Kue kering bertema covid-19 yang diproduksi warga Nur Wahyuni, warga Mergangsan, Kota Yogyakarta.  Foto: Medcom.id/Ahmad Mustaqim
Kue kering bertema covid-19 yang diproduksi warga Nur Wahyuni, warga Mergangsan, Kota Yogyakarta. Foto: Medcom.id/Ahmad Mustaqim

Pengrajin di Yogyakarta Ciptakan Kue Lebaran Bermotif Covid-19

Ramadan makanan khas lebaran Ramadan 2020
Ahmad Mustaqim • 17 Mei 2020 12:40
Yogyakarta: Pengusaha pengraji kue kering khas Lebaran turut terkena imbas minimnya pesanan di tengah pendemi covid-19 (korona). Pengrajin kue kering di Yogyakarta mensiasati dengan mengkreasikan kue khas Lebaran dengan motif yang bertemakan covid-19.
 
Nur Wahyuni tak terbesit akan memproduksi kue kering dalam jumlah besar pada pekan awal Ramadan 2020. Ia sadar banyak tak warga yang tak berkumpul untuk Lebaran tahun ini karena pandemi covid-19.
 
"Awalnya mau enggak buat. Apalagi ada imbauan pemerintah enggak boleh kumpul. Berarti kan enggak ada tamu yang akan datang pas lebaran," kata Wahyuni ditemui Medcom.id di kediamannya Jalan Sisingamangaraja Nomor 36 Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta, Sabtu, 16 Mei 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, perempuan 44 tahun justru mendapat pesanan dari para pengecer kue kering di Jakarta dan Surabaya. Ia berinisiatif mengkreasikan kue kering dengan motif bertemekan covid-19 agar cepat laku di pasaran.
 
"Akhirnya berpikir, apa yang bisa dijual cepat. Di musim pandemi korona ini, akhirnya kepikiran motif tentang covid-19. Mikir semalam itu," katanya.
 
Ada beberapa motif kue kering bertema covid-19 yang Wahyuni produksi. Mulai dari bertema masker, hand sanitizer, sabun, obat, baju dokter, hingga hati dengan detak jantung. Satu toples kue kering bermotif wajah bermasker, disebut dengan kue 'Gemas'.
 
"Gemas itu gerakan memakai masker, untuk satu toples dengan semua isi kie kering masker. Ada yang diisi berbagai tema," kata pengajar di Akademi Kesejahteraan Sosial Yogyakarta ini.
 
Ia mengaku, motif kue yang menarik bisa menarik konsumen untuk membeli. Dalam seminggu, Wahyuni menyebut setidaknya ada tujuh pesanan dari pengecer. Seharinya, minimal ia mengirimkan lima hingga 10 lusin kue kering.
 
"Harga setengah kilogram atau satu toples berkisar Rp65 ribu sampai Rp80 ribu. Tergantung karakternya dan bahan membuat kue. Ada juga nastar keju Rp70 ribu per toples dan fondan Rp80 ribu per toples," katanya.
 
Wahyuni mengakui pendapatan usaha produksi kue kering yang sudah digeluti sejak 2002 anjlok tahun ini. Tahun lalu, ia sudah kebaanjiran pesanan dua bulan sebelum memasuki Ramadan.
 
Ia bisa memperkerjakan20 orang tahun lalu. Sistem kerjanya bergantian sif pagi dan malam. Penjualannya bisa mencapai 700 lusin dengan omzet Rp200 juta.
 
"Jadi pas puasa sudah close onder.Tinggal menyelesaikan pesanan. Di masa pandemi ini turun lebih 70 persen," katanya.
 
Namun, tahun ini hingga pekan kedua Ramadan baru menerima 10 lusin pesanan.Ia memperkirakan baru bisa menjual 70 lusin kue kering."Kalau produksi kue seperti ini enggak lama. Menghiasnya yang lama, nunggu kering. Produksi kue ini bisa membantu tetangga yang suaminya terdampak covid-19," ujarnya.
 
Ia berharap besar agar wabah korona segera hilang. Ia merasa sudah sangat besar dampak covid-19 menyasar di hampir setiap sendi kehidupan masyarakat Indonesia, bahkan dunia.
 
"Covid-19 ini kan berpengaruh ke semua aspek. Semoga ke depan ada solusi setelah wabah selesai. Banyak pekerjaan yang terhenti," kata dia.

 

(WHS)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif