Hunian dekat stasiun kereta meningkat. (Foto: Shutterstock)
Hunian dekat stasiun kereta meningkat. (Foto: Shutterstock)

Penyebab Harga Rumah di Depok Melejit

Properti sejuta rumah
Rizkie Fauzian • 22 Maret 2019 18:39
Jakarta: Hunian dekat stasiun kereta menunjukkan perkembangan yang pesat seiring kenaikan harga lahan di tengah kota Jakarta. Sebagai contoh, untuk sebuah unit apartemen tipe studio di kawasan Fatmawati setara dengan harga rumah semi mewah di kawasan pinggiran seperti Tangerang Selatan atau Depok.
 
“Oleh karena itu hunian baik perumahan ataupun apartemen yang berada dekat stasiun Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi kini menjadi incaran banyak orang karena keunggulannya tadi, harga rumah lebih terjangkau dan mudah menjangkau Jakarta,” ucap Head of Marketing Rumah.com Ike Hamdan, dalam keterangan tertulis, Jumat, 22 Maret 2019.
 
Hasil Rumah.com Property Index, terdapat empat wilayah penyangga DKI Jakarta yang dilalui jalur KRL yakni Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi. Dari empat wilayah tersebut kenaikan harga paling pesat terjadi di area Depok.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kenaikan harganya berdasarkan indeks naik sebesar 7,56 persen dibandingkan kuartal III 2018. Sementara itu, jika dibandingkan dengan kuartal yang sama pada 2017, indeks harga properti di Depok mencapai 16,35 persen,” katanya.
 
Depok dikenal sebagai kota komuter karena di wilayah ini terdapat setidaknya lima stasiun KRL yang menjadi bagian dari jalur commuter line Bogor menuju Jakarta dan sebaliknya. Transportasi umum commuter line ini sangat praktis karena bebas macet.
 
Sayangnya, perkembangan tata kota Depok yang kurang terstruktur membuat kota ini semakin lama semakin macet. Terutama di sekitar area Margonda, yang menjadi jalur penghubung utama menuju Jakarta Selatan. Hal ini membuat indeks harga properti Depok sempat stagnan.
 
Indeks harga properti Depok kembali menggeliat setelah kualitas KRL semakin baik. Hal lain yang berdampak makin meningkatnya indeks harga properti Depok adalah pembangunan jalur tol baru seperti Depok-Antasari (Jakarta Selatan) serta Cinere-Serpong (Tangerang Selatan). Kedua tol baru ini menjadi alternatif jalur antar kota selain via Margonda.
 
"Untuk wilayah lainnya, Bogor mengalami kenaikan sebesar 10,98 persen, Bekasi sebesar 10,19 persen, sementara Tangerang masih landai, hanya 1,07 persen. Tangerang relatif landai karena pembangunan infrastruktur transportasi tidak semasif wilayah lainnya, katanya.
 
Sementara itu, kenaikan indeks di Bekasi disebabkan oleh pembangunan sarana trasnsportasi Light Rail Transit (LRT) serta sejumlah ruas tol baru. Bogor dipengaruhi rencana pembangunan LRT dan dibukanya Tol Bocimi dan Tol Lingkar Luar.
 

(KIE)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif