Menag Berharap tak Ada Perbedaan Waktu Puasa dan Lebaran
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Foto: Antara/Saiful Bahri.
Jakarta: Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berharap tak ada perbedaan awal bulan Ramadan antara pemerintah dan organisasi Islam lain. Pemerintah akan menetapkan awal bulan Ramadan 1439 H melalui sidang isbat, sore nanti.
 
"Kita berupaya terus menerus berikhtiar bagaimana umat Islam Indonesia itu mengawali puasa dan Lebaran bersama-sama," kata Lukman di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, 15 Mei 2018.
 
Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan 17 Mei 2018 menjadi awal Ramadan. Penentuan itu dilakukan Majelis Tarjih PP Muhammadiyah dengan penghitungan memakai metode hisab. Sementara itu, 1 Syawal atau Hari Raya Idulfitri akan jatuh Jumat Legi, 15 Juni 2018.
 
Lukman ingin waktu awal puasa dan Lebaran seluruh umat muslim di Indonesia sama. "Mudah-mudahan ikhtiar ini dikabulkan oleh Allah SWT," ucap dia.
 
Politikus PPP itu menjelaskan, sidang isbat akan dihadiri para tokoh agama, khususnya ulama, pimpinan ormas Islam dan Majelis Ulama Indonesia. Sidang itu, kata dia, juga dihadiri para ahli di bidang perbintangan. Karena, sidang isbat akan dilihat bagaimana posisi hilal, kemudian peserta sidang akan mendengar kesaksian sejumlah petugas yang disebar di lebih 90 titik di seluruh wilayah Indonesia.
 
"Ini untuk kita dengar laporannya apakah sore nanti setelah magrib, ada yang berhasil melihat hilal atau tidak," katanya.

Baca: Sampai 2021, Awal Ramadan dan Syawal Berpotensi Seragam


Jika petugas berhasil melihat hilal, malam nanti sudah masuk bulan Ramadan. Sedangkan jika hilal tak terlihat, sebagaimana ketentuan hukum agama bulan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari atau jatuh pada Kamis, 17 Mei.
 
"Jadi untuk menentukan ini semua baru bisa kita pastikan setelah berakhirnya sidang isbat yang nanti akan disampaikan ke publik melalui media," pungkas dia.





(FZN)