Buka Bersama dengan Mahasiswa dan warga Indonesia di Albany. (Foto: Dok. Wuri Prima Kusumastuti).
Buka Bersama dengan Mahasiswa dan warga Indonesia di Albany. (Foto: Dok. Wuri Prima Kusumastuti).

Kisah Suka Duka WNI Jalankan Ramadan di New York

Ramadan Ramadan 2019
07 Juni 2019 20:10
New York: Ramadan adalah bulan yang penuh berkah bagi umat Muslim di penjuru dunia. Sama halnya dengan umat Islam yang lain, keistimewaan Bulan Ramadan juga dapat saya nikmati di Amerika Serikat. Saat ini saya berkuliah program Doktoral di State University of New York in Albany (SUNY Albany). Tahun ini merupakan tahun keempat saya menjalankan ibadah Ramadan di Amerika Serikat. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang saya jalani di Negara Bagian Montana, tahun ini saya menjalakan ibadah puasa di Negara Bagian New York.
 
Walaupun durasi puasa di New York State tahun ini adalah 16 jam, bagi saya puasa tahun ini adalah puasa tersingkat yang pernah dijalani di Amerika Serikat. Durasi puasa terlama yang pernah saya jalani sekitar 19,5 jam, yakni pada 2016 yang menjadi Ramadan tahun pertama saya di AS. Namun beruntungnya, Ramadan tersebut berlangsung saat liburan musim panas, sehingga tidak terlalu banyak aktifitas akademia yang menguras tenaga dan pikiran.
 
Tahun ini, saat Ramadan, aktifitas yang saya lakukan hampir mirip dengan mahasiswa yang lain yaitu belajar di perpustakaan dari pagi sampai sore. Namun, perbedaan yang paling mencolok di bulan Ramadan adalah tidak adanya istirahat makan siang saat sedang belajar. Biasanya, saya selalu membawa satu tas penuh berisi makanan ringan dan makan siang sebagai asupan nutrisi saat belajar di perpustakaan. Hal ini tentu saja tidak dapat saya lakukan di bulan Ramadan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain belajar, aktifitas saya di bulan Ramadan sangatlah bervariasi. Saat saya masih tinggal di Montana, Ramadan adalah waktu yang istimewa untuk hiking dengan teman-teman pencinta alam, roadtrip dengan sesama mahasiswa internasional di sana, atau berbuka puasa dengan mahasiswa Muslim lain yang belajar di University of Montana, Missoula. Saya sangat senang bertemu dengan banyak orang, sehingga walaupun saya berpuasa, saya tetap aktif menjalankan aktifits di luar kegiatan belajar mengajar.
 
Di awal Ramadan ini, walaupun saya sedang sibuk menulis tugas akhir dan portofolio untuk semester musim semi, saya tetap meluangkan waktu untuk berkumpul dengan teman-teman. Di hari pertama Bulan Ramadan, saya menghadiri piknik musim semi di rumah atasan saya di Schoharie, New York. Walaupun saya tidak ikut makan, saya juga berpartisipasi membawa makanan untuk dibagikan dengan tamu undangan yang lain. Saya membawa pisang goreng, nangka goreng, dan kurma isi almond untuk tuan rumah dan tamu undangan di sana.
 
Karena keunikan makanan tersebut, banyak orang yang bertanya tentang bahan dasar makanan tersebut dan bagaimana membuatnya. Saya dengan senang hati menjelaskan bahwa semua makanan tersebut identik dengan bulan Ramadan, terutama buah kurma. Di bulan Ramadan, buah kurma mudah di temukan di swalayan atau pasar tradisional di Indonesia. Sehingga banyak masyarakat Indonesia yang menikmati buah tersebut di bulan puasa.
 
Keistimewaan yang terbesar Ramadan tahun ini adalah banyaknya mahasiswa Indonesia yang belajar di SUNY Albany, sehingga saya dapat menghadiri buka bersama yang diselenggarakan oleh mahasiswa senior di sana. Buka puasa tersebut juga merupakan acara perpisahan untuk salah satu mahasiswa S3 yang akan segera kembali ke Indonesia.
 
Walaupun acaranya diadakan di minggu terakhir ujian musim semi, para mahasiswa dan warga Indonesia ini pun masih bersemangat memasak masakan khas Indonesia seperti siomay Bandung, sate kambing, sate ayam, soto daging sapi, mi goreng, dan ayam panggang. Tak ketinggalan juga makanan penutup manis seperti eclair dan es krim. Acara ini berlangsung sejak jam 7 hingga jam 11 malam yang kebanyakan diisi dengan ngobrol-ngobrol dan bertukar pengalaman.
 
Acara kumpul-kumpul mahasiswa dan warga Indonesia di Albany semacam ini tidak hanya terjadi di bulan Ramadan. Di waktu-waktu lain seperti perayaan Idul Fitri, Idul Adha, Natal, Kemerderkaan Indonesia dan acara syukuran pun sering diselenggarakan acara makan bersama. Biasanya, acara tersebut dilakukan secara potluck di mana semua yang datang akan membawa makanan untuk dibagikan dengan yang lain.
 
Untuk menjaga stamina selama bulan Ramadan, menu makan tentulah tidak sama dengan hari-hari biasa. Selain di acara buka puasa bersama, biasanya saya tidak banyak mengkonsumsi nasi atau makanan berkarbohidrat tinggi seperti nasi, mie, atau roti. Hal ini dikarenakan makanan tersebut membuat saya mengantuk sepanjang hari. Karena hal utama yang saya butuhkan adalah energi, maka saya memperbanyak konsumsi protein, air, dan gula alami.
 
Sebagai penutup semester musim semi, saya pun juga aktif dalam kepanitiaan di jurusan. Bersama dengan mahasiswa S3 yang lain di jurusan Educational Theory and Practices (ETAP) SUNY Albany, kami menyelenggarakan acara penutup akhir tahun ajaran bertajuk “ETAP Milestones”. Di acara tersebut, para mahasiswa S3 yang sudah menyelesaikan ujian tahunan, menyelenggarakan riset, mempublikasikan artikel, atau bahkan lulus disertasi mendapatkan penghormatan dari seluruh warga ETAP SUNY Albany termasuk dekan dan para petinggi yang lain. Di sana, abstrak dan poster dari hasil tulisan mahasiswa dipamerkan.
 
Saya bertanggung jawab sebagai penerima tamu dan penata galeri penelitian. Walaupun sedang berpuasa, saya tetap bersemangat dengan kegiatan-kegiatan semacam ini karena bagi saya puasa adalah aktifitas rohani yang menghubungkan diri dengan Tuhan. Sehingga, segala ibadah yang dilakukan membawa suka cita dan energi yang lebih besar untuk melakukan aktifitas sehari-hari dan berinteraksi dengan masyarakat di sekitarnya.
 
Penulis adalah Wuri Prima Kusumastuti, mahasiswi Doktoral di SUNY Albany.
 

(FJR)
LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif