Kandora, Pakaian Orang Emirati yang Dibanggakan
Seperti Kimono di Jepang, Kilt dari Skotlandia, atau Hanbok yang dipakai oleh orang Korea, di negara Semenanjung Arab juga memiliki satu pakaian khas yaitu kandora. (Foto: Courtesy of Man.vogue.me/from the Toby Collection by Hatem Alakeel)
Jakarta:Seperti Kimono di Jepang, Kilt dari Skotlandia, atau Hanbok yang dipakai oleh orang Korea, di negara Semenanjung Arab atau di Uni Emirat Arab (UEA) juga memiliki satu pakaian khas yang dipakai oleh Emirati khusus laki-laki yang bernama Kandora. Emirati adalah sebutan untuk penduduk lokal UEA.

Kandora yang biasa disebut sebagai dishdash atau thobe adalah pakaian nasional para laki-laki Emirati yang memiliki panjang semata kaki serta berlengan panjang. Digunakan oleh para Emirati sejak dahulu kala untuk memproteksi si pemakai dari panasnya matahari di daratan yang terkenal dengan padang pasirnya ini.



(Kandora yang biasa disebut sebagai dishdash atau thobe adalah pakaian nasional para laki-laki Emirati. Foto: Courtesy of Mysalaam.com)

Keunikan Kandora
Ada beberapa arti dalam pakaian khas orang Emirati ini, yaitu pertama warna putih. Beradaptasi dengan musim yang keras dimana suhu yang bisa mencapai 42 derajat celcius saat musim panas, warna putih bisa memantulkan kembali panasnya matahari. Selain itu warna putih juga terasa lebih sejuk, serta warna ini bisa terlihat menonjol di gurun pasir saat itu. 

Ahmed Al Jafflah seorang presenter dari Sheikh Mohammed Centre for Cultural Understanding (SMCCU)-pusat budaya dan informasi di Distrik Al Fahidi, Dubai, UEA juga menerangkan bahwa zaman dulu warna putih dan hitam (untuk Abaya pakaian khas untuk wanita) adalah bahan yang banyak, murah, dan mudah ditemukan. "Sehingga dua warna itu menjadi pakaian yang banyak dipakai," ujar Ahmed.


("Saat musim dingin (winter), maka laki-laki biasanya bisa lebih memilih warna gelap dalam memakai kandora," ujar Ahmed Al Jafflah seorang presenter dari Sheikh Mohammed Centre for Cultural Understanding (SMCCU)-pusat pusat budaya dan informasi di Distrik Al Fahidi, Dubai, UEA. Foto: Courtesy of Esquireme.com)

Pakaian kandora juga menurut Ahmed jadi pakaian wajib yang dipakai dalam banyak acara dan suasana formal termasuk dipakai saat pergi bekerja sampai meeting-meeting penting para petinggi di pemerintahan.

Namun menurut Ahmed, saat ini pemakaian kandora sudah lebih berkembang lagi. "Saat musim dingin (winter), maka laki-laki biasanya bisa lebih memilih warna gelap dalam memakai kandora, entah itu biru muda, coklat, atau marun," terangnya lagi.

"Memakai kandora sangat praktis dan nyaman. Kandora adalah t-shirtsaya, pakaian untuk (keperluan) bisnis, sekaligus juga taxido saya, semua jadi satu," ucap suami dari Dr. Lamees Hamdan, salah satu Emirati di Dubai melalui tayangan Oprah di YouTube. 

(Baca juga: Tarian Tanoura Salah Satu Persembahan Cinta Kepada Tuhan)


(Tarboosh adalah tali yang menjuntai dari bagian tengah leher. Foto: Courtesy of Esquireme.com)

Tarboosh
Keunikan kedua adalah Tarboosh (tassel). Tarboosh adalah tali yang menjuntai dari bagian tengah leher. Berada di bagian luar kandora. Rumbai kepangan yang warnanya sama dengan bajunya ini papar Ahmed zaman dulu digunakan oleh laki-laki yang menuju medan perang untuk mengingat sang istri di rumah.

"Zaman dulu-masih zaman peperangan, laki-laki bisa tidak pulang berbulan-bulan. Untuk bisa mengingat, para istri mencelupkan rumbai bagian bawah tarboosh ke dalam parfum sebelum suami berangkat ke medan pertempuran atau sebelum berangkat meninggalkan rumah. Ketika ia rindu-karena zaman dahulu belum ada foto atau telepon, mereka biasa mencium tarboosh untuk mengingat istri. Sebuah cara sederhana untuk bisa melepas rindu," papar Ahmed.

Hal yang unik lainnya lagi adalah; bagi mereka yang punya beberapa istri, keharuman parfum bisa berbeda-beda antara satu istri dengan istri lainnya.

"Saat sedang kangen dengan istri kedua atau ketiga, tarboosh dengan bau khas masing-masing istri tersebut bisa dipasang-karena tarboosh bisa dicopot dan dipakai berganti-ganti," ungkapnya. 

Namun menuruttour guide yang kami jumpai Mohammad Rahmatollah penggunaan tarboosh saat ini sudah tidak lagi menunjukkan bahwa seorang laki-laki sudah memiliki istri.

"Sekarang bahkan kandora untuk anak balita pun memakai tarboosh. Jadi sudah tidak bisa lagi dibilang bahwa tarboosh dipakai khusus bagi mereka yang sudah berstatus double(beristri)," paparnya. 

Senada dengan Rahmatollah, Ahmed juga mengatakan bahwa zaman dahulu perempuan bisa mengenali laki-laki yang masihsinglehanya dari pakaian si laki-laki.

"Jika tak ada tarboosh, maka ia masih sendiri. Jika sudah memakai kandora dengan tarboosh maka ia sudah beristri. Namun, saat ini tanda tersebut sudah bukan penentu status seseorang lagi. Saat ini hanya sebagai pelengkap pakaian saja," tambah Ahmed.

Penutup kepala
Mirip seperti kerudung, berukuran segi empat disebut dengan Keffiyeh, Kufiya, atau biasa disebut dengan Ghutrah adalah penutup kepala yang biasa terbuat dari bahan katun. Sekali lagi ini untuk melindungi kepala dari teriknya sinar matahari. Dan tali hitam yang melingkar di bagian atasnya disebut dengan Agal.

"Daerah kami dulu merupakan daerah padang pasir yang luas. Ternak kami salah satunya kambing dan domba. Dan seperti Anda ketahui bahwa kami memelihara juga unta. Dan zaman dahulu Agal terbuat dari bulu domba diuntai sedemikian rupa hingga menyatu dan dipakai untuk merapikan para unta ketika menggembala."

"Lalu Agal kami jadikan sebagai pengganjal Ghutrah agar tidak mudah lepas. Saat ini kami masih memakai tapi bukan untuk menggembala, melainkan memertahankan tradisi pakaian tradisional kami," sambung Ahmed.


(Sheikh Mohammed Centre for Cultural Understanding (SMCCU)-pusat budaya dan informasi di Distrik Al Fahidi, Dubai, UEA yang menerangkan seputar budaya dan gaya hidup Emirati. Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)

Alasan kenapa kandora tetap dipakai
Memakai kandora bagi orang Emirati adalah salah satu kebanggaan. Menurut Khalid Al Ameri (seorang penulis dan Emirati) dan istrinya Salama Mohammed (yang merupakan pengusaha) dikutip dari YouTube Khaleej Times yang berjudul "UEA speaks: What being Emirati means to them" mengatakan bahwa mereka bangga menjadi salah satu bangsa yang bisa memertahankan tradisi mereka-salah satunya melalui pakaian khas mereka, kandora (juga termasuk abaya).

"Bagi saya arti menjadi Emirati adalah melihat bagaimana para pemimpin kita (terdahulu) dan itu yang selalu konsisten kami lihat. Bagaimana mereka (para pemimpin dari sejak dahulu) terlibat dalam komunitas, bagaimana para pemimpin merepresentasikan diri mereka dan negara mereka. Salah satunya dengan tradisi yang dipertahankan menjadi identitas sebuah bangsa-salah satunya ya dengan pakaian kandora ini," ucap Khalid. 

Dan sederhana, memakai sandal adalah pelengkap fesyen khas tradisional yang biasa mereka gunakan baik bagi baju kandora maupun abaya. "Kami tetap boleh memakai pakaian jin ataut-shirt(pakaian santai) untuk acara-acara yang lebih rileks misalnya saat bertemu dengan teman-teman sepulang jam kerja, atau menghadiri pesta ulang tahun sahabat, atau saat kami sedang beristirahat di rumah," pungkas Rahmatollah.





(TIN)