Ilustrasi-ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/wt
Ilustrasi-ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/wt

Lima Ulama Asal Indonesia yang Mendunia

Sobih AW Adnan • 08 Juni 2016 14:14
medcom.id, Jakarta: Perkembangan Islam di dunia kerap dilekatkan dengan tradisi, budaya, serta pengetahuan yang berasal dari Timur Tengah, terutama Arab. Namun siapa sangka, di tengah kesan itu sejarah telah mencatat banyak ulama asal Indonesia yang turut memberikan pengaruh dalam perkembangan ilmu pengetahuan Islam. Pada mulanya mereka menyeberang ke Mekah, Arab Saudi guna berhaji dan menuntut ilmu agama. Namun karena tingkat keilmuan yang mumpuni serta karya yang dihasilkan mampu memperkaya khazanah Islam di berbagai negara, maka sebagian besar ulama asal Nusantara banyak yang menetap di Tanah Haram hingga akhir hayatnya.
 
Berikut lima ulama asal Indonesia yang nama dan karyanya banyak dikenal di berbagai negara:
 
1. Syekh Nawawi al-Bantani

Dikenal dengan nama lain Abu Abd al-Mu’ti Muhammad bin Umar al-Tanara al-Jawi al-Bantani. Lahir di Tanara, Serang, Banten pada 1813 dan wafat di Mekah pada 1897. Syekh Nawawi merupakan keturunan Maulana Hasanuddin, Putra Sunan Gunung Jati Cirebon, Jawa Barat serta generasi ke-12 dari Sultan Banten. Secara keseluruhan, garis keturunan melalui jalur ini mengantarkannya sampai pada Rasulullah Muhammad SAW.
 
Nawawi kecil mendapatkan tempaan pengetahuan agama langsung dari ayahnya. Selain itu, Syekh Nawawi juga bergurukepada Kiai Sahal, Banten serta Kiai Yusuf di Purwakarta. Menginjak usia 15 tahun, Syekh Nawawi memantapkan tekad untuk berhaji dan menuntut ilmu di Mekah hingga memertemukannya dengan beberapa tokoh penting dalam dunia Islam, sebut saja Syekh Sayyid Ahmad Nahrawi, Syaikh Junaid, dan Syekh Ahmad Dimyati. Selain itu, Syekh Nawawi juga menyempatkan diri untuk berguru kepada Syekh  Muhammad Khatib dan Syekh Ahmad Zaini Dahlan, dua ulama besar di Madinah.
 
Kematangan dan kecerdasan Syekh Nawawi diakui oleh guru-gurunya, bahkan ulama asal Mesir, Syekh Umar Abdul Jabbar dalam karyanya berjudul al-Durûs min Mâdhi al-Ta’lîm wa Hadlirih bi al-Masjidil al-Harâm menyebut Syekh Nawawi sebagai sosok yang produktif dan menguasai berbagai cabang keilmuan. Hingga akhir hayatnya, Syekh Nawawi berhasil menulis ratusan judul kitab yang menjadi rujukan ulama-ulama di Jazirah Arab dan Asia Tenggara, dan menjadi rujukan pokok bagi kurikulum pesantren di Indonesia hingga hari ini.
 
Karya Syekh Nawawi yang terkenal antara lain al-Tafsir al-Munir li al-Mualim al-Tanzil al-Mufassiran wujuh mahasin al-Ta?wil musamma Murah Labid li Kasyafi Ma’nâ Qur?an Majid, Kâsyifah al-Saja syarah Safinah al-Naja, Sullam al-Munâjah, Nihayah al-Zain, serta Nashaih al-‘Ibad. Produktivitasnya dalam menghasilkan karya menjadikan Syekh Nawawi dijuluki Bapak Kitab Kuning. Syekh Nawawi memiliki banyak murid di Mekah maupun di Indonesia. Tokoh-tokoh Indonesia yang lama berguru kepada Syekh Nawawi di antaranya pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asyari, pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, dan pendiri Mathlaul Anwar KH Mas Adurrahman.
 
2. Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi
 
Bernama lengkap al Allamah asy Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah bin Abdul Lathif bin Abdurrahman. Lahir di Koto Tuo - Balai Gurah, IV Angkek, Agam, Sumatra Barat pada 1860 dan wafat di Mekkah 1916. Masa kecil Syek Ahmad Khatib diisi dengan gemblengan keagamaan secara langsung dari ayahnya, Abdul Lathif. Baru pada usia 10 tahun, Syek Ahmad dititipkan ayahnya ke beberapa ulama besar di Mekah untuk menuntut ilmu agama, antara lain Sayyid Umar bin Muhammad bin Mahmud Syatha al Makki asy Syafi’i, Sayyid Utsman bin Muhammad Syatha al Makki asy Syafi’i, serta Sayyid Bakri bin Muhammad Zainul Abidin Syatha ad Dimyathi al Makki asy Syafi’i.
 
Akibat kejeniusan dan kerendah-hatiannya, Syekh Ahmad Khatib tercatat sebagai orang non-Arab pertama yang dipercaya menjadi imam besar di Masjidil Haram, Mekah. Di antara ratusan karyanya, beberapa judul yang sering dirujuk oleh ulama di negara lain ialah Hasyiyah an Nafahat ala Syarhil Waraqat lil Mahalli
Al Jawahirun Naqiyyah fil Amalil Jaibiyyah, ad Da’il Masmu ala Man Yuwarritsul Ikhwah wa Auladil Akhwan Maa Wujudil Ushul wal Furu,
serta Raudhatul Hussab. Beberapa tokoh nasional yang pernah menimba ilmu agama kepada Syekh Ahmad Khatib di antaranya Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) ayah dari Buya Hamka, KH Hasyim Asyari, serta KH Ahmad Dahlan.
 
3. Syekh Muhammad Yasin al-Fadani
 
Ulama berdarah Padang, Sumatra Barat ini dilahirkan 17 Juni 1915 dan wafat di Mekah pada 20 Juli 1990. Syekh Yasin mengawali pendidikan agama dari ayahnya, Syekh Muhammad Isa al-Fadani kemudian dilanjutkan ke Madrasah ash-Shautiyyah, Mekah. Setelah dinilai matang dari segi pengetahuan, Syekh Yasin kemudian mendirikan madrasah Darul Ulum al-Diniyyah dan mengajar di Masjid al-Haram.
 
Soal karya, Syekh Yasin selama hidupnya berhasil menulis 97 kitab. Satu karyanya yang paling dikenal berjudul Al-Fawaid al-Janiyyah yang enjadi materi silabus dalam mata kuliah ushul fiqih di Fakultas Syariah Al-Azhar Kairo, Mesir. Buku-bukunya yang lain juga banyak dijadikan rujukan bagi ulama dan lembaga-lembaga Islam, pondok pesantren, baik di Arab Saudi maupun di Asia Tenggara.
 
Ulama besar al-Allamah Habib al-Segaf bin Muhammad Assegaf menyebut Syekh Yasin dengan julukan Sayuthiyyu Zamanihi (Imam Sayuthi pada zamannya). Ulama asal Hadramaut, Yaman itu mengaku terkagum-kagum atas keluasan ilmu sosok berdarah Minang tersebut.
 
4. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari
 
Ulama yang satu ini lahir di Desa Lok Gabang Kecamatan Astambul Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan pada 17 Maret 1710. Syekh Arsyad yang juga berjuluk anumerta Datu Kelampaian ini wafat pada usia 102, yakni 3 Oktober 1812.
 
Syekh Arsad menghabiskan pendidikan masa kecilnya di tengah keluarga di bawah tempaan ayahnya, Syekh Abdullah. Jelang remaja, ia pergi ke Mekah dan bertemu dengan para ulama masyhur seperti  Syekh Athaillah bin Ahmad al-Mishry, al-Faqih Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi, dan al-Arif Billah Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Hasani al-Madani.
 
Di antara banyak karya yang ditulis, Kitab Sabilal Muhtadin lit-Tafaqquh fi Amriddin menjadi yang paling monumental. Kitab yang memuat penjelasan hukum-fiqh dijadikan dasar Negara Brunai Darussalam serta menjadi rujukan banyak ulama di dunia.
 
5. Syekh Sulaiman ar-Rasuli al-Minangkabawi
 
Syekh Sulaiman lahir di Candung, Sumatra Barat pada 1871 dan wafat pada 1 Agustus 1970. Menempuh pendidikan agama di Mekah bersama teman seangkatannya seperti KH Hasyim Asyari, Syekh Hasan Maksum, Syekh Khatib, Syekh Zain Simabur, dan lainnya. Selain berguru kepada ulama Tanah Suci, Syekh Sulaiman juga menyempatkan diri menimba ilmu agama ulama Kelantan dan Patani, Thailand, yakni Syekh Wan Ali Abdur Rahman al-Kalantani, Syekh Muhammad Ismail al-Fathani dan Syekh Ahmad Muhammad Zain al-Fathani.
 
Karya Syekh Sulaiman banyak menjadi sumber inspirasi bagi ulama di Asia Tenggara dan Jazirah Arab. Beberapa judul yang pernah ditulis antara lain Dhiyaus Siraj fil Isra' Walmi'raj, Tsamaratul Ihsan fi Wiladah Sayyidil Insan, Dawaul Qulub fi Qishshah Yusuf wa Ya'qub, Risaah al-Aqwal al-Wasithah fi Dzikri Warrabithah, al-Qaulul Bayan fi Tafsiril Quran, serta al-Jawahirul Kalamiyyah.
 
Sekembalinya ke Indonesia pada 1950, Syekh Sulaiman turut serta dalam keanggotaan Konstituante mewakili Persatuan Tarbiyah Indonesia (Perti). Syekh Sulaiman tercatat memiliki kedekatan dengan Presiden Soekarno serta beberapa tokoh lain dari Malaysia dan Asia Tenggara.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SBH)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan