Suku bunga dan biaya kontruksi membuat harga apartemen naik di Australia. Foto: Crown Group
Suku bunga dan biaya kontruksi membuat harga apartemen naik di Australia. Foto: Crown Group

Kenaikan Biaya Konstruksi Tak Pengaruhi Pasar Apartemen Australia

Rizkie Fauzian • 24 Mei 2022 10:35
Jakarta: Kenaikan biaya konstruksi dan suku bunga di Australia diprediksi membuat harga properti naik. Kenaikan biaya konstruksi terjadi karena keterbatasan pasokan bahan baku dan kurangnya tenaga kerja.
 
Komisaris dan CEO Crown Group Iwan Sunito mengatakan konsumen harus bersiap menghadapi kenaikan harga apartemen secara progresif selama beberapa tahun ke depan.
 
"Kami melihat peningkatan persentase dua digit dalam biaya pembangunan apartemen di masa mendatang," katanya dalam keterangan tertulis, Selasa, 24 Mei 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hal tersebut, membuat banyak investor kembali ke pasar karena harga sewa apartemen semakin meningkat. Para investor juga mengimbangi kenaikan suku bunga dengan kenaikan harga sewa.
 
"Ketersediaan unit apartemen ‘off the plan’ dan apartemen yang sudah selesai dibangun semakin berkurang dari hari ke hari yang merupakan tanda bahwa owners-occupiers dan investor sangat aktif di pasar saat ini," jelasnya.
 
Menurutnya, hal tersebut membuat konsumen bergegas membeli properti sekarang untuk menghindari kenaikan harga dua digit yang diakibatkan naiknya biaya konstruksi dan material serta keterbatasan tenaga kerja.
 
"Terutama bagi investor properti luar negeri dari Tiongkok dan Indonesia yang ingin mendapatkan stok unit apartemen yang sudah selesai sebagai investasi properti melalui penawaran harga yang terjangkau," ujarnya.
 
Iwan Sunito percaya bahwa saat ini adalah waktu terbaik untuk melakukan pembelian properti pascapandemi karena pasar properti Sydney tidak pernah berhenti bergerak maju. Masyarakat Indonesia adalah komunitas investor terbesar kedua bagi Crown Group. 
 
"Mereka (investor) yang sedang mempertimbangkan untuk mengakuisisi unit apartemen harus bertindak sekarang dengan membeli dari pengembang tepercaya dengan rekam jejak yang jelas dalam menghasilkan apartemen berkualitas secara tepat waktu dan sesuai anggaran," jelasnya.
 
Australia masih mengalami housing shortage, sementara pertumbuhan penduduk Australia semakin bertambah. Saat ini jumlah penduduk Australia adalah 26 juta jiwa dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 1 persen setiap tahunnya. 
 
Menurut data dari Treasury.gov.au dengan tren saat ini jumlah penduduk Australia diprediksi akan mencapai 35,9 juta jiwa pada tahun 2050. Dampak penutupan perbatasan internasional terkait pandemi covid-19 mengakibatkan penurunan jumlah migrasi selama enam kuartal secara berturut-turut. 
 
Berdasarkan Biro Statistik Australia, pada akhir Juni 2019, 88.740 orang kelahiran Indonesia tinggal di Australia capai 29,4 persen, lebih banyak dari jumlah Juni 2009. Ini adalah salah satu komunitas migran terbesar di Australia, setara dengan 1,2 persen komunitas migran Australia dan 0,3 persen dari total populasi Australia.
 
Pembeli potensial telah memperkirakan kenaikan tarif untuk beberapa waktu dan telah mengantisipasinya dengan memiliki tabungan tambahan, dikarenakan pandemi dan pengetatan ikat pinggang. Diperkirakan bahwa rumah tangga Australia berhasil menghemat sekitar Rp1.400 triliun selama pandemic covid-19.
 
"Pasokan hunian yang terbatas dan peningkatan jumlah pembeli berarti banyak konsumen yang tidak sanggup memiliki rumah tapak dan  unit apartemen adalah pilihan yang lebih terjangkau. Saya meyakini skenario ini hanya akan semakin parah dalam dua tahun ke depan dimana akan lebih banyak unit apartemen yang akan terjual dibandingkan rumah tapak," ungkapnya.
 
(KIE)



LEAVE A COMMENT
LOADING
social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif