Kunjungan ini menyoroti pengembangan hunian terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang dinilai sebagai bagian dari upaya memperluas akses kepemilikan rumah di Indonesia.
"Ini adalah terobosan yang sangat penting. Hunian berkualitas dengan harga terjangkau seperti ini adalah kunci untuk membuka akses kepemilikan rumah bagi masyarakat luas. Ini bukan hanya tentang rumah, tetapi tentang masa depan dan martabat," kata Maruarar.
Proyek HWB Purwakarta menawarkan harga yang relatif lebih rendah dibandingkan skema rumah subsidi pada umumnya. Unit satu kamar tidur ditawarkan mulai Rp98 juta, sementara dua kamar tidur mulai Rp115 juta. Angka ini berada di bawah kisaran harga rumah subsidi FLPP yang umumnya di atas Rp160 juta.
Selain harga, pengembang juga menawarkan skema cicilan ringan. Untuk tahap awal, cicilan bahkan disebut dapat dimulai dari kisaran Rp170 ribu per bulan dalam periode tertentu, sebelum menyesuaikan ke cicilan reguler sekitar Rp500 ribuan per bulan.
Konsep kawasan dan respons pasar
Pengembangan ini mengusung konsep kawasan terencana dengan fasilitas dasar dan pendekatan komunitas. Proyek yang mulai dikembangkan sejak pertengahan 2025 ini resmi dipasarkan pada Maret 2026 melalui sistem pre-selling.Dalam waktu singkat, penjualan diklaim telah menembus lebih dari 1.500 unit. Capaian tersebut menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap hunian dengan harga terjangkau di kawasan industri.
Purwakarta dikenal sebagai salah satu wilayah industri di Jawa Barat dengan ribuan pabrik yang beroperasi di sekitarnya. Letaknya yang berada di antara Jakarta dan Bandung serta didukung akses tol menjadikan kawasan ini memiliki daya tarik tersendiri bagi pekerja.
“Purwakarta siap menjadi contoh. Ini adalah pembangunan yang tidak hanya membangun rumah, tetapi membangun kehidupan dan masa depan masyarakat Jawa Barat," ungkap Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Kebutuhan hunian dekat tempat kerja menjadi salah satu faktor pendorong tingginya permintaan rumah di wilayah ini.
Dampak ekonomi dan tenaga kerja
Dari sisi ekonomi, proyek ini disebut memiliki nilai investasi sekitar Rp1,5 triliun. Pembangunan yang berjalan diperkirakan dapat menyerap ribuan tenaga kerja, terutama dari wilayah lokal.Penggunaan material lokal yang dominan juga dinilai berpotensi memberikan efek berganda terhadap perekonomian daerah, mulai dari sektor konstruksi hingga usaha pendukung lainnya.
“Kami mendukung penuh proyek ini. Ini membawa manfaat nyata lapangan kerja, investasi, dan harapan baru bagi masyarakat Purwakarta," kata Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein.
Kolaborasi pengembang
Proyek ini dikembangkan melalui kolaborasi antara HWB Group dan Lippo Cikarang sebagai bagian dari program pemberdayaan pengembang lokal, Iwang Prejadi, seorang pengembang FLPP.“Kami sangat bersyukur atas kepercayaan dan dukungan dari pemerintah, pemerintah daerah, dan Lippo. Ini adalah kesempatan bagi kami untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat," ujar Iwang.
Skema kerja sama ini dinilai sebagai salah satu model yang dapat mendorong percepatan pembangunan hunian terjangkau.
"Ini adalah contoh nyata bagaimana kolaborasi dan pemberdayaan dapat menghasilkan dampak besar. Kami bangga dapat berkontribusi dalam menghadirkan solusi perumahan yang nyata bagi masyarakat," Perwakilan Lippo Cikarang, Ketut Wijaya.
Sejumlah calon pembeli menyambut positif kehadiran hunian dengan harga lebih terjangkau. Faktor harga, cicilan ringan, serta lokasi menjadi pertimbangan utama dalam memilih hunian.
"Lingkungannya bagus, harganya terjangkau, dan cicilannya ringan. Ini kesempatan yang sangat besar bagi kami," Sunarsih.
Pengembangan Hunian Warisan Bangsa di Purwakarta menjadi salah satu contoh upaya menghadirkan rumah dengan harga lebih terjangkau di tengah kenaikan harga properti. Ke depan, model seperti ini berpotensi direplikasi di berbagai daerah untuk mendukung kebutuhan hunian masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News