Skenario BPTJ Urai Kemacetan di Rest Area KM 19 Tol Jakarta-Cikampek

Muhammad Al Hasan 07 Juni 2018 03:10 WIB
Mudik Lebaran 2018
Skenario BPTJ Urai Kemacetan di <i>Rest Area</i> KM 19 Tol Jakarta-Cikampek
Direktur Lalu Lintas dan Angkutan BPTJ Karlo Manik (kanan) menjelaskan tiga skenario mengurai kemacetan di rest area KM 19 Tol Jakarta-Cikampek. (Foto: Medcom.id/Muhammad Al Hasan).
Jakarta: Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) tengah bersiap menghadapi musim mudik Lebaran 2018. Salah satunya mengantisipasi kemacetan yang kerap terjadi di rest area KM 19 ruas Tol Jakarta-Cikampek saat arus mudik Lebaran.

"Rest area juga yang di KM 19 kita punya skenario, bagaimana mengatasi masalah dari tahun-tahun sebelumnya yang mana ini menjadi titik kemacetan yang besar pengaruhnya kepada angkutan Lebaran kita," kata Direktur Lalu Lintas dan Angkutan BPTJ, Karlo Manik, di Gedung Kementerian Perhubungan, Jakarta Pusat, Rabu, 6 Juni 2018.


Skenario itu antara lain mengatur sirkulasi kendaraan sesuai dengan kapasitas rest area tersebut. Mekanismenya, BPTJ telah berkoordinasi dengan Jasa Marga dan pemerintah daerah setempat.

"Contohnya di depan Starbucks itu kan enggak boleh masuk ke situ, tapi nanti mobil kecil bisa masuk ke sana. Jadi akan dilakukan manajemen rekayasa lalin (lalu lintas) di sana," ungkap Karlo.

Baca juga: 1,4 Juta Kendaraan Bakal Tinggalkan Ibu Kota

Selain itu, BPTJ akan memasang perangkat kontrol lalu lintas atau Variable Message Sign (VMS). Perangkat tersebut berfungsi sebagai pesan kepada pengguna jalan terhadap jumlah kendaraan yang terparkir di rest area KM 19.

"Adanya VMS supaya pengendara mengetahui ruang parkir di rest area itu yang tersedia. Jadi supaya orang tahu mau lanjut atau parkir," jelasnya.

Kemudian, beber Karlo, pihaknya juga akan mengatur waktu pengisian bahan bakar kendaraan. Setiap kendaraan hanya diperbolehkan mengisi bahan bakar dengan kelipatan Rp50 ribu dan tidak boleh mengisi hingga penuh.

"Kita pikir-pikir saja kalau kita mengisi bensin. Kita minta sampai penuh itu memakan lebih lama dari kita membayar Rp200 ribu, itu pengaruhnya juga cukup besar," tandasnya.





(HUS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id