Deretan gedung perkantoran dengan latar depan pemukiman padat di Tanah Abang, Jakarta Pusat. MI/Galih Pradipta
Deretan gedung perkantoran dengan latar depan pemukiman padat di Tanah Abang, Jakarta Pusat. MI/Galih Pradipta

Rupiah melemah, bagaimana bisnis perkantoran?

Properti investasi properti bisnis properti
Rizkie Fauzian • 06 September 2018 16:00
Jakarta: Kondisi sektor perkantoran dalam beberapa tahun terakhir masih stagnan. Permintaan ruang kantor semakin menyusut sehingga menurunkan tarif sewa per meter persegi. Lantas apakah pelemahan rupiah mempengaruhi bisnis perkantoran?
 
"Dampaknya pasti ada. Terutama yang mengenakan tarif rupiah pasti akan terasa, tetapi di sisi lain harga pasaran sewa belum bisa naik terlalu tinggi," kata CEO Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda kepada Medcom.id.
 
Menurutnya dampak pelemahan rupiah belum akan terlihat dalam waktu dekat. Bila akhirnya harga sewa perkantoran semakin tertekan, hal itu bukan terjadi karena pelemahan rupiah tetapi lebih karena adanya pergeseran.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kantor sewa tertekan karena mulai terjadi pergeseran ke gedung-gedung baru dan suburban seperti munculnya coworking space," jelasn Ali
 
Meski kehadiran coworking space menambah konstribusi pada tingkat keterisian, namun belum dapat menurunkan tingkat kekosongan sektor perkantoran. Hingga saat ini, permintaan ruang perkantoran masih rendah bila dibandingkan dengan tahun boomingnya properti.
 
Data Savills Indonesia hingga semester I-2018, menunjukkkan perkantoran CBD telah menurunkan tarif sewa di semua kelas. Penuruanannya rata-rata mencapai 3,6 persen, yakni di kisaran Rp 200-an ribu per meter persegi. Sementara kawasan non-CBD harganya relatif stabil di Rp 100-an ribu per meter persegi.
 

 

(LHE)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif