Prediksi Properti 2019: Bisnis Melambat, KPR FLPP Tumbuh

Yanurisa Ananta 16 November 2018 13:14 WIB
bisnis properti
Prediksi Properti 2019: Bisnis Melambat, KPR FLPP Tumbuh
Seorang wiraniaga menjelaskan proyek rumah susun TOD kepada seorang calon pembeli dalam sebuah pameran properti di Jakarta. Antara Foto/Dhemas Reviyanto
Jakarta:Meski pertumbuhan sektor properti diprediksi melambat tahun depan, penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi atau Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tetap akan bertumbuh. Permintaan pasar skema pembiayaan bersubsidi ini masih cukup kuat.

Pertumbuhan terbesar diyakini datang dari segmen menenah, yaitu rumah dengan rentang harga Rp 300 juta hingga Rp 500 juta. Pertumbuhannya pada 2019 diperkirakan bahkan bisa mencapai 200 persen dibanding tahun ini.


"Rumah harga Rp 500 juta tumbuhnya 200%. Sementara untuk Rp 1 miliar masih tumbuh tapi tidak sekencang yang FLPP, cenderung stagnan dan di atas Rp 2 miliar bahkan cenderung negatif," ungkap Executive Vice President Consumer Loans Bank Mandiri, Ignatius Susatyo Wijoyo di Plaza Mandiri, Kamis (15/11/2018).

Secara total pertumbuhan penyaluran KPR kemungkinan akan datar. Pasarnya tetap ada namun lebih untuk segmen tertentu, yaitu KPR FLPP seiring bertambahnya populasi keluarga muda dan pencari rumah pertama.

"KPR pertama sebenarnya boleh tanpa DP, tapi tidak semua pengembang mau tanpa DP karena butuh jaminan kalau sampai default mereka harus beli balik. Jadi kita siapkan khusus nasabah payroll Mandiri kalau mau ambil KPR tidak bayar DP," ujar Ignatius.

Untuk bunga kredit tahun depan pun masih akan menyesuaikan dengan suku bunga yang dipatok Bank Indonesia (BI). Kenaikannya diprediksi tidak akan hingga 1 persen dengan gerakan kenaikan suku bunga hanya sekitar 25-50 basis point.

Kendati demikian, kenaikan suku bunga bukan hal sensitif bagi nasabah KPR FLPP. Walau bunga akan mengikuti namun tidak terlalu sensitif dampaknya terutama untuk rumah maksimal seharga Rp 500 juta.

"Mereka lebih sensitif terhadap disetujui atau tidaknya permohonan KPR. Kecuali rumah Rp 2 miliar, itu bunganya besar. Kalau harga rumah Rp 500 juta selisih bunga tidak terlalu besar," imbuhnya.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP Real Estate Indonesia (REI) Bambang Eka Jaya mengatakan, pasar FLPP merupakan pasar yang tidak terbatas. Selain untuk kebutuhan dasar, properti merupakan instrumen investasi pilihan terbaik.

Meski akan mengalami pelambatan, pada 2019 sektor properti akan tetap menjadi lokomotif ekonomi Indonesia. "Begitu properti bergerak, lebih dari 140 industri terkait ikut bergerak. Bukan cuma pabrik semen, besi bahkan gorden, lampu, kulkas, mobil dan motor," paparnya.

Di Singapura, lanjut Bambang, FLPP menjadi tanggung jawab pemerintah. Sementara, di Indonesia FLPP dilakukan sebagai bisnis. Di Indonesia, sebesar 70 persen pengembang adalah pengembang FLPP.

"Itu menunjukkan bahwa potensi FLPP masih akan ada. Di tingkat dunia kita gaungkan FLPP itu." pungas Bambang.

 



(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id