Shinta Nuriyah: Perbedaan Hiasan Indonesia
Shinta Nuriyah Wahid saat memberi tausiah di pendopo Kabupaten Brebes didampingi Bupati Idza Priyanti, Medcom.id - Kuntoro
Brebes: Negara Indonesia bagai taman bunga yang besar dan indah. Di dalamnya, pohon dan bunga bermekaran. Ada mawar, melati, soka, kantil, anggrek, dan masih banyak lagi.

"Bunga-bunga itu tumbuh pada batangnya sendiri. Semuanya menghiasi taman bernama Indonesia," tutur Shinta Nuriyah Wahid, istri almarhum Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, saat mengisi tausiyah di Pendopo Bupati Brebes, Jawa Tengah, Senin, 21 Maret 2018.


Shinta mengingatkan jangan pernah memaksa mawar berubah menjadi melati, atau soka menjadi kenanga. Sebab semua bunga berfungsi di tempatnya masing-masing.

Itulah cerminan negara Indonesia. Negara ini, ujar Shinta, terdiri dari berbagai suku, bangsa, agama, etnis, dan bahasa. Tak bisa memaksakan suatu suku menjadi suku lain, dan lain sebagainya.

Semua yang hidup di Indonesia, lanjut Shinta, adalah saudara. Tak pantaslah penghuni taman ini saling bertengkar, menghujat, dan mencaci. Justru, keanekaragaman itu harusnya kian memperketat kesatuan dan persatuan. Itu yang menjadi komitmen dan ajaran semua agama.

“Di Indonesia, agama dan suku bangsa manapun bisa hidup berdampingan tanpa harus mengganggu satu sama yang lain. Maka hargailah perbedaan,” ungkapnya.

Shinta juga mengingatkan Pancasila dan Rukun Islam bukan sekadar hafalan. Dua aturan itu bukan hanya tempelan di dinding. Bila belum bisa diamalkan, jadinya masih banyak yang menebar kabar bohong alias hoaks. Fitnah, hujatan, dan kebencian pun menyebar merajalela.

“Apa yang terjadi di masyarakat saat ini sungguh miris. Kelakuannya sudah tidak pantas dilakukan oleh masyarakat Indonesia,” ungkapnya.

Itu, lanjut Shinta, menunjukkan tak sedikit penghuni taman kehilangan hati nurani. Tali persaudaraan kian longgar, gampang diputuskan oleh orang lain. Bila sudah putus, Indonesia berantakan oleh ulah tangan penghuninya sendiri.

Saat ini, Shinta mengajak warga Indonesia merajut kembali serpihan tali yang berserakan. Ramadan menjadi momen untuk meningkatkan kearifan, kejujuran, dan kebenaran untuk merajut persaudaraan.

Bupati Brebes Idza Priyanti menyepakati pernyataan Shinta. Di acara tersebut, Idza menganggap kedatangan Shinta menjadi pencerah bagi dirinya dan warga Brebes.

Idza pun meminta Shinta mendoakan masyarakat Brebes bebas dari musibah. Agar, masyarakatnya dapat hidup berdampingan tanpa menyoalkan perbedaan.
 



(RRN)