Ilustrasi. (FOTO: Media Indonesia)
Ilustrasi. (FOTO: Media Indonesia)

Pasar Perhotelan Tanah Air Bangkit

Properti investasi properti hotel
Rizkie Fauzian • 13 Maret 2019 08:46
Jakarta: Volume transaksi perhotelan di Asia Pasifik diperkirakan akan tumbuh 16 persen dibandingkan tahun lalu. Tahun ini diperkirakan transaksinya mencapai USD9,5 miliar atau setara Rp135 triliun.
 
Laporan Konsultan Real Estate International, JLL, mencatat kegiatan transaksi perhotelan tahun lalu didorong oleh perdagangan single-asset yang menghasilkan 83 persen atau USD8,3 miliar setara Rp118 triliun.
 
"2018 adalah tahun pemulihan bagi pasar hotel utama di Indonesia dengan kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya yang hampir mencapai siklus akhir pembangunan," kata Senior Vice President JLL Hotels & Hospitality Group Corey Hamabata dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 13 Maret 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Berbeda dengan dua kota tersebut, Bali justru memperlihatkan pemulihan yang sangat cepat dan substansial setelah terjadinya letusan Gunung Agung pada akhir 2017. Sehingga volume transaksi di Indonesia meredam dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
 
"Tetapi tahun ini, kami mencatat adanya pertumbuhan kegiatan dari para investor luar negeri serta tipe investor penanam modal dalam mengantisipasi pemulihan pasar-pasar ini. Kami harapkan kegiatan transaksi akan meningkat pada tahun ini dan tahun-tahun berikutnya," jelasnya.
 
JLL berharap para investor yang melirik pasar Asia Pasifik akan memperhitungkan berkurangnya kenaikan pendapatan sebagai faktor dalam asumsi valuasi. Namun, likuiditas di kota-kota besar serta tuntutan imbal balik yang lebih rendah justru akan mendorong meningkatnya volume transaksi.
 
Pada sisi global, tingkat hunian hotel dan kinerja properti yang mendasarinya akan tetap kuat sementara industri traveling dan pariwisata bersiap membukukan rekor tahunan. Semakin banyak investor yang mencari keuntungan lebih banyak, mengalihkan pandangannya ke sektor hotel meskipun ada proyeksi pertumbuhan ekonomi yang lebih lamban serta ketidakpastian geopolitik.
 

(KIE)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif