Pengembang minta kemudahan perizinan di masa pandemi. Foto: Shutterstock
Pengembang minta kemudahan perizinan di masa pandemi. Foto: Shutterstock

Pengembang Minta Kemudahan Perizinan akibat Pandemi

Properti investasi properti perumahan bisnis properti rumah tapak
Antara • 09 September 2020 18:57
Jakarta: Asosiasi Real Estat Indonesia (REI) meminta pemerintah mempermudah perizinan guna mengatasi dampak pandemi dan mengantisipasi dampak resesi terhadap kinerja pelaku usaha sektor properti nasional.
 
"Gerak cepat pemerintah sangat diperlukan. Permudah perizinan. Kita tentu tidak berharap terjadi resesi. Pengembang harus kerja sangat keras untuk bisa bertahan," kata Ketua DPD REI DKI Jakarta Arvin F Iskandar dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu, 9 September 2020.
 
Menurut Arvin, akibat pandemi kondisi sebagian besar anggota REI terutama di DKI Jakarta semakin melemah sebagai dampak penurunan aktivitas ekonomi seperti tingkat penjualan jatuh, sedangkan biaya yang dikeluarkan tetap.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Arvin mengutarakan harapannya kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menggairahkan bisnis real estat dengan memberikan keringanan pajak hotel dan restoran dalam menghadapi pandemi virus corona.
 
"Kami meminta otoritas berwenang mempertimbangkan stimulus agar jangan sampai pengembang mengalami kesulitan untuk membayar kredit. Beri kami ruang gerak dulu, minimum sampai akhir tahun," katanya.
 
Ia mengemukakan DPD REI DKI Jakarta telah melakukan riset khususnya kepada para pengembang yang terdaftar sebagai anggota, dengan lokasi proyek tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).
 
Menurut Arvin, salah satu tujuan dari kegiatan riset dan survei yang dilakukan oleh DPD REI DKI Jakarta ini adalah untuk memberikan gambaran sekaligus memudahkan pelaku usaha dan konsumen dalam mengambil keputusan.
 
Terkait hasil riset dan survei, Arvin mengatakan, hampir semua pengembang di Jabodetabek memang dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan ini mengalami penurunan penjualan. Namun, pada akhir 2019, sebenarnya sudah mulai membaik.
 
"Tahun lalu, sebetulnya berat. Tetapi kami masih optimistis dan itu tercermin dari hasil riset kami, yakni 73 persen menyatakan bahwa kondisi real estat sama atau bahkan lebih baik dari tahun sebelumnya. Sebanyak 61 persen menyatakan penjualan produk tahun 2019 sama atau bahkan lebih baik dari tahun sebelumnya. Dari sisi regulasi dan dukungan pembiayaan demikian juga," jelasnya.
 
Sebanyak 86,5 persen menyatakan bahwa suku bunga kredit memberikan dampak lebih baik bagi iklim usaha dan 79,3 persen menyatakan pemerintah sudah cukup baik, bahkan sangat baik dalam menyediakan infrastruktur.
 
(KIE)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif