Kebangkitan sektor ini dinilai bakal memiliki andil dalam pemulihan perekonomian. Foto: Shutterstock
Kebangkitan sektor ini dinilai bakal memiliki andil dalam pemulihan perekonomian. Foto: Shutterstock

Sektor Properti Berkontribusi Pulihkan Ekonomi

Properti investasi properti perumahan bisnis properti Investasi Rumah
Media Indonesia • 14 Juli 2020 09:37
Jakarta: Era kenormalan baru (new normal) di masa pandemi covid-19 membawa angin segar bagi sektor properti. Kebangkitan sektor ini dinilai bakal memiliki andil dalam pemulihan perekonomian nasional yang terpuruk akibat pandemi.
 
"Pandemi covid-19 membuat developer yang memiliki rencana pengembangan memilih menghentikan kegiatan. Pada era new normal kali ini, para developer mulai bangkit dari keterpurukan," ungkap Direktur Eksekutif Jakarta Property Institute Wendy Haryanto dalam webinar, Selasa, 14 Juli 2020.
 
Ia menjelaskan langkah pemulihan aktivitas perekonomian yang kondusif pascapembukaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) bisa dimulai dengan pemberian fleksibilitas bagi developer yang bersedia membangun setidaknya dalam tiga tahun mendatang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hal ini penting mengingat sektor properti memiliki andil untuk membangkitkan perekonomian yang terpuruk akibat pandemi covid-19. Pada 2018, misalnya, sektor properti menyerap tenaga kerja di Jakarta sebanyak 425 ribu orang.
 
Selanjutnya, pada 2019 industri konstruksi dan realestat menyumbang terhadap perekonomian Jakarta sebesar 17,61 persen. Sektor konstruksi dan realestat tahun lalu juga menyumbang penanaman modal dalam negeri di Jakarta sebesar 23,9 persen atau setara Rp14,8 triliun.
 
"Adapun nilai penanaman modal asing dari kedua industri itu sekitar 28,3 persen atau setara dengan Rp17,5 triliun," kata dia.
 
Dengan potensi ini, jelas Wendy, sektor properti bisa membangkitkan ekonomi dengan dukungan pemerintah daerah setempat, seperti kebijakan perizinan penambahan intensitas bangunan maupun kebijakan lain seperti keringanan berupa diskon pajak bumi dan bangunan (PBB).
 
“Diperlukan juga inovasi kebijakan yang mampu membuat efek perbaikan ekonomi dalam jangka lebih panjang," ucap Wendy.
 
Selain itu, lanjut dia, fleksibilitas penting diberikan agar developer yang sudah memiliki rencana pengembangan melanjutkan kegiatan mereka. Kebijakan pemberian fleksibilitas bisa berupa diskresi gubernur yang mengizinkan penambahan intensitas bangunan dari nilai yang tercantum dalam Perda No 1/2014 tentang Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi.
 
“Adapun untuk pelaku usaha atau developer, penambahan intensitas bangunan berarti tambahan ruang usaha,” pungkasnya.
 
Berefek Ganda
 
Hal serupa diungkapkan Adjunct Associate Professor SBM ITB Aries Firman. Menurut dia sektor properti memiliki keterkaitan dengan sektor lain seperti manufaktur dan jasa yang mencakup backward dan forward linkages. Keterkaitan itu akan menimbulkan efek berganda pada perekonomian daerah dan nasional.
 
Sementara itu, Senior Advisor Bidang Strategy & Transactions Ernst & Young Bernardus Djonoputro mengatakan disrupsi akibat pandemi covid-19 membuat pemerintah pusat dan daerah harus berfokus pada tiga hal menurut survei Ernst & Young di 136 negara.
 
Ketiganya ialah pengendalian darurat pandemi, persiapan penurunan ekonomi global, dan penyiapan stimulus. "Industri properti dan konstruksi serta semua rantai pasoknya jadi sektor penting dalam menggerakkan ekonomi pascapandemi," ujarnya.
 

(KIE)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif