Ilustrasi kawasan industri. Foto: MI/Atet Dwi Pramadia
Ilustrasi kawasan industri. Foto: MI/Atet Dwi Pramadia

Transaksi Lahan Industri Capai 311 Ha, Sinyal Harga Naik

Rizkie Fauzian • 20 Februari 2026 14:34
Ringkasnya gini..
  • Penyerapan lahan industri 2025 menembus 311,85 hektare, jauh di atas rata-rata historis. Pasok terbatas membuat harga diproyeksi naik awal 2026.
  • Tanpa pasok baru di kuartal akhir, pasar lahan industri tetap kuat. Bekasi hampir penuh, ekspansi bergeser ke Karawang hingga Subang.
  • Investasi manufaktur dan data center dorong lonjakan transaksi lahan industri. Colliers prediksi tren kenaikan harga mulai 2026.
Jakarta: Pasar lahan industri di Greater Jakarta menunjukkan ketahanan yang solid sepanjang 2025. Meski tidak ada peluncuran pasok baru pada kuartal terakhir, tingkat penyerapan tetap kuat dan bahkan melampaui rata-rata tahunan historis.
 
Total transaksi lahan industri sepanjang 2025 tercatat mencapai 311,85 hektare. Angka ini jauh melampaui rata-rata tahunan periode 2020–2023 yang berada di level 213 hektare. Kinerja tersebut menandakan pasar telah kembali ke jalur penyerapan yang lebih berkelanjutan, terutama didorong oleh investasi asing berbasis manufaktur.
 
Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menyampaikan bahwa fundamental pasar tetap kokoh meski tanpa tambahan pasokan baru.

“Pasar lahan industri Greater Jakarta terus menunjukkan fundamental yang kuat. Penyerapan lahan telah melampaui rata-rata tahunan 2020–2023, bahkan tanpa adanya peluncuran pasokan baru pada tahun ini,” ujar Ferry dalam keterangan tertulis, Jumat, 20 Februari 2026.
 
Laporan Quarterly Property Market Q4 2025 dari Colliers Indonesia mencatat adanya pengetatan pasok secara struktural, khususnya di kawasan industri yang telah matang. Bekasi sebagai hub utama kini mendekati kapasitas efektif dengan sisa lahan sekitar 100 hektare.
 
Kondisi ini memicu pergeseran strategis ke koridor baru seperti Karawang, Purwakarta, dan Subang, yang dinilai memiliki potensi ekspansi lebih besar dan ketersediaan lahan yang relatif lebih longgar.
 
Dari sisi sektor, industri manufaktur tetap menjadi tulang punggung permintaan, mencakup otomotif, tekstil, alat berat, hingga barang konsumsi. Selain itu, sektor data center juga muncul sebagai penggerak permintaan signifikan, terutama di kawasan GIIC (Greenland International Industrial Center) yang semakin diminati pelaku industri berbasis teknologi dan digital.
 
Melihat tren permintaan yang terus kuat dan pasokan yang semakin terbatas, Ferry memproyeksikan adanya tekanan kenaikan harga pada awal 2026.
 
“Berdasarkan permintaan yang terus kuat dan pasokan yang terbatas, kami memproyeksikan harga lahan industri akan mengalami tren kenaikan pada awal 2026 seiring meningkatnya kompetisi terhadap lahan siap bangun,” jelas dia.
 
Saat ini, harga rata-rata lahan industri di Greater Jakarta berada di level USD177,84 per meter persegi. Meski volatilitas nilai tukar memengaruhi harga dalam denominasi dolar AS, fundamental pasar dinilai tetap solid dan mendukung pertumbuhan jangka menengah.
 
Laporan tersebut juga menyoroti perubahan kebijakan pemerintah terkait kendaraan listrik atau electric vehicles (EV). Setelah insentif fiskal untuk unit impor berakhir pada akhir 2025, pemerintah kini mengarahkan fokus pada percepatan manufaktur domestik.
 
Mulai Januari 2026, produsen diwajibkan memenuhi persyaratan produksi lokal yang lebih ketat. Kebijakan ini diperkirakan akan mendorong peningkatan permintaan terhadap lahan industri, khususnya untuk fasilitas perakitan otomotif dan produksi komponen baterai, seiring transformasi ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(KIE)




TERKAIT

BERITA LAINNYA