Kejayaan Parsel Cikini kian Memudar
Parsel dijajakan di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Foto Medcom.id Gema Arinda Tanjung
Jakarta: Jalan Pegangsaan Timur, Menteng, Jakarta Pusat, tak pernah tidur menjelang Hari Raya Idulfitri. Tepat di seberang Stasiun Cikini, trotoar dipenuhi bingkisan (parsel) keranjang berisi aneka ragam kue kering dan minuman. Mobil dan motor terpantau ramai parkir menjelang tengah malam.
 
Idulfitri merupakan momentum sejumlah pedagang parsel meraih keuntungan. Setiap hari ada saja pembeli yang datang dan membeli parsel dalam jumlah banyak. Ita, 49, pemilik Sayang Parcel, mengaku di pagi hari saja ada 4-5 pengunjung. Hingga malam bisa sampai 10 pengunjung.

"Sebenarnya keuntungannya sama saja dari tahun ke tahun karena kan harga makanan juga ikut naik. Sekarang nih ramainya beberapa hari mau Lebaran," kata Ita yang mengaku sudah 4 tahun berdagang di Pasar Kembang Cikini.


Baca: Pembeli Parsel Lebih Suka Datang Tengah Malam

Berkaca ke belakang, pedagang parsel di Cikini mulanya berdagang di lapak Stasiun Cikini sisi Jalan Pegangsaan Barat. Mereka berdagang bersama pedagang bunga. Namun, pada 2013 mereka digusur dari Stasiun Cikini oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) (persero). Mereka direlokasi ke pusat perbelanjaan Cikini Gold Center (CGC), yang berada persis di seberang Stasiun Cikini.

Andi, 39, pemilik D&T Parcel, mengaku dinamika berjualan parsel cukup tinggi. Namun sejak menempati lantai 1 CGC, penjualan parselnya menurun. Bisnisnya bertahan lantaran ia juga menerima pesanan hantaran lamaran.

"Dua tahun belakangan sepi pembeli. Entah karena sudah tidak tren lagi atau kondisi ekonomi dolar naik jadi daya beli juga berkurang," tutur Andi.

Hampir sebulan Andi membuka gerainya di trotoar Jalan Pegangsaan Timur, baru satu perusahaan yang memesan dari tokonya. Biasanya dua pekan menjelang Lebaran, beberapa perusahaan dan langganannya memesan di lapaknya.

Saat ini, katanya, lebih banyak orang yang datang sudah membawa makanan sendiri dan dipercantik di tokonya.

"Setiap toko di sini punya langganan. Kebanyakan yang dibeli bukan parsel, melainkan jasa mendekornya," imbuhnya.

Untuk biaya, lanjut Andi, tergantung pada jumlah makanan yang dibawa. Paling murah jasa pembungkusan Rp125 ribu, sudah termasuk keranjang dan aksesori. Untuk barang pecah belah, seperti gelas dan piring dipatok Rp180 ribu sampai Rp200 ribu.

Selain itu, Andi juga menjual parsel makanan dan gelas serta piring. Paling murah ia mematok makanan yang sudah dibingkis seharga Rp150 ribu sampai Rp950 ribu. Ukuran parsel pun beragam, dari yang mulai ukuran sedang setinggi 30 cm sampai hampir dua meter. Untuk keramik satu set dari yang harga Rp200 ribu sampai Rp3 jutaan. Sementara, hiasan kaligrafi sekitar Rp2,5 jutaan.

Saat ini Andi mengaku belum bisa mengatakan berapa omzetnya berdagang parsel. Pasalnya, omzet biasa dihitung lepas Lebaran. Namun, dari dua tahun ini omzet berkurang 10%-30%. "Langganan sih ada cuma tidak seramai dulu." pungkas Andi.



(FZN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id