Harga rumah mengalami penurunan, namun suplainya membeludak. Ilustrasi: Shutterstock
Harga rumah mengalami penurunan, namun suplainya membeludak. Ilustrasi: Shutterstock

Harga Properti Turun Terus, tapi Stok Membeludak

Properti investasi properti apartemen Bisnis Properti rumah tapak Investasi Rumah Harga rumah
Rizkie Fauzian • 07 Mei 2021 18:26
Jakarta: Penurunan indeks harga properti terjadi dalam tiga kuartal terakhir. Penurunan harga tersebut disertai dengan kenaikan indeks suplai secara nasional pada kuartal I-2021.
 
Rumah.com Indonesia Property Market Index (RIPMI) kuartal II-2021 menunjukkan indeks harga properti turun dalam tiga kuartal terakhir dan indeks suplai naik dalam dua kuartal terakhir.
 
Country Manager Rumah.com Marine Novita menjelaskan, data tersebut menunjukkan terjadinya penurunan harga properti. Namun, pasar properti nasional diperkirakan masih akan tetap stabil.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Apalagi ada hal lain yang dapat menjaga optimisme pasar properti di 2021 dengan masih tingginya pencarian properti pada kuartal I-2021 dibandingkan kuartal sebelumnya," jelasnya dalam laporan dikutip, Jumat, 7 Mei 2021.

Penurunan berturut-turut selama tiga kuartal 

Harga Properti Turun Terus, tapi Stok Membeludak
Rumah.com Indonesia Property Market Index – Harga (RIPMI-H) pada kuartal I-2021 berada pada angka 110,3, turun 0,4 persen dibanding Q4 2020 (quarter-on-quarter). 
 
Secara tahunan, indeks harga mengalami penurunan sebesar dua persen. Data RIPMI mencatat turunnya indeks harga properti terjadi di sejumlah provinsi. 
 
DKI Jakarta mengalami penurunan sebesar 0,4 persen, DI Yogyakarta turun sebesar 4,21 persen, dan Jawa Timur turun sebesar 1,64 persen.
 
Sementara itu, provinsi Jawa Barat, Banten, dan Jawa Tengah masih tetap solid dengan mencatatkan kenaikan indeks harga yaitu sebesar 0,5 persen (quarter-on-quarter) untuk Jawa Barat, 1,62 persen untuk Banten, dan 1,37 persen untuk Jawa Tengah. 
 
DKI Jakarta yang mengalami penurunan sebesar 0,4 persdn kuartalan terjadi merata di seluruh wilayahnya. Wilayah dengan penurunan harga terbesar adalah Jakarta Pusat, yang turun sebesar 1,52 persen pada kuartal pertama 2021. 
 
Sementara itu, Jakarta Selatan turun sebesar 1,19 persen. Jakarta Pusat, dan Jakarta Selatan merupakan kawasan properti kelas atas. 
 
"Kedua wilayah ini memiliki harga per meter persegi yang tertinggi di antara wilayah Jakarta lainnya. Penurunan harga di kedua wilayah ini masih terbilang wajar karena permintaan untuk harga di kisaran ini memang sedang rendah," jelasnya.
 
Menurut Marine, turunnya indeks harga properti kuartalan selama tiga kuartal berturut-turut bukan hal yang menggembirakan. Hal ini baru pertama kalinya terjadi sejak 2015. Meski demikian, Marine juga menegaskan bahwa pasar properti masih memiliki harapan.
 
“Harga properti yang tinggi di wilayah Jakarta tidak mampu dicapai oleh kebanyakan pencari properti hunian saat ini. Data Rumah.com menunjukkan permintaan properti hunian terbanyak masih berasal dari kisaran harga Rp300 juta-Rp1,5 miliar. Sementara harga properti hunian di Jakarta saat ini dimulai dari Rp2,2 miliar ke atas," ujar Marine.

Properti yang belum terjual semakin banyak

Harga Properti Turun Terus, tapi Stok Membeludak
Sementara Rumah.com Indonesia Property Market Index – Suplai (RIPMI-S) berada pada angka 178,2. Indeks menunjukkan pertumbuhan suplai properti sebesar 8,4 persen secara kuartalan pada kuartal I-2021. 
 
Pertumbuhan suplai ini melambat jika dibandingkan kuartal IV-2020 yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 13,6 persen (quarter-on-quarter).
 
Data RIPMI-S menunjukkan bahwa suplai properti residensial terbesar pada kuartal I-2021 masih datang dari DKI Jakarta, yakni sebesar 32 persen dari total suplai nasional. 
 
Sementara itu, Jawa Barat menyumbang suplai sebesar 30 persen, diikuti Banten sebesar 17 persen, dan Jawa Timur 12 persen.
 
Menurut Marine, meskipun pada kuartal I-2021 terjadi pertumbuhan suplai properti,namun kondisi ini melambat jika dibandingkan kuartal sebelumnya. Perlambatan pertumbuhan suplai properti bisa disebabkan oleh sikap wait and see para pengembang.
 
"Kuartal sebelumnya sepertinya menjadi momen, pengembang dan penyedia suplai meluncurkan suplai propertinya yang sempat tertahan sejak kuartal kedua 2020 akibat pandemi. Karena itu, kita melihat lonjakan suplai yang cukup besar. Sementara kuartal I-2021 ini menjadi fase ‘normalisasi’, pengembang fokus untuk memasarkan suplai yang masih tersisa dari kuartal sebelumnya," jelasnya.

 
(KIE)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif