Kasmawati Ahmad bersama teman-teman menjalani bulan Ramadan di Amerika/istimewa
Kasmawati Ahmad bersama teman-teman menjalani bulan Ramadan di Amerika/istimewa

Cerita Mahasiswa Asal Indonesia Berpuasa 16 Jam di Amerika

Ramadan Ramadan 2020
Daviq Umar Al Faruq • 19 Mei 2020 14:45
Malang: Kasmawati Ahmad, tak pernah membayangkan bakal menjalani Ramadan di Amerika. Terlebih di tengah situasi pandemi virus korona atau covid-19 seperti saat ini.
 
Kasma, sapaan akrabnya, mengaku menjalani Ramadan di Amerika dengan tidak mudah. Sebab, alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu harus menyesuaikan diri kondisi Amerika dibanding Indonesia.
 
Perempuan asal Pulau Buru, Maluku itu pun mengaku rindu momen Ramadan yang tidak bisa ia dapatkan saat berada di Negeri Paman Sam. Seperti salat tarawih berjemaah dan tradisi membangunkan sahur.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ingat banget, kalau di Indonesia, semua masjid pasti sudah penuh dengan jemaah. Di masjid ramai dan kadang ketemu kerabat yang sudah lama tidak ketemu. Di saat sahur, bisa kedengaran suara anak-anak sambil nyanyi atau teriak-teriak sahur-sahur. Di sini, cuma suara alarm HP aja atau teman yang bangunin. Enggak ada suara adzan. Sedih banget sebenarnya," katanya, Selasa 19 Mei 2020.
 
Peraih beasiswa LPDP Indonesia Timur untuk studi Master Business Administration di Clark University itu sebelumnya sempat khawatir karena waktu puasa di Amerika selama 16 jam, sementara di Indonesia hanya 13 jam. Namun berkat teman-temannya dari berbagai negara sesama muslim, ia tetap bisa menikmati ramadan di tanah rantau.
 
"Alhamdulillah, saya sangat menikmati suasana ramadan di Amerika walaupun saya sempat khawatir dengan perbedaan waktu dan lingkungan di sini. Kebetulan saya tinggal dengan kawan-kawan muslim dari empat negara yang berbeda apalagi di sini muslim community-nya sangat kuat sehingga masalah perbedaan suasana bisa sedikit ringan untuk saya hadapi," jelasnya.
 
Meski begitu, tetap bisa melalui Ramadan dengan indah bersama empat teman kosnya yang juga muslim. Mereka berasal dari Arab Saudi, Pakistan, India dan Algeria. Setiap harinya, mereka sepakat untuk memasak makanan khas dari negara masing-masing.
 
Lidah Indonesianya tak bisa dibohongi. Kasma pun lebih memilih memasak kolak, gorengan dan sambal karena mudah dan praktis. Sementara teman-temannya yang lain membuat sup, roti dan pasta dengan rasa yang bervariasi.
 
"Makanan di atas meja saat buka puasa jadi sangat bervariasi," tutur perempuan yang pernah aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ini.
 
Sementara untuk mengobati rasa rindu terhadap jajanan buka puasa di Indonesia, Kasma memilih untuk membuatnya sendiri. "Saya masih belajar untuk mencoba memasak beberapa jajanan yang bisa mengobati rasa rindu rumah," katanya.
 
Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di Amerika, Kasma yang tinggal di Worcester, Massachusetts mengaku tidak mengalami kesulitan. Ia dapat dengan mudah menemukan supermarket yang menyediakan kebutuhan hidup sehari-hari. Dekat apartemennya, ada lima supermarket asia yang menyediakan bahan-bahan masakan merek Indonesia.
 
"Bahkan di sini, saya bisa gampang dapat ikan segar tiap hari jumat di salah satu Asian Market. Jaraknya hanya 8 menit jalan kaki dari apartemen saya. Saya biasanya belanja seminggu sekali langsung ke supermarket," tuturnya.
 
Saat berkunjung ke supermarket, ia pun tidak khawatir sebab beberapa supermarket sudah menyediakan sarung tangan untuk tiap pengunjung. Lokasi supermarket pun sudah disterilisasi dan patuh pada aturan physical distancing.
 
Sebelum mengambil studi Master di Amerika, Kasma lebih dulu bertandang ke Amerika untuk membawa konsep kewirausahaan sosial. Kasma terpilih mewakili provinsinya, Maluku, dalam ajang Young Southeast Asian Leader Initiatif (YSEALI) pada tahun 2019 selama lima pekan.

 

(ALB)
LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif