Cerita serial tersebut mengangkat kasus pembunuhan brutal Jose dan Mary Louise “Kitty” Menendez oleh putra mereka, Lyle dan Erik Menendez.
Rumah yang terletak di Beverly Hills tersebut sudah dibangun sejak 1927. Namun, rumah ini didesain ulang oleh Mark Slotkin dan istrinya seorang aktris, Robin Greer yang merupakan teman keluarga Menendez di 1974.
Slotkin merenovasi enam kamar tidur, delapan kamar mandi, dan ruangan seluas 9.063 kaki persegi, seperti yang dijelaskan oleh Greer dalam buku You'll Never Make Love in This Town Again pada 1995.

Rumah Menendez Bersaudara di Beverly Hills. Foto: Realtor.com
Setelah perceraian pasangan tersebut, Slotkin menjual rumah itu kepada Jose Menendez yang merupakan seorang pengusaha sukses dan eksekutif hiburan seharga USD4 juta di 1988.
Melansir laman elledecor.com, pembunuhan terjadi malam hari pada Agustus 1989. Jose Menendez dan istrinya, Kitty ditemukan tertembak beberapa kali dari jarak dekat di ruang keluarga mereka. Awalnya, penyidik menduga adanya keterlibatan mafia dalam kasus brutal pembunuhan tersebut.
Ternyata, pelakunya merupakan putra pasangan tersebut, Lyle (21) dan Erik (18) telah merencanakan pembunuhan orang tua mereka. Jaksa menggambarkan kedua bersaudara itu sebagai pembunuh berdarah dingin yang ingin menguasai harta orang tua mereka senilai USD14,5 juta (Rp219 miliar).
Sementara itu, pembela berpendapat Lyle dan Erik merupakan korban kekerasan fisik, emosional, dan seksual oleh orangtua mereka. Saat penyelidikan berlangsung dan persidangan dimulai, rumah besar tersebut menjadi bukti utama.
Mark Slotkin, maestro real estat yang mendesain ulang rumah besar itu telah berperan penting dalam strategi pembelaan kasus. Slotkin bersaksi mengenai properti kedap suara yang telah dipasangnya di rumah besar itu.

Rumah Menendez Bersaudara di Beverly Hills. Foto: Realtor.com
Properti itu bisa menantang klaim seorang pembantu selama persidangan yang mengatakan dirinya mendengar pertengkaran keluarga sebelum kejadian tragis itu.
Pada 1996, juri memutuskan Lyle dan Erik Menendez bersalah atas pembunuhan tingkat pertama. Kedua bersaudara tersebut dijatuhi dua hukuman penjara seumur hidup berturut-turut tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat.
Dulunya, nilai properti yang pernah didambakan dalam real estat. Nilai properti menjadi anjlok akibat tragedi tersebut. Namun, pengacara dari ahli waris orang tua Menendez menyesali dokumen pengadilan yang mengatakan kepada pembeli rumah, para pialang, dan agen real estat mengataka rumah ini memiliki 'karma buruk,' dan harus dihindari.
Stigma dokumen ini membuat nilai jual rumah menjadi anjlok. Meski dinilai sebesar USD4,8 juta (Rp72 miliar) pada 1991, rumah itu dijual hanya dengan USD3,6 juta (Rp54 miliar) pada tahun yang sama.
Pemilik baru
Rumah besar itu menemukan pemilik berikutnya bernama William Link, salah satu kreator serial TV terkenal Murder, She Wrote. Pada 1993, Link membeli properti itu dengan jumlah yang tidak dapat diungkapkan.Sebelum dijual kepada eksekutif telekomunikasi Sam Delug seharga USD3,7 juta (Rp56 juta) pada 2001, Link menyebutkan Delug tampaknya tidak terpengaruh dengan sejarah kelam properti tersebut. Ia mulai renovasi besar-besaran dan memberikan kehidupan baru ke rumah tua itu dengan memperindah bagian luarnya.
Pada 2024, rumah besar Menendez kembali menarik perhatian publik. Properti itu terjual dengan harga yang sangat tinggi, yaitu USD17 juta (Rp258 miliar) atau lebih dari empat kali lipat harga yang dibayarkan oleh Delug pada 2001.
Penjualan tersebut ditutup pada 20 Maret tepat peringatan 28 tahun hukuman bagi saudara-saudara Menendez. Awalnya, rumah itu terdaftar seharga USD19.999.500 (Rp303 miliar), tetapi diskon hampir USD3 juta (Rp45 miliar) sebelum terjual.

Rumah Menendez Bersaudara di Beverly Hills. Foto: Realtor.com
Presiden Strategic Property Analytics dan penilai forensik, Orell Anderson memperkirakan bahwa rumah besar itu terjual sekitar 25 persen di bawah harga pasarnya.
“Itu benar-benar ilmu hitam yang muncul saat membeli rumah untuk ditinggali bersama keluarga yang dapat membuat orang merasa takut," kata Anderson kepada Realtor.com.
Di balik pagar tanaman dan pohon sycamore yang dipangkas rapi, rumah tersebut memiliki selasar dua lantai dengan lantai batu kapur, ruang biliar berpanel kayu, dan ruang tamu dengan jendela bergaya Palladian. Ruang kerja sebagai tempat pembunuhan terjadi, kini menjadi wet bar yang jauh dari masa lalu suram.

Rumah Menendez Bersaudara di Beverly Hills. Foto: Realtor.com
Fasilitas properti tersebut masuk dalam daftar keinginan orang-orang yang sangat kaya, seperti lapangan tenis pribadi, kolam renang, wisma tamu dua lantai, taman mawar di halaman belakang, dan gudang anggur dengan ruang mencicipi.
Tempat yang berlokasi seperti di Beverly Hills, memang sudah sepantasnya rumah setenar ini dapat melakukan renovasi kembali. (Theresia Vania Somawidjaja)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News