Warga mengamati sosial media. Foto: MI/Arya Manggala.
Warga mengamati sosial media. Foto: MI/Arya Manggala.

Hoaks dalam Perspektif Sejarah dan Alquran

Ramadan hoax
Annisa ayu artanti • 30 Mei 2019 10:58
Jakarta: Hoaks atau berita bohong bukan baru terjadi pada tahun politik akhir-akhir ini. Fenomena ini sudah ada bahkan sejak zaman Nabi Muhammad SAW.
 
Tema “Hoaks dalam Perspektif Sejarah dan Alquran” diangkat dalam kajian Ramadan di Masjid Nursiah Daud Paloh, Kompleks Media Group, Kedoya Selatan, Jakarta Barat. Kajian Kamis, 30 Mei 2019, dilakukan sebagai rangkaian iktikaf setelah sahur, mulai pukul 05.00 sampai 06.30 WIB.
 
Ustaz Thohir yang menjadi penceramah mengatakan hoaks adalah istilah yang diambil dari bahasa Inggris: hoax. Kata itu dapat diartikan berita bohong atau informasi bohong yang menyesatkan dan dapat menimbulkan keonaran atau permusuhan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Berita hoaks itu ada bersamaan dengan peristiwa sejarah Islam," kata Thohir.
 
Hoaks pernah muncul sehabis perang dengan Bani Musthaliq di bulan Syakban 5 Hijriah. Perang tersebut diikuti Nabi; Aisyah, istri Nabi; serta kaum munafik. Dalam perjalanan pulang dari peperangan, rombongan Nabi berhenti pada suatu tempat.
 
Di sana, Aisyah keluar dari tandu untuk suatu keperluan dan kembali lagi ke dalam tandu. Namun, Aisyah tiba-tiba merasa kalungnya hilang. Dia kemudian keluar lagi dari tandunya untuk mencari kalung itu.
 
Di saat Aisyah mencari kalungnya, rombongan Nabi berangkat karena merasa Aisyah sudah berada di dalam tandu. Sementara itu, setelah menemukan kalungnya, Aisyah mengetahui tandunya sudah tidak ada. Dia lalu duduk di bawah pohon dan berharap tandunya kembali..
 
Sahabat Nabi, Shafwan Ibnu Mu'aththal, kebetulan lewat di depan Aisyah. Dia langsung mengucapkan, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, istri Rasul!"
 
Saat itu juga Shafwan mempersilakan Aisyah naik ke atas untanya. Dia kemudian menuntun untanya sampai ke Madinah bertemu Nabi.
 
Persepsi muncul ketika rombongan Nabi melihat Aisyah datang bersama Shafwan. Oleh kaum munafik, situasi tersebut dibuat berita hoaks. Tidak memakan waktu lama, berita Aisyah dan Shafwan tersebar sehingga menimbulkan keguncangan di kalangan kaum muslimin.
 
Dari kisah tersebut, Allah menurunkan firman melalui surah An-Nur ayat 11-12 dan An-Nur ayat 19. Ayat itu menerangkan mereka yang menyebarkan berita bohong akan mendapatkan siksa yang amat pedih.
 
Baca: Akademisi UGM Serukan Stop Hoaks
 
Thohir pun mengimbau di era digital saat informasi lebih mudah tersebar, masyarakat harus lebih mengutamakan tabayun, khususnya bila mendapatkan berita. Tabayun adalah mencari kejelasan atau mengecek sesuatu untuk mendapatkan kebenaran sesungguhnya.
 
"Kalau dapat kiriman berita dan informasi, klarifikasi dulu, cek sumbernya, cek dalilnya, cek fakta-fakta lain. Tabayun. Kalau sudah dicek, ada manfaatnya maka baru sebarkan," jelas dia.
 
Hal itu ditekankannya karena bila menyebar berita hoaks akan diganjar dengan dosa. Sementara itu, bila menyebarkan berita atau kabar baik, hal itu akan meningkatkan cinta kepada Allah SWT.
 
"Kalau menyebar yang baik kita termasuk saling tolong-menolong, menciptakan kebajikan dan meningkatan kecintaan kepada Allah," pungkas dia.
 

(OGI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif