Suasana sebuah co-working space di London. Para pelanggannya mayoritas adalah pelaku usaha rintisan. AFP Photo/Daniel Leal-Olivas
Suasana sebuah co-working space di London. Para pelanggannya mayoritas adalah pelaku usaha rintisan. AFP Photo/Daniel Leal-Olivas

2019, Tahunnya Co-Working Space

Properti perkantoran bisnis properti
Rizkie Fauzian • 22 Januari 2019 08:08
Jakarta:Sektor perkantoran diperkirakan masih tertekan hingga tahun ini karena pasokan berlebih. Namun munculnya ruang kerja fleksibel seperti co-working space menarik minat banyak investor.
 
"Pada 2030, ruang kerja yang fleksibel akan mencapai 30 persen dari portofolio perusahaan-perusahaan properti komersial dunia," kata Head of Asia Pacific Research JLL, Megan Walters dalam surat elektronik.
 
Hal ini membuat konsolidasi pasar akan semakin sering terjadi, misalnya pemilik properti serta pengembang akan mulai menawarkan ruang fleksibel milik sendiri. Selain itu, bisa juga membentuk usaha bersama dengan perusahaan co-working.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kita juga bisa melihat misalnya dari merger dan akuisisi yang terjadi antar perusahaan-perusahaan co-working tersebut," ungkap Walters.
 
Tak hanya itu, semakin banyak perusahaan yang menggunakan ruang kerja bersama sebagai cara untuk mengembangkan inovasi di antara para karyawan. Hal tersebut juga dinilai bisa memenangkan persaingan dalam merekrut karyawan berbakat.
 
"Fokus baru dalam meningkatkan pengalaman sumber daya manusia ini telah menyebabkan peningkatan dalam penggunaan ruang kantor yang fleksibel termasuk co-working dan serviced offices di seluruh wilayah," jelasnya.

 

(LHE)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif