Kondisi rumah yang rusak akibat gempa bumi di Lombok Barat, NTB. (Foto: MI)
Kondisi rumah yang rusak akibat gempa bumi di Lombok Barat, NTB. (Foto: MI)

Perbaikan Rumah Tahan Gempa di Kawasan Wisata NTB Terkendala Biaya

Properti Gempa Lombok
Antara • 09 Juli 2019 21:23
Lombok: Pembangunan rumah tahan gempa (RTG) di kawasan wisata Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, terkendala biaya. Penyebabnya, harga biaya angkut material ke kawasan tersebut sangat besar.
 
Kawasan tersebut yakni Gili Trawangan, Meno, dan Gili Air yang terdampak gempa pada akhir Juli hingga Agustus 2018.
 
"Ada 68 unit di tiga Gili, yang belum sama sekali dilakukan pembangunannya karena terkendala masalah biaya angkut material yang sangat besar dan tidak cukup dari dana stimulan yang diberikan kepada masyarakat," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB Ahsanul Khalik di Lombok Utara, Selasa, 9 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Untuk kendala di Gili tersebut, Ahsanul akan membahas secara khusus dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Bupati Lombok Utara. Pihaknya akan mencari solusi terbaik bagi kendala tersebut.
 
Menurut Ahsanul Khalik, meski masih terkendala di kawasan tiga Gili, progres pembangunan unit RTG bagi para korban gempa bumi 2018 di wilayah Kabupaten Lombok Utara, ternyata lebih cepat daripada data resmi BPBD NTB.
 
Kondisi pembangunan RTG yang sangat progresif itu ditemukan dalam tinjau lapangan yang dilakukan ke sejumlah kecamatan di Lombok Utara.
 
“Dari perjalanan ke Lombok Utara progres pembangunan RTG secara umum sangat baik, dan temuan lapangan kami, data resmi yang kita miliki bersama TNI-Polri (ternyata) berbeda dengan kondisi lapangan," kata Ahsanul.
 
Data BPBD NTB melansir jumlah RTG yang sudah rampung dan masih dikerjakan pembangunannya mencapai 31 persen dari total rumah rusak berat (RB), 44 ribu yang tercatat di Lombok Utara. Sementara, kondisi di lapangan jumlah RTG yang sudah rampung dan yang masih dikerjakan pembangunannya sudah mencapai 80 persen.
 
"Yang kita lihat di lapangan faktanya yang sedang proses pengerjaan dan hampir selesai itu sudah hampir 70-75 persen. Artinya, progres untuk Lombok Utara saat ini sudah pada angka 80 persen lebih," ujarnya.
 
Ahsanul mengatakan, kondisi lapangan yang lebih cepat daripada data BPBD terjadi karena ternyata belum semua fasilitator pendamping melaporkan progresnya kepada TPK maupun BPBD NTB.
 
Menurutnya, pola swakelola dan kegotong-royongan yang dilakukan masyarakat korban gempa di Lombok Utara menjadi salah satu pemicu percepatan realisasi pembangunan RTG di daerah tersebut.
 
"Bisa cepat karena masyarakat yang pakai sistem swakelola dan gotong royong sangat banyak di Lombok Utara. Pembangunan secara swakelola ini tetap ada pendampingan dari fasilitator, hanya saja fasilitator belum menyampaikan progresnya ke TPK maupun ke BPBD, sehingga data berbeda,"katanya.

 

(KIE)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif