Udunan, Tradisi Akhir Ramadan yang Tergerus Zaman
Sentir atau Damar Panggung. Medcom.id /Kuntoro Tayubi
Brebes:Khazanah budaya yang berbalut nilai religius dikenal masyarakat Jawa. Salah satunya tradisi mudunanatau udunan. Tradisi digelar untuk menutup bulan Ramadan. Tradisi digelar pada menjelang H-7 Idulfitri hingga H-3.

"Sayangnya tradisi ini sudah tidak banyak dikenal masyarakat Jawa sekarang ini," ujar budayawan, Wijanarto, Kamis, 24 Juni 2018.
      
Tradisi mudunanatau udunandidahului oleh tradisi munggahan. Munggahandigelar menyambut datangnya bulan Ramadan dan dilaksanakan pada akhir Syaban.


Munggahandipercaya sebagai ritus karena manusia menemukan atau dinaikkan derajatnya dalam bulan Ramadan untuk menjalankan ibadah puasa. Bulan Ramadan dianggap sebagai bulan istimewa, dan sebagai penanda maka digelar tradisi munggahan.

"Masyarakat menggelar upacara munggahandengan melakukan resik makam (bersih makam), dan mengirimkan makanan ke tetangga," ungkap Kasi Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata Kabupaten Brebes ini.

Komunitas Islam Bonokeling di Jatilawang Banyumas merupakan komunitas yang melestarikan tradisi munggahansecara komunal. Mereka masak bersama dan melakukan kunjungan ke makam Bonokeling pendiri komunitas ini.

Sebaliknya mudunanatau udunanini menjadi penanda berakhirnya Ramadan utk memasuki Syawal. Mudunanmenjadi perlambang mereka sudah mengakhiri fase terbebasnya dari godaan nafsu, turunnya para arwah yang dibebaskan dari siksa kubur.

Tak bisa diingkari bahwa tradisi munggahandan udunandipengaruhi budaya Jawa. Namun yang menarik dari ritus budaya ini, kita diingatkan pada penghormatan pada Sangkan Paran. Sama seperti munggahan, pada mudunanmasyarakat menyiapkan hidangan yang dibungkus dalam takir atau tumpeng untuk dimakan bersama atau dibagikan.

"Jika di musala mudunanbiasanya digelar malam selikuran puasa," pungkasnya.

Warga Desa Larangan, Saginem, mengaku masih melakukan tradisi ungahan dan udunan. Diyakini tradisi ritual tersebut bisa menjaga kelancaran rezeki dan memperpanjang usia.

"Prinsipnya kan berbagi sedekah dan menjaga silaturahmi dengan tetangga sekitar," katanya yang mengaku membuat 20 takdir untuk tetangganya untuk udunan.

Takir atau yang akrab juga disebut berkat ini berisi nasi dan lauk pauk, seperti ikan asin, telor dan sayur. Meskipun sebagian masyarakat di Brebes masih menjalankan tradisi tersebut, namun di beberapa daerah terutama perkotaan sudah tidak bisa ditemui lagi.

Sebelum dibagikan ke tetangga, ada doa doa yang diantarkan. Doa atau istilah lain wujudan, dilakukan oleh tokoh spiritual setempat.



(SUR)