Ilustrasi. Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo
Ilustrasi. Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo

Cerita Perantau Ibu Kota

Ramadan Mudik Lebaran 2019
Kautsar Widya Prabowo • 10 Juni 2019 06:01
Jakarta: Cerita manisnya Ibu Kota boleh jadi akan dibawa Tedy, 21, ke kampung halamannya di Kediri, Jawa Timur. Ia baru akan mudik empat hari setelah Lebaran.
 
Tedy mengaku bakal sekitar dua pekan berada di Kediri. Setelah itu, ia akan kembali, dan berencana mengajak kerabat dan temannya yang mengaku tertarik mengadu nasib di Jakarta.
 
"Ada orang yang mau ikut (bekerja)," kata Tedy saat berbincang dengan Medcom.id di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Minggu, 9 Juni 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tedy mengaku sudah empat tahun merantau di Jakarta. Saban hari, ia bekerja di sebuah rumah makan khas Padang, Sumatra Barat yang terletak di pinggiran Jakarta. Ia berencana mengajak kerabatnya yang ingin merantau, buat bekerja di tempat yang sama.
 
"Lima orang (yang dibawa). Mungkin nanti kerja di rumah makan itu (tempat saya kerja)," ungkapnya.
 
Tedy yakin, kerabat yang ia bawa bakal bisa diterima di tempatnya bekerja. Kendati, ia sebenarnya belum mendapat kepastian dari sang pemilik rumah makan.
 
"Karena biasanya di tempat saya ada aja yang habis pulang kampung enggak balik lagi. Makanya saya ajak, Insyaallah (kelimanya bisa bekerja)," ucap Tedy.
 
Tedy bisa dibilang tergolong nekat mengajak teman dan kerabatnya ke Jakarta. Pasalnya, tak semua perantau mudah mendapat kerja di Ibu Kota. Setidaknya itu yang dirasakan Leo, 35, warga perantau asal Pandeglang, Banten.
 
Leo telah kembali dari kampung halamannya usai mudik Lebaran. Ia kembali ke Jakarta menumpang kereta rel listrik (KRL), dan turun di Stasiun Pasar Senen.
 
Leo mengaku bekerja sebagai kuli bangunan di Jakarta. Namun, setahun belakangan ia menganggur lantaran sepi 'proyek'.
 
"Saya sih kerja di bangunan, kadang ada (pekerjaan), kadang enggak ada (pekerjaan) kalau sekarang belum ada kerjaannya," kata Leo.
 
Setelah tiba di Jakarta usai Libur Lebaran, Leo juga belum tahu kapan bakal bisa kembali bekerja sebagai kuli bangunan. Ia hanya bisa menunggu ada rekannya yang mengajak bekerja. Sementara, Leo dipastikan menganggur.
 
"Ya biasa nganggur aja. Keluarga istri saya di gang itu (gang Laras pasar Senen), kalau saya asli Pandeglang," cerita Leo.
 
Leo juga mengaku belum terpikir untuk mencari pekerjaan lain. Sebab, ia mafhum punya keterampilan yang terbatas.
 
Jangankan keterampilan, Kartu Tanda Penduduk (KTP) saja ia lupa bawa. Namun, ia mengaku tak begitu khawatir. Toh, Pemprov DKI sudah memberi kode kalau tak bakal ada operasi yustisi setelah Lebaran. Beda dengan kebiasaan Pemprov DKI sebelumnya.
 
"Saya enggak bawa apa-apa, KTP saya ketinggalan, bawa barang-barang ini saja (satu kardus mie instan dan satu karung beras)," kata Leo.
 

(AGA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif