Muhamad Ilham Azhar, mahasiswa Indonesia asal Papua yang menuntut ilmu di Amerika Serikat. Foto: Muhamad Ilham Azhar
Muhamad Ilham Azhar, mahasiswa Indonesia asal Papua yang menuntut ilmu di Amerika Serikat. Foto: Muhamad Ilham Azhar

Kisah Putra Papua Jalani Ramadan di AS saat Pandemi

Ramadan Ramadan 2020
Medcom • 19 Mei 2020 16:26
Washington: Bersekolah di luar negeri adalah salah satu impian dari kecil Muhamad Ilham Azhar. Kini dia mampu meraih cita-cita tersebut melalui beasiswa LPDP Indonesia Timur yang menghantarkannya berkuliah di American University, Washington DC.
 
Kisah Ilham ini dituliskannya dalam sebuah artikel untuk Medcom. Dia mengisahkan bagaimana Setelah lulus dari Universitas Papua Manokwari, dirinya fokus mempersiapkan segala persyaratan beasiswa dan tahapan seleksinya.
 
“Alhamdullilah, melalui beasiswa LPDP, saat ini saya sedang menempuh pendidikan pascasarjana di bidang ilmu lingkungan. Ini adalah semester pertama saya di Amerika dan sekaligus tahun pertama saya menjalani Ramadan dan Lebaran di Amerika. Harapan saya, ilmu yang saya dapatkan dari pendidikan pascasarjana ini bisa berguna untuk membangun daerah saya Manokwari, dan Indonesia pada umumnya,” tulis Ilham, kepada Medcom.id.


Situasi saat wabah covid-19


Belum lama tiba di Washington DC, tepatnya di kawasan DMV metro area yang terdiri dari DC, Maryland dan Virginia, pandemi covid-19 melanda dunia. Situasi ini segera mengubah kehidupan saya, termasuk perkuliahan, perkantoran dan peribadatan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sejak peraturan pembatasan ditetapkan pada pertengahan Maret lalu, semua orang disarankan untuk menghindari kerumunan di area umum. Alhasil, moda transportasi umum pun juga dibatasi trayeknya meskipun ada hal yang menarik, yang mana selama pandemi, moda transportasi umum di area ini digratiskan. Aturan lain adalah warga tidak boleh keluar rumah di atas jam 8.00 malam.
 
Pembatasan ini membuat jalanan di area DMV lebih lengang dari biasanya karena sebagian besar orang memilih diam di dalam rumah saja mengikuti arahan stay at home. Untuk kegiatan rutin, dirinya lebih banyak melakukan aktivitas di rumah saja, seperti kuliah, olahraga dan salat.
 
Untuk belanja, saya memutuskan untuk membeli kebutuhan pokok hanya dua kali dalam sebulan guna menghindari resiko terpapar virus. Selanjutnya, untuk perkuliahan, saya sudah melakukan kelas jarak jauh sejak pertengahan Maret sehingga semua diskusi, sesi tutorial bahkan ujian semester dilakukan jarak jauh melalui aplikasi/software media belajar yang dinamakan Blackboard.
 
Aplikasi ini secara umum dipakai oleh sebagian besar universitas-universitas Amerika untuk berinteraksi selama perkuliahan. Peraturan lain yang harus diikuti adalah kewajiban wajib memakai masker ketika memasuki pertokoan yang baru dikeluarkan pada April dan pembatasan jarak minimal 6 kaki atau sekitar 2 meter saat antri di toko-toko.


Kangen rendang buatan Ibu


Dalam situasi pandemi seperti ini, Ramadan pun menjadi sangat berbeda, apalagi saya berada jauh dari keluarga. Banyak hal yang dikangeni seperti sajian khas Ramadan yang wajib hadir seperti sambal goreng, kentang, opor dan rendang buatan Ibu.
 
Riuhnya tradisi membangunkan sahur dan berbuka juga sangat dirindukan. Pembatasan pandemi membuat Ilham tidak bisa pula menikmati kebersamaan Ramadan sahur, berbuka dan malam Lailatul Qadar dengan komunitas Muslim Indonesia di IMAAM Center (Indonesian Muslim Association in Amerika).
 
Biasanya sebelum pandemi, mahasiswa asal Manokwari itu rutin melaksanakan salat Jumat dan pengajian di Masjid IMAAM dan makan bersama komunitas yang biasanya menjadi agenda penutup setelah ceramah pada sabtu pagi. Namun dengan berat hati, kegiatan berkumpul dan makan bersama ini harus ditiadakan karena adanya peraturan pembatasan sosial.
 
Kegiatan yang masih berjalan berjalan hanya sebatas pengumpulan tajil, pengambilan tajil secara layanan tanpa turun (drive-thru) dan ceramah keagamaan secara daring.
 
Selama di Amerika Ilham lebih banyak menggunakan aplikasi Android seperti MuslimPro untuk mengecek jadwal sholat dan berbuka, selain itu kami juga mendapatkan pembaharuan jadwal salat dari IMAAM Center yang tersedia di laman web, dan medsos. IMAAM Center sendiri adalah sebuah pusat kegiatan keagamaan komunitas Muslim Indonesia di kawasan DMV metro.
 
Masjid IMAAM Center terletak hanya sekitar 30 menit dari pusat kota Washington DC. Kini tempat ini menjadi pusat dakwah, sosial, pendidikan dan solidaritas antarumat di kawasan Ibu kota Amerika Serikat.
 
Peraturan pembatasan membuat IMAAM center hanya bisa menggelar kegiatan ceramah dan kajian keagamaan secara daring menggunakan ZOOM dan Facebook Live bagi jamaah yang membutuhkan siraman rohani Ramadan. Bila sedang tidak dalam situasi pandemi, biasanya IMAAM Center mengadakan aktivitas Ramadan seperti berbuka bersama, kegiatan salat qiyamullail hingga sahur tiba.
 
Kisah Putra Papua Jalani Ramadan di AS saat Pandemi
Menikmati berbuka puasa dengan ibu kos asal Indonesia. Foto: Muhamad Ilham Azhar
 

 
Makanan yang disajikan juga masih seputar makanan khas Indonesia seperti soto daging, sate ayam , es cendol dan siomay. Saat ini, karena tak bisa santap bersama, makanan-makanan ini pun dijajakan secara berantai melalui grup Whatsap oleh komunitas Indonesia.
 
Tahun ini, Ramadan jatuh pada Mei tepat pada peralihan antara musim semi dan musim panas, jadi kami rata-rata berpuasa selama 15- 16 jam, lebih panjang dari Indonesia. Namun saya masih bersyukur karena di bulan Mei ini khususnya di wilayah pantai timur Amerika cuaca belum begitu panas sehingga untuk berpuasa terasa lebih mudah dengan kisaran suhu sekitar 10- 22 derajat celsius di siang hari. Tantangan buat saya selama menjalankan puasa di Amerika hanyalah menyesuaikan dengan durasi puasa dan waktu berbuka serta sahur yang hampir berdekatan. Untuk tarawih, saya laksanakan secara mandiri di rumah.
 
Waktu berbuka seperti mahasiswa pada umumnya, saya memilih untuk masak sendiri di rumah. Selain bisa menghemat pengeluaran, berkreasi memasak bisa menjadi aktivitas saya untuk ngabuburit. Biasanya saya berbuka terlebih dahulu dengan kurma dan buah-buahan. Untuk makanan berat, saya memasak ayam goreng dan sop daging serta cemilan khas Amerika seperti muffin dan biscuit kacang. Untuk sahur, saya sudah mempersiapkan lauk seperti mengungkep ayam dan masak nasi dari sore hari sehingga saat sahur, saya tinggal menggorengnya.


Menjadi Muslim di AS


Pengalaman saya sebagai Muslim di Amerika selama lima bulan ini adalah bisa bertemu dengan banyak kawan Muslim yang beragam mereka banyak berasal dari Afrika, Timur Tengah dan Asia.
 
Saya jadi mengenal keanekaragaman umat Muslim dari berbagai belahan dunia dan ini tentu juga memperkaya khasanah keislaman saya. Hidup sebagai Muslim di Amerika membuat saya harus pintar dalam membagi waktu antara mengerjakan kewajiban keagamaan dan mengikuti perkuliahan.
 
Untungnya, kampus tempat saya belajar sangat menghargai kewajiban beragama. Dalam silabus kuliah, saya mendapati ada pengecualian untuk tidak mengikuti kelas ataupun mengganti jadwal kelas dan ujian bila harus menjalankan kewajiban beragama seperti saat perayaan Idul Fitri atau hari besar keagamaan lainnya.
 
Untuk makanan halal, karena saya tinggal di kota besar, saya tidak menemukan kesulitan mencari kedai makanan halal dan toko yang menjual bahan makanan halal disini, toko seperti Deshi Bazaar Halal Meat, Bismilaah 355 Halal Meat banyak menjual makanan halal. Selain itu, saya juga dapat memesan makanan halal seperti kebab dan nasi briyani melalui aplikasi UberEat.
 
Mendapatkan kesempatan bersekolah di Amerika dan bisa merasakan kehidupan sebagai Muslim di negeri orang bagi saya menjadi pengalaman hidup yang berharga dan saya sangat mensyukuri momen ini. Di sini, saya tinggal di lingkungan yang sangat majemuk namun tetap menjunjung tinggi kedisiplinan dan saling menghargai. Saya juga menemukan bahwa beberapa budaya di Amerika juga mirip dengan budaya Indonesia yang ramah dan saling menyapa saat bertemu walaupun dengan orang baru.
 
Saya tidak mempersiapkan banyak hal untuk Lebaran karena prediksi saya masih akan ada dalam masa pembatasan. Namun, bersama ibu kos saya yang juga orang Indonesia, kami sudah merancang untuk memasak hidangan-hidangan tradisi Ramadan seperti ketupat dan opor yang bisa disantap bersama rekan- rekan terdekat. Meski saya berada jauh dari Indonesia, setidaknya masakan-masakan tersebut akan mengobati rindu saya akan citarasa khas tanah air.
 
Saya memaknai Ramadan di tengah pandemi ini sebagai kesempatan bagi saya untuk lebih fokus kepada ibadah puasa saya. Dengan banyak berada di rumah, saya lebih khusyu berdoa ataupun mengikuti kajian keagamaan secara daring. Saya pun juga dapat meluangkan lebih banyak waktu untuk menelepon keluarga saya di Indonesia.
 
Semoga berkah Ramadan kali ini bisa memberikan kekuatan bagi umat manusia untuk tawakal dalam menghadapi pandemi dan lebih bijak untuk mengikuti arahan pembatasan sosial yang diberikan.
 

 

 
Penulis adalah Muhamad Ilham Azhar, Mahasiswa S2 American University Jurusan Ilmu Lingkungan (Environmental Science).
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif