Sebuah proyek pembangunan superblok dan apartemen di Bekasi. Para pembeli hunian yang berjarak 2 jam perjalanan bermobil dari Jakarta ini didominsi investor. ilustrasi/Antara Foto
Sebuah proyek pembangunan superblok dan apartemen di Bekasi. Para pembeli hunian yang berjarak 2 jam perjalanan bermobil dari Jakarta ini didominsi investor. ilustrasi/Antara Foto

Lama Stagnan, Masihkah Investasi Properti Menjanjikan?

Properti investasi properti bisnis properti
Rizkie Fauzian • 06 Oktober 2018 09:28
Jakarta: Para pencari properti masih optimistis dengan iklim pasar properti nasional di semester II-2018. Meski demikian, kepuasan terhadap upaya Pemerintah dalam menjaga harga properti tetap terjangkau mengalami penurunan.
 
Hal ini terlihat dari hasil survei Rumah.com Property Affordability Index semester I-2018, di mana sebanyak 66 persen responden merasa puas dengan iklim properti saat ini. Namun, angka ini menurun 1 persen dibandingkan semester sebelumnya.
 
Kepuasan terhadap iklim properti ini mayoritas didasarkan pada faktor kenaikan harga properti yang stabil, serta apresiasi terhadap kenaikan harga properti jangka panjang. Sementara itu, kenaikan harga properti dan uang muka yang terlalu tinggi menjadi penyebab responden tidak puas dengan iklim properti di Indonesia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Faktor kenaikan harga memang selalu dipandang dari dua sisi. Bagi mereka yang optimistis, mereka melihatnya sebagai peluang investasi di masa depan, sementara mereka yang pesimistis, ini disebabkan keraguan terhadap kemampuan finansial mereka," Head of Marketing Rumah.com, Ike Hamdan,
 
Instrumen investasi di sektor riil seperti properti masih sangat menjanjikan. Lantaran dibanding negara Asia lainnya, Indonesia masih menjadi negara tertinggal terutama karena infrastruktur yang belum memadai.
 
"Dari faktor infrastruktur, saya melihat proyek LRT dan MRT akan membawa perubahan besar dalam dunia properti. Sedangkan dari faktor perekonomian, properti ini sebenarnya leading indicator. Saat ekonomi mau menanjak, biasanya properti sudah ‘lari duluan’. Begitu sebaliknya, saat ekonomi bergerak menurun, properti yang sudah lebih dulu bersiap," papar Senior Chief Economist PPA Capital, Ferry Latuhihin.
 
Prospek properti juga sangat bergantung pada beberapa faktor eksternal terkait, di antaranya:
 
Economic growth
Business cycle
Interest rate
LTV ratio
Infrastructure
Demography (population: volume and age)
Government regulation
Location

 
"Akan tetapi indikator ekomomi sekarang jauh lebih baik dibandingkan dua tahun silam. Saat ini posisi Indonesia berada dalam urutan ke-17 setelah Spanyol dan Meksiko. Bahkan masih lebih tinggi dibandingkan negara tetangga yakni Singapura dan Malaysia," jelas Fund Manager Ayers Asia Asset Management, Heru Irvansyah.
 

 

 

(LHE)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif