Mudik dengan Kapal Laut Masih jadi Primadona
Pemudik di Tanjung Priok. (FOTO: Medcom.id/Kautsar)
Jakarta: Moda transportasi kapal laut ternyata masih diminati sebagian masyarakat yang hendak pulang ke kampung halaman. Meski waktu tempuh terbilang lama yakni 12 jam hingga 24 jam, transportasi tersebut diminati karena tidak merogoh kocek terlalu dalam.

Namun dengan harga yang terjangkau, tentu menjadi langka menjelang hari kemenangan bagi umat muslim. Bagi mereka yang beruntung, dapat berangkat secara cuma-cuma melalui agenda pemerintah. Sedangkan bagi kalangan masyarakat yang belum mengetahui agenda mudik gratis, terpaksa hanya gigit jari dengan membeli tiket dari calo.


Hal tersebut diakui oleh salah satu penumpang kapal, Rita, yang berencana menuju kampung halamannya di Bangka Belitung. Ia bersama keluarganya harus membeli tiket seharga Rp350 ribu ke pihak ketiga atau calo, itu pun menggunakan kapal barang.

"Kita sudah coba cari agen resmi, tapi enggak ada. Lalu ada yang kasih info agen itu, dia (calo) juga bilang harga biasa Rp280 ribu tapi Lebaran naik bisa sampai Rp400 ribu," ujarnya kepada Medcom.id.

Rasa takut untuk naik transportasi  yang sudah lama tidak ia pijaki kurang lebih 10 tahun lalu, coba ia hilangkan. Terlebih kapal barang menjadi modal transportasi menuju tanah kelahirannya. Pasalnya kepulangannya ini dilakukan demi sang buah hati yang sudah hampir delapan tahun tidak mengunjungi tanah kelahiran ibunya.

"Mau enggak mau, terpaksa naik kapal, daripada tidak pulang kampung. Ini anak saya tidak pulang delapan tahun, ingin lihat keluarga yang di sana," tambahnya.

Namun seperti halnya peribahasa, berakit-rakit ke hulu berenang ke tepian. Demi merasakan kehangatan Lebaran, ia bersama keluarganya harus menunggu sejak pukul 15.00 WIB dengan pemberangkatan jadwal yang masih tidak diketahui kepastiannya, lantaran pihak calo yang tidak dapat memberi kepastian waktu keberangkatan. Terpaksa dinginnya lantai ruang tunggu pelabuhan dijadikan kasur. Sementara tas mudik dijadikan alas kepala.

"Awalnya bilang berangkat pukul 16.00 WIB, terus ditunda, bilang pukul 18.00 WIB, tidak lama bilang pulang 19.00 WIB," keluhnya.



Alhasil, usai Lebaran, ia lebih memilih untuk menggunakan pesawat ketimbang menggunakan kapal. Namun dengan catatan sudah memesan jauh-jauh hari, sehingga harga yang diperoleh tidak terlalu mencekik kantong.

"Kalau saya milih lebih baik pesawat, naik kapal, lama, terus lebih berasa ombaknya. Tapi saya mesannya kemarin mepet, kalau tiga bulan yang lalu mungkin bisa dapat Rp300 ribu untuk pesawat. Beli mepet jadinya sudah Rp1,2 juta," imbuhnya.

Sementara itu lain halnya dengan Setyo, pemudik asal Salatiga ini lebih beruntung lantaran dapat memperoleh kuota mudik gratis yang dilakukan pemerintah menggunakan kapal.

Rupanya ia sudah menjadi langganan acara mudik gratis yang dilakukan Kementerian Perhubungan (Kemenhub), bahkan sejak pertama kali acara tersebut diadakan. Dia sudah menjadi langganan mudik gratis sejak dari belum memiliki istri hingga sang istri sudah mengandung.

Rutinitas tersebut ia pilih karena kapal lebih efisien, lantaran dapat mengangkut motor yang digunakan untuk mobilitas di kampung halamannya.

"Lebih efisien karena bisa bawa motor. Kalau di kampung enggak bawa motor jadi susah. Kalau transportasi yang lain bawa motor kadang dibatasi," tuturnya. 

Rutinitas yang ia lakukan semenjak 2003 ini, lebih terasa lama saat perjalanan. Lantaran ia memperoleh kapal jenis perintis yang memakan waktu hingga 24 Jam menuju Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang. Sedangkan kapal jenis Roro yang memiliki kapasitas daya tampung mencapai 2.500, dapat memakan waktu hanya 12 jam.

"Kalau boleh saya milih yang kapal besar tapi agak cepat, berangkat sore dari Jakarta, sampai di sana paginya. Kalau ini kan bisa sampel Subuh esoknya," tuturnya.

Sementara itu, berdasarkan pengamatan tim Medcom.id suasana di Pelabuhan Tanjung Priuk tidak ada penumpukan penumpang yang signifikan, bahkan cenderung landai. Beberapa petugas pelabuhan menyakini banyak masyarakat yang lebih memilih menggunakan mudik gratis lainnya melalui jalur darat, yang tentunya memakan waktu lebih cepat.



(AHL)