Ketua Umum ASAKI, Edy Suyanto, mengatakan industri keramik nasional sempat menghadapi tekanan berat dalam beberapa tahun terakhir akibat membanjirnya produk impor dari sejumlah negara produsen.
“Comeback stronger melalui Keramika 2026 ini, setelah bertahun-tahun menghadapi tekanan yang berat, khususnya menghadapi unfair trade dan dumping dari produsen keramik China, demikian juga unfair trade dari India dan Vietnam,” ujar Edy dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, 25 Mei 2026.
Industri keramik masih hadapi tantangan
Selain tekanan impor, industri keramik nasional juga masih dibayangi tingginya biaya energi dan pasokan gas untuk kebutuhan produksi.Kondisi tersebut dinilai memengaruhi tingkat utilisasi industri dalam beberapa tahun terakhir. ASAKI mencatat utilisasi industri keramik nasional sempat mencapai sekitar 75 persen pada 2021 sebelum turun menjadi 66 persen pada 2024.
| Baca juga: Pameran Keramik 2026 Bakal Digelar di Jakarta |
“Menurut data terbaru, Januari sampai Mei utilisasi kita 72 persen. Satu persen di bawah rata-rata nasional tahun lalu, namun ASAKI masih optimistis di satu semester lagi,” kata Edy.
Industri keramik nasional mulai ekspansi
ASAKI mengacu pada data World Ceramic Tiles Forum yang menunjukkan produksi keramik dunia mencapai 15,9 miliar meter persegi pada 2021.Namun angka tersebut turun hampir 30 persen menjadi sekitar 11,3 miliar meter persegi pada 2024.
Di tengah perlambatan global tersebut, industri keramik nasional justru mulai melakukan ekspansi kapasitas produksi.
ASAKI mencatat penambahan kapasitas industri mencapai sekitar 73 juta meter persegi pada periode 2020 hingga 2024. Sementara pada 2025 hingga 2029 diproyeksikan kembali bertambah sekitar 90 juta meter persegi.
“2025 sampai tahun 2029 nanti ada tambahan lagi ekspansi kurang lebih 90 juta meter persegi,” ujar Edy.
Dengan demikian, total ekspansi industri keramik nasional hingga 2029 diperkirakan mencapai sekitar 165 juta meter persegi.
Pasar domestik jadi penopang utama
ASAKI menilai industri keramik nasional sebenarnya sudah mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri tanpa bergantung pada produk impor.“Kita sudah swasembada keramik. Tanpa impor pun, kita mampu memenuhi permintaan keramik dalam negeri,” kata Edy.
Meski demikian, ASAKI menilai pertumbuhan industri masih sangat bergantung pada pasar domestik karena kontribusi ekspor keramik nasional masih berada di bawah lima persen.
“Industri keramik nasional sangat domestic driven. Mati hidupnya industri keramik sangat tergantung permintaan domestik,” pungkasnya. (Syarifah Komalasari)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News