Jembatan Youtefa atau jembatan merah di Papua. Foto: Medcom.id/Roylinus
Jembatan Youtefa atau jembatan merah di Papua. Foto: Medcom.id/Roylinus

Desain Jembatan Harus Memiliki Ciri Khas Daerah

Properti infrastruktur konstruksi jembatan gantung jembatan kaca Kementerian PUPR
Rizkie Fauzian • 20 September 2020 16:00
Jakarta: Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus membangun infrastruktur untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional. Salah satunya jalan dan jembatan yang membantu kelancaran distribusi logistik.
 
"Khusus untuk pembangunan jembatan, saya sampaikan ke depannya agar terus diberikan sentuhan arsitektural (art). Seperti pada Jembatan Youtefa yang ada ornamen ciri khas daerah Papua dan Jembatan Batam Bintan agar ada sentuhan seninya," kata Menteri Basuki dalam keterangan tertulis, Minggu, 20 September 2020.
 
Dalam periode 2015-2019, Kementerian PUPR telah membangun jalan nasional sepanjang 3.867 km, jalan tol 1.500 km, dan jembatan sepanjang 58.346 meter. Hal tersebut sebagai upaya peningkatan konektivitas dan mempercepat pembangunan transportasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara itu, perancang Jembatan Lengkung LRT Kuningan Arvila Delitriana mengungkapkan, Indonesia saat ini membutuhkan pembangunan beberapa jembatan bentang dengan panjang lebih dari 100 meter. Sehingga peluang kerja bagi para ahli jembatan di Indonesia masih sangat besar.
 
"Mengingat kebutuhan dan ketersediaan ahli bidang jembatan masih sangat jauh. Karena bidang ini membutuhkan keahlian khusus dan harus disertifikasi oleh Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ)," ujarnya.
 
Untuk memenuhi kebutuhan SDM ahli jembatan tersebut, Menteri Basuki menyatakan Kementerian PUPR telah mendirikan Politeknik Pekerjaan Umum di Semarang dan mengembangkan Program Super Spesialis bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Diponogoro (Undip), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
 
Basuki menyampaikan dalam setiap pembangunan infrastruktur mulai dari tahap survei, investigasi, desain, pembebasan tanah, konstruksi, hingga operasi dan pemeliharaan harus senantiasa memperhatikan dan memenuhi aspek-aspek secara sosial diterima oleh masyarakat (socially acceptable), secara ekonomi menguntungkan (economically viable), dan ramah lingkungan (environmentally sound).
 
"Sebagai contoh ke depannya pembangunan jalan tol diupayakan tidak lagi akan ada yang membelah bukit, namun dengan membuat terowongan (tunnel) seperti rencana Jalan Tol Pekanbaru-Padang untuk menembus Bukit Barisan. Kita akan perhatikan betul aspek ramah lingkungan," ujarnya.
 
Untuk mendukung pengembangan inovasi dan teknologi, Menteri Basuki menekankan pentingnya penggunaan hasil inovasi produk dalam negeri.
 
"Contohnya saya paksa pembelian excavator dari Pindad, setiap tahun Kementerian PUPR beli. Sekarang produknya mulai berinovasi, sudah ada excavator kecil dan excavator amphibi," tuturnya.
 
(KIE)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif