Hak Sesama Pengguna Jalan Menurut Rasulullah
Ilustrasi: Mudik/Foto: Medcom.id/Sobih AW Adnan
Jakarta:Sekali waktu Nabi Muhammad saw. menjumpai sekelompok sahabat yang hendak bepergian. Rasulullah berpesan, "Janganlah kalian duduk-duduk di tepi jalan."

Beberapa dari mereka heran. Padahal, kebiasaan itu sudah cukup lama dilakukan masyarakat Arab. 


"Itu kebiasaan kami dan dilakukan di saat lelah dan bercengkerama, wahai Nabi," ucap salah satu dari mereka.

Nabi menanggapi, "Baik. Jika kalian tidak berkenan meninggalkan kebiasaan itu, maka, tunaikanlah hak bagi para pejalan lainnya."

"Apa sajakah hak-hak itu, ya Rasul?" tanya seseorang, lagi.

Rasulullah pun menjelaskan, "Hak yang mesti ditunaikan itu adalah menundukkan pandangan, menyingkirkan rintangan, menjawab salam, menganjurkan kebaikan, dan mencegah kemunkaran."

Dalam riwayat lain, Nabi pernah ditanya Abu Zur’ah ibn Amru ibn Jarir ihwal standar menjaga pandangan. Nabi bersabda, "Jika engkau melihat perempuan meski tidak dilakukan dengan sengaja, maka segera alihkan pandangan itu."

Nabi menyarankan sahabatnya untuk ghadhul bashar alias menundukkan pandangan. Tidak diperbolehkan memantapkan pandangan dalam durasi yang lama kepada sesuatu yang terlarang, atau dapat mengganggu perasaan orang lain. 

Rasulullah juga menghukumi sedekah bagi orang yang mau menyingkirkan rintangan yang dapat membahayakan pejalan lain. Nabi bersabda, "Ketika seseorang menemukan ranting berduri dan menyingkirkannya dari jalan raya, maka ranting tersebut hingga Allah pun bersyukur kepadanya lalu mengampuni dosa-dosanya."

Sumber: Disarikan dari hadis riwayat Al Bukhari Nomor 2285, Muslim 3960, dan Imam Ahmad 10883, serta keterangan dalam Riyadhus Shalihin karya Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawy.



(SBH)