolog pendidikan Michele Borba kepada Parents. Foto: Pexels.com)

2. Menyembunyikan emosi 

Saat terjadi masalah dan si kecil bertanya ada apa, Anda akan menjawab, " Tidak, sayang. Semua baik-baik saja."
 
Pengaruh pada anak: Memang baik menjadi seorang yang positif, tapi salah jika selalu menyembunyikan emosi yang sebenarnya. Anak perlu belajar bahwa sedih, marah, atau frustrasi boleh-boleh saja. Dan, meski Anda menyembunyikannya, anak akan mengetahuinya.
 
"Anak-anak mengenali hal-hal yang tidak terucap," jelas psikolog dan penulis buku "The Power of Your Child's Imagination," Charlotte Reznick. Tidak berbagi emosi dengan tepat berarti orang tua mengajari anak berbohong tentang perasaan mereka.  Anak juga dapat berpikir ia penyebab Anda marah dan dia bisa kesal pada dirinya sendiri.
 
Menghilangkan kebiasaan: Anak butuh panutan untuk membicarakan emosi yang muncul. Beri label pada emosi Anda lalu jelaskan alasannya dengan cara yang anak pahami.
 
Contoh, "Ibu/Ayah sedih karena Nenek sakit. Tidak apa-apa sedih, bahkan ibu kadang juga sedih. Tapi ibu tahu dokter merawatnya dengan baik."
 
Ceritakan lebih detail kepada anak usia tujuh dan delapan tahun daripada anak yang lebih muda. Karena mereka lebih memahami dan dapat memisahkan masalah orang lain dari masalah mereka sendiri.
 
Biarkan anak bertanya sehingga orang tua dapat menghilangkan kekhawatiran anak dan mendengar kebenaran daripada membiarkannya berfantasi hal terburuk.

3. Selalu mengajukan permintaan sebagai pertanyaan

Saat ingin balita empat tahun merapikan mainannya, Anda bertanya, "Bisakah menyimpan mainan di tempatnya?" dan ikuti dengan, "Sekarang, oke?"
 
Pengaruh pada anak: Memberi pengarahan dengan taktik pertanyaan, anak berpikir Anda mengajukan permintaan dan ia memiliki pilihan untuk tidak melakukannya. Psikoterapis anak Fran Walfish mengatakan, jika anak mengabaikannya "permintaan" tersebut, Anda akan mengulangi dan mulai kehilangan kesabaran.
 
Hapus kebiasaan: Jelaskan maksud Anda pada anak, dengan menempatkan titik di akhir kalimat. Seperti, "Tolong matikan televisi sekarang." Jika anak tidak mendengarkan, ucapkan satu kalimat ini "Perlihatkan pada ibu cara mematikan televisi, kalau tidak ibu akan membantu."
 
Memberi arahan memang butuh latihan dan ketekunan. Tetapi Anda akan memperoleh kendali dan mencegah kehilangan kesabaran. Anak juga mengetahui bahwa orang tuanya memegang kendali dan bagaimana mengikuti petunjuk.

4. Orang tua lebih sering jadi kritikus, bukan pelatih

Orang tua meneliti setiap kesalahan anak. Jika hasil tesnya buruk, Anda akan bertanya kenapa. Atau saat tempat tidurnya kotor, Anda bertanya, "Kenapa enggak bisa merapikan tempat tidur?"
 
Pengaruhnya pada anak: Jika orang tua lebih banyak mengkritik daripada memuji, anak akan bersikap defensif atau mengabaikan Anda. Anak juga dapat kehilangan rasa percaya diri.
 
Dia akan takut berusaha karena takut gagal dan mengecewakan orang tuanya. Bisa juga anak berkembang menjadi seorang perfeksionis yang berpikir cinta orang tuanya akan berkurang jika tidak sesuai harapan.
 
"Umpan balik negatif atas kelemahan anak dan bukan kekuatannya, membuat anak percaya bahwa ia tidak bisa berhasil," kata psikoterapis anak dan keluarga Cathy Cassani Adams, seorang dan penulis "The Self-Aware Parent: 19 Lessons for Growing With Your Children."
 
Cara hilangkan kebiasaan: Berikan anak lebih banyak pujian daripada cemoohan. Bukan berarti Anda menghindari menyebut kesalahannya. Pertama, akui prestasi anak kemudian tawarkan bantuan di area dia gagal.
 
"Wah, banyak nilai A dan B. Tapi kadang IPA butuh lebih banyak penjelasan. Ibu akan bantu belajar IPA untuk ujian berikutnya, ya!"
 
Tahan dorongan untuk menunjukkan setiap kesalahan anak. Cobalah menyebutkan hal-hal baik yang dia lakukan setiap hari. Seperti memujinya saat membawa piringnya setelah makan karena telah membantu Anda. Manfaat pujian lainnya adalah anak lebih mudah menerima kritik karena anak sadar orang tuanya melihat hal yang dia lakukan dengan benar.
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif