Cara Nabi Mempermalukan Koruptor dan Penerima Gratifikasi
ILUSTRASI: Pixabay
Jakarta:Pada tahun 9 Hijriah, Nabi Muhammad saw. menunjuk beberapa sahabat untuk menjadi petugas pemungut zakat. Salah satunya, mengangkat Abdullah ibn Al Lutbiyyah yang ditugaskan di Bani Sulaim. 

Sekali waktu, Ibn Al Lutbiyyah menghadap Rasulullah untuk memberikan laporan. Yang keliru, ia menganggap beberapa dari hasil pemungutan zakat itu sebagai hak dan bagian untuk dirinya. 


Di hadapan Nabi, ia bilang, "Ini harta zakatmu (Nabi/Negara), dan yang ini adalah hadiah (yang diberikan kepadaku).”

Mendengar penjelasan Ibn Al Lutbiyyah, Rasululullah bertanya sekaligus menyindirnya, "Jika kamu duduk saja di rumah bapak dan ibumu, apakah hadiah itu akan datang sendiri untuk kamu?”

Nabi amat tak suka terhadap pejabat yang gampang menerima hadiah. Belum sempat Ibn Lutbiyyah berkilah, Nabi langsung berbalik badan dan menaiki mimbar khotbah. Kepada jemaah, Rasulullah bersabda;

“Saya mengangkat seseorang di antaramu untuk melakukan tugas yang menjadi bagian dari apa yang telah dibebankan Allah kepadaku. Lalu, orang tersebut datang dan berkata: "Ini hartamu (Rasulullah /Negara) dan ini adalah hadiah yang diberikan kepadaku.” Jika ia memang benar, maka apakah kalau ia duduk saja di rumah ayah dan ibunya hadiah itu juga datang kepadanya?"

Nabi melanjutkan, "Demi Allah begitu seseorang mengambil sesuatu dari hadiah tanpa hak, maka nanti di hari kiamat ia akan menemui Allah dengan membawa hadiah (yang diambilnya itu), lalu saya akan mengenali seseorang dari kamu ketika menemui Allah itu ia memikul di atas pundaknya unta (yang dulu diambilnya) melengkik atau sapi melenguh atau kambing mengembik…"

Membeberkan kesalahan Al Lutbiyyah kepada jemaah, merupakan trik Nabi demi mempermalukan para koruptor dan penerima gratifikasi.

Sumber:Disarikan dari hadis riwayat Al Bukhari dan Muslim, dan penjabaran dalam Al Minhaj: Syarah Shahih Muslim karangan Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi.



(SBH)