Seorang penghuni rumah susun memindahkan burung peliharaannya di rusun Petamburan, Jakarta. Rumah susun menjawab kebutuhan hunian terjangkau di perkotaan yang menghadapi masalah urbanisasi dan keterbatasan lahan. MI/Ramdani
Seorang penghuni rumah susun memindahkan burung peliharaannya di rusun Petamburan, Jakarta. Rumah susun menjawab kebutuhan hunian terjangkau di perkotaan yang menghadapi masalah urbanisasi dan keterbatasan lahan. MI/Ramdani

Repotnya Menggarap Hunian untuk Milenial di Perkotaan

Properti apartemen bisnis properti kpr
Haufan Hasyim Salengke • 16 Januari 2019 08:09
Jakarta: Data terbaru Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebut populasi penduduk rentang usia 18-38 tahun sekitar 90 juta jiwa. Proporsinya 34,45% dari jumlah total penduduk Indonesia.
 
Artinya kelompok usia yang disebut generasi milenial inilah paling membutuhkan hunian. Masalahnyanya bukan perkara mudah menggarap segmen pasar yang gemuk tersebut. Terutama untuk di kota sebesar Jakarta.
 
"Data kami menunjukkan bahwa 96% milenial hanya bisa membeli 3% dari rumah yang ada di Jakarta," ujar Country General Manager Indonesia REA Group, Ignatius Untung, kepada Media Indonesia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Rendahnya daya beli ini akibat dari tingginya harga hunian di Jakarta yang harga lahanya sudah sangat melangit. Harga unit apartemen tipe studio di Jakarta saat ini sudah setara harga rumah tapak di pinggiran Jabodetabek.
 
Di sisi lain rumah tapak yang cicilan sesuai dengan kemampuan keluarga mudah tersedia di pinggiran Jabodetabek. Sementara pasar membutuhkannya untuk kawasan di dalam atau setidaknya di pinggiran Jakarta.
 
"Sebetulnya pasarnya itu di harga Rp 500 juta ke bawah. Ya mau enggak mau mereka lari ke apartemen, dan apartemen pun yang harga Rp 350 jutaan sudah terbatas," kata pegamat properti dari Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda.
 
Tingginya kebutuhan hunian terjangkau di Jakarta juga menjadi perhatian Kementerian PUPR melalui program Satu Juta Rumah. Tapi memang pilihan paling masuk akal adalah rumah susun sewa dan dikhususkan bagi kelompok generasi milenial yang first jobber.
 
Ada pula klaster milenial sedang berkembang dibuatkan skema subsidi fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) diperluas. Adapun untuk milenial yang sudah berkembang bisa mandiri karena sudah mampu membeli rumah sesuai yang mereka inginkan.
 
"Selain itu, perlu dibedakan perlakukan milenial kota dan desa," papar Dirjen Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Khalawi Abdul Hamid, tentang pembagian tiga kelompok generasi milenial.
 

 

(LHE)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi