Mekanisme Pasar Lambungkan Harga Tiket Bus Mudik
Ilustrasi-- Sejumlah pemudik bergegas menuju bus tujuan. (Foto: MI/Bary Fathahillah)
Jakarta: Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyebut naiknya harga tiket mudik baik dari jalur darat, laut, maupun udara menjadi hal dominan yang dikeluhkan masyarakat. Salah satu yang paling dominan adalah tiket bus mudik yang tarifnya dinaikkan hingga 3-4 kali lipat.

Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengungkap, faktanya, tarif bus yang diatur pemerintah hanya kelas ekonomi. Sementara tarif untuk bus non-ekonomi yang jumlahnya lebih banyak tidak diatur.


Tulus menyebut ketiadaan aturan untuk mengatur tarif bus non-ekonomi membuat operator bus seenaknya menaikkan tarif sesuai dengan mekanisme pasar.

"Misalnya harga hari biasa Rp200 ribu, saat musim mudik naik menjadi Rp700 ribu, ini yang banyak dikeluhkan. Sayangnya ini tidak bisa diintervensi pemerintah karena tidak ada aturannya. Aturannya hanya mekanisme pasar sehingga tarifnya bebas," ujarnya, dalam Metro Pagi Primetime, Minggu, 3 Juni 2018.

Tak cuma soal tarif, masyarakat juga kerap mengeluhkan kenaikan harga tiket karena penambahan aksesori seperti AC. Padahal bus merupakan kelas ekonomi dan tidak ada regulasi yang mengatur tarif bus ekonomi AC.

Baca: Harga Tiket Bus Mulai Naik

"Yang ada adalah ekonomi dan non-ekonomi. Operator angkutan saat ini memang senang bermain di (bus kelas) ekonomi. Makanya pemerintah harus perhatian betul agar aksesnya bisa lebih baik," kata Tulus.

Menurut Tulus, operator boleh saja menaikkan tarif bus selama musim mudik dan arus balik lebaran, namun harus ada nilai manfaat yang didapatkan oleh penumpang.

Misalnya dari sisi fasilitas di dalam bus, atau kebijakan memberi makanan kepada penumpang. Indikator-indikator itu, kata Tulus, harus jelas sehingga masyarakat yang membayar tiket dengan harga tinggi mendapatkan layanan yang sepadan.

Ia menambahkan salah satu upaya untuk mencegah operator bus mempermainkan tarif adalah dengan mengatur tarif batas atas dan batas bawah. Instrumen ini penting agar operator dan penumpang tidak merasa dirugikan dengan permainan tarif.

"Ini yang harus dikontrol agar kedua porsinya seimbang. Berapa porsi untuk bus ekonomi dan non-ekonomi dan yang dibayar harus sesuai dengan layanan jangan ada tambahan (biaya) di tengah jalan," jelasnya.

Baca: Pemudik Mulai Mengeluh Kenaikan Harga Tiket Bus





(MEL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id