Ramadan Saatnya Tingkatkan Derajat Ketakwaan
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama, Arskal Salim saat mengisi tausiah di kantor Media Group, Jakarta, Rabu, 16 Mei 2018. Foto: Medcom.id/M Sholahadhin Azhar
Jakarta: Umat Muslim sudah sepantasnya menyambut Ramadan dengan penuh suka cita. Di mana Allah memberi kesempatan sangat luas kepada manusia untuk meningkatkan derajat ketakwaannya.

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Kementerian Agama, Arskal Salim mengatakan, dalam suatu hadis dari Abu Hurairah disebutkan, Rasulullah SAW bersabda, dalam satu tahun ada satu bulan yang penuh berkah, yaitu Ramadan. Dalam bulan Ramadan itu diwajibkan untuk berpuasa. Pintu-pintu langit dan surga terbuka. Pintu-pintu neraka ditutup rapat dan tangan setan dibelenggu. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan.


"Kita bayangkan bahwa Rasulullah SAW pada saat menjelang Ramadan ingin menyampaikan berita gembira. Bagaimana tidak gembira, ini satu kesempatan untuk meningkatkan derajat ketakwaan," ujar Arskal dalam ceramahnya di kantor Media Group, Jakarta, Rabu, 16 Mei 2018.

Tapi lanjut dia, itu hanya bagi mereka yang berpuasa dengan sebenar-benarnya. Karena memang tidak sedikit orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan pahala, kecuali hanya dahaga dan lapar. Orang-orang yang mendapatkan pahala puasa inilah yang nantinya terbuka bagi mereka pintu surga.

"Lalu bagaimana kalau kita bertanya bulan Ramadan tapi masih saja ada tindak kejahatan? Sebetulnya ungkapan hadis itu, yang membelenggu dan merantai kejahatan itu ialah amal ibadah manusia yang benar-benar menjalankan puasa," ujar Arskal.

Jadi, dikatakan Arskal, kalau hanya sekadar puasa asal puasa tapi masih melakukan perbuatan kriminal, itu tanda jika puasa seseorang tidak bermakna apa-apa. Kalau masih ada kejahatan di Ramadan, itu karena puasa kita yang tidak bermakna.

"Karena kalau kita melakukan puasa dengan kesungguhan, kita tidak akan melakukan kejahatan," ujar Arskal.

Dalam hadis lain, ada disebutkan juga, ketika Rasulullah SAW selesai dari perang Badar, beliau berkata jika mereka baru saja pulang dari perang yang kecil. Para sahabat kemudian bertanya bagaimana mungkin perang badar yang banyak memakan korban dianggap kecil.

"Lalu apalagi yang lebih besar dari perang Badar? Sahabat-sahabat bertanya. Rasulullah SAW menjawab jihad melawan hawa nafsu. Karena memang nafsu manusia itulah yang bisa tapi sulit kita kekang dan kendalikan," ujar Arskal.

Itu mengapa puasa menjadi sebuah hal yang diwajibkan bagi orang-orang yang beriman. Tetapi sesungguhnya puasa bukanlah sesuatu yang baru. Umat-umat sebelum Islam sudah melakukan puasa.

Misalnya puasa Nabi Daud yang sangat dipatuhi oleh umat Yahudi. Begitu juga Nabi Isa, berpuasa 3 kali dalam sebulan, di masa-masa bulan purnama. Sehingga ketika Ramadan datang dan diwajibkan umat Islam untuk berpuasa sebulan penuh, itu bukanlah suatu hal baru.

"Di sini saya coba menunjukkan betapa tradisi puasa itu mempersatukan dan menunjukkan umat beragama yang berbeda-beda itu sesungguhnya bersaudara satu sama lain. Kita memiliki tradisi yang sama, tradisi berpuasa," ujar Arskal.

Jadi di Ramadanlah saatnya manusia belajar mengendalikan segala bentuk perbuatan dosa melalui jihad hawa nafsu. Itu merupakan hal yang harus dilatih. Karena biar bagaimanapun manusia itu tetap manusia. Mereka bisa saja tidak berniat dan mau berbuat kejahatan, tapi kadang keadaan memaksa mereka untuk melakukan hal itu.

"Di Ramadan Allah SWT memberi kesempatan untuk membenahi diri untuk berjihad mengendalikan hawa nafsu. Sayangnya, tidak semua umat Islam bisa dan mau melakukan itu," ujar Arskal.



(MBM)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id