Uang muka kredit rumah kembali dilonggarkan. (Foto: Shutterstock)
Uang muka kredit rumah kembali dilonggarkan. (Foto: Shutterstock)

BI Longgarkan Uang Muka Rumah

Properti bank indonesia kpr
Ilham wibowo • 19 September 2019 18:00
Jakarta: Bank Indonesia (BI) melonggarkan ketentuan uang muka atau down payment (DP) melalui kebijakanrasio Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV) bagi properti dan kendaraan bermotor. Adapun penurunan uang muka bagi properti sebesar 5 persen dan kendaraan bermotor 10 persen.
 
"Kebijakan BI dilakukan dengan melonggarkan rasio Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV) untuk kredit/pembiayaan properti sebesar lima persen. Kemudian uang muka (DP) untuk kendaraan bermotor pada kisaran lima sampai 10 persen," kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers di kantor pusat Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis, 19 September 2019.
 
Perry mengatakan, akan ada tambahan keringanan di kedua sektor tersebut yang berwawasan lingkungan masing-masing sebesar lima persen.BI memandang kebijakan akomodatif di sektor tertentu perlu dilakukan.Sektor properti kemudian dipilih lantaran dinilai memiliki backward dan forward linkage yang tinggi terhadap perekonomian.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ketentuan tersebut berlaku efektif sejak 2 Desember 2019, kebijakan sistem pembayaran dan pendalaman pasar keuangan terus diperkuat guna mendukung pertumbuhan ekonomi," kata Perry.
 
Menurutnya, kebijakan ini dilakukan untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan melalui pembiayaan yang bersifat ramah lingkungan. BI menilai perlunya mengurangi gangguan terhadap stabilitas sistem keuangan bersumber dari kerusakan lingkungan.
 
Pelonggaran tersebut juga dilakukan dengan mempertimbangkan bahwa kemampuan debitur yang masih cukup tinggi. Selain itu, stabilitas sistem keuangan tetap terjaga disertai dengan risiko kredit yang terkendali dan fungsi intermediasi yang tetap berlanjut.
 
Perkembangan ini tercermin dari rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan Juli 2019 yang tetap tinggi yakni 23,1 persen, dan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) yang tetap rendah yakni 2,6 persen (gross) atau 1,2 persen (net).
 
Sementara itu, pertumbuhan kredit sedikit melambat dari 9,9 persen (yoy) pada Juni 2019 menjadi 9,6 persen (yoy) pada Juli 2019, terutama dipengaruhi terbatasnya permintaan kredit korporasi. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Juli 2019 sebesar 8,0 persen (yoy), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan Juni 2019 sebesar 7,4 persen (yoy).
 
"Stabilitas sistem keuangan yang terjaga juga ditopang kinerja korporasi go public yang tetap baik seiring kemampuan membayar yang tetap sehat," ungkapnya.
 
BI memandang bauran kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial yang akomodatif tersebut dapat mendorong pertumbuhan kredit tanpa mengganggu stabilitas sistem keuangan. Pertumbuhan kredit perbankan diprakirakan dalam kisaran 10-12 persen (yoy) pada 2019 dan 11-13 persen (yoy) pada 2020, sementara DPK diprakirakan dalam kisaran 7-9 persen(yoy) pada 2019 dan 8-10 persen (yoy) pada 2020.
 
"Bank Indonesia secara reguler akan melakukan evaluasi kebijkan tersebut paling kurang satu kali dalam satu tahun," pungkasnya.
 

(KIE)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif