Jakarta: Malam mulai larut, Madinah pun tenang tanpa hiruk pikuk. Sementara Nabi Muhammad saw. yang tak lepas dari gerak ibadah, mencoba turut beristirahat barang sejenak.
Rasulullah pun tertidur. Akan tetapi, dua pria berbadan tegap mendatangi mimpinya dan mengajak ke sebuah bukit yang tak pernah dijumpai di bumi.
"Panjatlah bukit itu, wahai Rasulullah," ucap keduanya.
Nabi kebingungan. Bukit yang tampak menjulang, rasa-rasanya sulit didaki sendirian.
Rasulullah mengaku, "Aku tidak sanggup memanjatnya." Namun, kedua orang itu kompak menawarkan, "Tentu, kami akan membantumu."
Tahap demi tahap, akhirnya Nabi tepat berada di puncak bukit. Tak harus menunggu lama di ketinggian, Rasulullah langsung dikajutkan dengan ramainya suara jeritan.
"Suara apa itu?" tanya Nabi, penuh heran.
Kedua laki-laki itu menjawab, "Itu adalah jerit kesakitan para penghuni neraka."
Tak lama kemudian, dua sosok itu kembali mengajak Nabi ke salah satu sumber teriakan dengan jarak yang lebih dekat. Rasulullah kembali heran bukan kepalang, dilihatnya orang-orang tergantung dengan posisi terbalik. Kakinya diikat dengan urat betisnya sendiri, sementara kepala dan rahang giginya dibenturkan ke benda-benda keras hingga pecah, bersimbah darah.
"Siapa mereka?" tanya Nabi.
Keduanya menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang dengan sengaja berbuka puasa sebelum waktunya."
Sumber: Disarikan dari Mukhtasar al-Mukhtasar min al-Musnad ash-Shahih atau Shahih ibn Khuzaimah [1.986]
Jakarta: Malam mulai larut, Madinah pun tenang tanpa hiruk pikuk. Sementara Nabi Muhammad saw. yang tak lepas dari gerak ibadah, mencoba turut beristirahat barang sejenak.
Rasulullah pun tertidur. Akan tetapi, dua pria berbadan tegap mendatangi mimpinya dan mengajak ke sebuah bukit yang tak pernah dijumpai di bumi.
"Panjatlah bukit itu, wahai Rasulullah," ucap keduanya.
Nabi kebingungan. Bukit yang tampak menjulang, rasa-rasanya sulit didaki sendirian.
Rasulullah mengaku, "Aku tidak sanggup memanjatnya." Namun, kedua orang itu kompak menawarkan, "Tentu, kami akan membantumu."
Tahap demi tahap, akhirnya Nabi tepat berada di puncak bukit. Tak harus menunggu lama di ketinggian, Rasulullah langsung dikajutkan dengan ramainya suara jeritan.
"Suara apa itu?" tanya Nabi, penuh heran.
Kedua laki-laki itu menjawab, "Itu adalah jerit kesakitan para penghuni neraka."
Tak lama kemudian, dua sosok itu kembali mengajak Nabi ke salah satu sumber teriakan dengan jarak yang lebih dekat. Rasulullah kembali heran bukan kepalang, dilihatnya orang-orang tergantung dengan posisi terbalik. Kakinya diikat dengan urat betisnya sendiri, sementara kepala dan rahang giginya dibenturkan ke benda-benda keras hingga pecah, bersimbah darah.
"Siapa mereka?" tanya Nabi.
Keduanya menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang dengan sengaja berbuka puasa sebelum waktunya."
Sumber: Disarikan dari
Mukhtasar al-Mukhtasar min al-Musnad ash-Shahih atau Shahih ibn Khuzaimah [1.986] Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SBH)