3 Acuan harga properti
Rumah milik seorang tersangka kasus korupsi yang dalam status sita oleh KPK. Harga jual rumah sitaan dalam lelang setelah proses hukum kasusnya selesai, didasarkan keapda NJOP. Antara Foto/Risyal Hidayat
Jakarta: Selain nilai NJOP, belum ada patokan pasti tentang harga pasaran sebuah properti. Harga jual sepenuhnya ditentukan oleh si penjual dengan subyektifitasnya masing-masing.

Maka tak aneh bila ada beberapa property di kawasan yang sama dengan penjual berbeda, harganya akan berbeda pula. Ada yang mematok harga lebih tinggi karena yakin itulah nilai yang pantas, ada pula yang memasang bandrol rendah karena sedang BU alias butuh uang cepat.


Meski relatif 'gelap' setidaknya ada tiga hal yang bisa dijadikan acuan untuk menilai apakah harga yang ditawarkan terhitung murah atau terlalu mahal.

Lokasi

Property yang berada di kota besar, tentu harganya lebih tinggi dibanding kota kecil. Tapi meski di luar kota namun berada di daerah wisata yang ramai atau dekat kawasan industri dengan jumlah pekerja sangat banyak, harganya bisa saja setinggi rumah di tengah kota.

Kondisi bangunan

Kondisi fisik bangunan sangat berpengaruh. Bila rusak parah karena lama terbengkalai, pastilah harganya lebih rendah karena pembeli memperhitungkan biaya renovasi yang tidak kecil. Di dalam banyak kasus, malah yang dihitung hanya nilai lahan sementara bangunannya dinilai nol karena kondisinya.

Legalitas

Membeli property dengan status hukum 'samar-samar' sama artinya menabung masalah. Tak sedikit kasus pemilik baru property digugat oleh kerabat penjual karena property yang dijual adalah aset warisan yang belum selesai dibagi.

Maka bila kebetulan property yang diincar belum SHM -bahkan belum HGB- jangan ragu untuk menawar serendah-rendahnya. Apalagi bila masih berupa surat girik. Hindari membeli lahan dengan status tanah adat, bengkok apalagi wakaf.

 



(LHE)