Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nasir. Foto: Medcom.id/Arga Sumantri
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nasir. Foto: Medcom.id/Arga Sumantri

PP Muhammadiyah Mengajak Gerakan TSM Dipraktikan dalam Berpuasa

Ramadan puasa Ramadan 2019
Arga sumantri • 29 Mei 2019 00:55
Jakarta: Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nasir mengajak umat muslim untuk mempraktekkan nilai puasa yang terstruktur, sistematis, dan masif (TSM). Menurut dia, bila gerakan puasa TSM ini dipraktekkan akan memunculkan hasil yang luar biasa.
 
"Kita praktikan saja dalam puasa, luar biasa nanti hasilnya, puasa terstruktur, sistematis, dan masif itu akan membangun peradaban," kata Haedar dalam acara buka bersama di Kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa, 28 Mei 2019.
 
Haedar mengatakan, mempraktikan nilai puasa itu tidak mudah. Ia mengajak warga Muhammadiyah dan umat muslin secara menyeluruh untuk merenungkan kembali karena sudah melaksanakan ibadah puasa berulang kali.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Puluhan kali kita puasa, apakah kita sudah betul-betul bertaqwa," ungkapnya.
 
Puasa juga mengajarkan kita untuk lebih rajin infaq dan sodaqah. Dua amalan ini dinilai juga tidak mudah terlebih bila kondisi seseorang dalam keasaan kesusahan.
 
Pelajaran puasa lainnya adalah menahan marah. Menurut dia, belajar menahan diri daei amarah juga tidak mudah. Terlebih ada pemicu munculnya kemarahan. Pada situasi ini, kata Haedar, agama dan puasa cukup berperan penting.
 
"Selalu orang ada argumentasi ada legitimasi, bahkan dalil ketika marah. Sebenarnya marah ya tetap marah saja," jelasnya.
 
Kemudian, hal yang juga tidak mudah adalah memberikan maaf kepada orang lain, sebelum orang tersebut minta maaf. Menurut dia, kesulitan manusia juga seringkali yakni sulitnya minta maaf karena termakan ego pribadi.
 
"Saya sendiri merasa jauh panggang dari api kita ini, kadang kita punya sifat itu melihat kebenaran, kesalahan, kebaikan, keburukan, hanya untuk melihat orang lain. Tapi kadang lupa terhadap diri sendiri. Ukuran kebenaran, kepatutan, padahal pada diri sendiri longgar sekali," pungkasnya.

 

(BOW)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif