8 Tradisi Unik Sambut Idulfitri di Indonesia
Warga memadati pasar untuk berbelanja kebutuhan perayaan Meugang di Pasar Inpres Lhokseumawe, Aceh. Meugang dirayakan tiga kali dalam setahun, yaitu pada Ramadan, Hari Raya Idulfitri dan Iduladha. (Foto: Antara/Rahmad).
Jakarta: Indonesia memiliki berbagai macam adat, suku, dan budaya termasuk dalam menyambut hari raya Idulfitri. Berdasarkan informasi yang dihimpun Medcom.iddari berbagai sumber, ada delapan tradisi unik yang dilakukan masyarakat Indonesia dalam menyambut dan merayakan Idulfitri.

1. Aceh - Meugang.


Meugangatau Makmeugangadalah tradisi penyembelihan kurban berupa kambing atau sapi yang dilaksanakan tiga kali dalam satu tahun yaitu pada bulan Ramadan, Iduladha, dan Idulfitri. Setelah menyembelih kurban masyarakat bersama-sama memasak dan mengolah daging kurban itu kemudian menikmatinya bersama keluarga, kerabat, dan yatim piatu.

2. Bengkulu - Bakar Gunung Api.

Bakar Gunung Apimerupakan tradisi lokal untuk menyambut datangnya 1 Syawal atau Idulfitri yang biasa dilakukan oleh suku Serawai. Saat malam takbiran masyarakat suku Serawai melakukan tradisi bakar gunung api yang dinamai Ronjok Sayak di beranda rumah masing-masing.

Bakar Gunung Apiyang dimaksud adalah membakar batok kelapa yang disusun mirip tusukan sate menjulang tinggi seperti gunung. Waktu pembakarannya setelah salat Isya.

3. Riau - Batabo.

Tradisi Batabomerupakan tradisi menyambut para perantau yang kembali ke Riau ketika hari raya. Masyarakat Kampar di Riau biasanya membuat sambutan khusus bagi para perantau.

Para perantau yang kembali ke kampung halaman akan diarak menggunakan rebana melintasi persawahan dan menuju tempat berbuka puasa bersama. Tradisi Batabo menjadi wadah untuk silaturahmi dan meningkatkan gairah perekonomian masyarakat Kampar.

4. Bangka - Bedulang.

Bedulangadalah tradisi makan bersama setelah menjalankan salat Ied di hari raya Idulfitri. Bedulangmerupakan kata lain dari tudung saji. Dalam tradisi ini biasanya masyarakat Bangka menyantap makanan-makanan khas Bangka.

5. Banten - Ngadongkapkeun.

Ngadongkapkeunmerupakan wujud syukur yang dilakukan warga Banten. Ngadongkapkeunadalah tradisi perpaduan adat lokal dengan ajaran Islam yang intinya bentuk rasa syukur kepada Allah SWT dan penghormatan kepada leluhur yang telah berjasa. Ngadongkapkeundilakukan pada hari terakhir puasa, setelah salat Ied, sehabis ziarah kubur.

6. Yogyakarta - Grebeg Syawal.

Grebeg Syawalmerupakan puncak perayaan Idulfitri yang sudah dilakukan bertahun-tahun oleh Keraton Yogyakarta. Dalam tradisi ini, warga memperebutkan gunungan berisi hasil bumi dan penganan tradisional yang disiapkan keraton sebagai simbol pemberian sedekah dari Raja Keraton Yogyakarta kepada rakyatnya. Warga meyakini seluruh isi gunungan mengandung berkah untuk kehidupan.

7. Bali - Ngejot.

Ngejottidak hanya dilakukan oleh umat Hindu di Bali, tetapi umat Islam pada saat Idulfitri. Kegiatan dari tradisi ini adalah memberikan makanan kepada para tetangga sebagai rasa terima kasih. Pada Lebaran biasanya umat Islam di Bali memberikan makanan khas Lebaran seperti opor ayam. Tradisi Ngejotini sebagai seimbol kerukunan antarumat beragama.

8. Lombok - Lebaran Topat.

Tradisi Lebaran Topatberasal dari kata ketupat yakni makanan masyarakat Lombok yang dihidangkan khusus pada perayaan hari raya Idulfitri. Tradisi Lebaran Topat sudah berlangsung semenjak ratusan tahun lalu. Tadisi ini dianggap sebagai rangkaian kegiatan untuk merayakan Idulfitri.

Mengenakan pakaian adat Sasak dan Bali, ribuan warga Muslim dan Hindu saat menyambut Idulfitri dengan damai saling lempar ketupat. Upacara tersebut dilakukan di Pura Lingsar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat.

 



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id