Cerita Puasa Ramadan Menristekdikti di AS

Menristekdikti: Di Amerika Gak Ada Kolak

Citra Larasati 31 Mei 2018 16:01 WIB
Ramadan 2018
Menristekdikti: Di Amerika <i>Gak</i> Ada Kolak
Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir. Foto: Humas Kemenristekdikti/Ageng Prasetyo
Jakarta:  Berkeliling Indonesia atau bahkan dunia untuk melaksanakan tugas negara menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan seorang pejabat negara, tidak terkecuali Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir. Waktu dinas pun seringkali tidak dapat dipilih, termasuk ketika Nasir harus dinas ke Amerika Serikat saat sedang berpuasa Ramadan pada 21-24 Mei 2018 lalu.

Menjalankan puasa Ramadan di negara orang tentu saja meninggalkan kesan bagi Nasir yang mengaku selalu lebih menyukai suasana Ramadan di negeri sendiri ini. "Paling enak di Indonesia, di sana (Amerika) gakada kolak," seloroh Nasir usai berbuka puasa bersama media di rumah dinasnya, di Komplek Widya Chandra, Jakarta, Rabu, 30 Mei 2018 malam.


Meski begitu, pengalaman berpuasa di negeri Paman Sam itu memberi kesan baik bagi Nasir. Selain tidak sulit menemukan makanan halal, Nasir juga terkesan dengan sikap masyarakat Amerika yang ia jumpai, sangat menghargai muslim yang sedang berpuasa.

"Mereka sangat menghargai perbedaan, di sana informasi makanan halal tidak menyesatkan. Jika makanan tidak halal pasti akan diberitahu," ungkap mantan rektor terpilih Universitas Diponegoro ini.

Informasi makanan halal juga dengan sangat mudah didapatkan dari aplikasi Google Maps. "Jadi kita tinggal pilih sendiri," tegasnya.

Menemukan tempat untuk salat juga tidak sulit, di berbagai tempat yang ia datangi menyediakan ruangan khusus untuk tempat salat. Ada juga sebuat tempat yang disebut pray room, dapat digunakan seluruh agama untuk beribadah.

"Jadi ketika di Boston juga ada pray room, jadi semua agama, Katolik, Islam dan lainnya bisa menggunakan ruang itu untuk beribadah," jelas Guru Besar Undip itu.

Waktu berpuasa di Amerika, kata Nasir, hanya lebih panjang dua jam dari Indonesia.  Ia sahur pada pukul 03.00 dan berbuka sekitar pukul 21.00 waktu setempat.

"Berbeda dengan pengalaman saya berpuasa di Spanyol, jam berpuasanya panjang, 18 jam," papar dia.

Nasir mengunjungi dua kota dalam tiga hari kunjungannya di Amerika, yaitu kota Boston dan Washington DC.  Di Amerika Serikat, agenda Nasir adalah bertemu dengan empat Komite Iptek RI-Amerika Serikat.  Pembentukan Komite Iptek RI-AS itu sejak 2012 dan merupakan tindak
lanjut dari Perjanjian Kerjasama Iptek RI-AS yang ditandatangani pada 2010.

Menristekdikti juga melakukan kunjungan kerja ke Massachusetts Institute of Technology (MIT). Beberapa kesepakatan yang dicapai seperti penguatan kerja sama dengan National Aeronautics and Space Administration (NASA) dan National Science Foundation (NSF).



(CEU)