Evolusi Gedung Kantor, Tantangan Rukan Modern

Rizkie Fauzian 29 Maret 2018 16:00 WIB
bisnis properti
Evolusi Gedung Kantor, Tantangan Rukan Modern
Deretan gedung perkantoran yang mencakar langit Jakarta. Suplai terus bertambah seiring pertumbuhan ekonomi nasional. Antara Foto/Dhemas Revianto
Jakarta:Rumah toko atau ruko yang bertingkat dua hingga lima, mulai bertambah fungsinya. Lantai dasar tidak cuma untuk toko atau warung dan lantai di atasnya bukan lagi tempat tinggal pemiliknya. Unit ruko kini banyak yang menjadi kantor.

Trend tersebut diawali oleh perbankan yang membuka kantor cabang pembantu di ruko-ruko agar lebih dekat dengan nasabah. Lalu bisnis bengkel dan mini market yang menggunakan lantai atas sebagai gudangnya.


Belakangan trend tersebut berlanjut dengan bermunculannya pengusaha mandiri yang bergerak di bidang jasa seperti pengacara, desainer, kontraktor dan sebagainya. Mereka lebih memilih membeli ruko untuk dijadikan kantor dibanding menyewa ruang di gedung perkantoran.

"Ini bisa terus berkembang. Ruko atau rukan masih menarik jadi investasi, lebih affordable," kata Kepala Departemen Riset Savills Indonesia Anton Sitorus dalam media briefing di Jakarta, Rabu (28/3/2018).

Meski tren rukan modern sedang berkembang, namun ada beberapa tantangan. Pertama, rukan membutuhkan lahan yang lebih luas dibandingkan gedung kantor biasa. Kedua, adanya evolusi ruang kantor.

"Dalam beberapa tahun mungkin ruang kantor akan berubah, terutama saat ini adanya generasi milenial. Mereka kan nantinya akan bekerja dikantor juga, mereka ini kan maunya kantor yang lebih fleksibel, desain yang kreatif, lokasi di tengah kota, serta penggunaan efisein," jelasnya.


Meski demikian, Anton yakin jika pun ada perubahan namun tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Artinya, orang-orang tetap membutuhkan kantor-kantor seperti rukan modern. Bukan tak mungkin, di masa mendatang rukan akan berdampingan dengan gedung-gedung perkantoran.

"Rukan ini masih akan diminati oleh pemilik usaha, tapi memang lokasinya berada di pinggir Jakarta, bukan di kawasan CBD. Kalau CBD kan paling banyak perusahaan asing. Rukan akan tetap berkembang dan disukai oleh pemilik perusahaan individual," tambah Anton.

 



(LHE)